Peneliti Menguji Dampak Radiasi Ponsel

Para ilmuwan menjelaskan tingkat radiasi dan durasi hewan yang terpapar jauh lebih besar daripada yang dialami manusia.

BERITA , INTERMEZZO

Senin, 05 Nov 2018 21:47 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Peneliti Menguji Dampak Radiasi Ponsel

Ilustrasi. (Foto: Quora)

KBR - Ponsel memang membuat komunikasi menjadi lebih mudah dan nyaman. Namun, menurut laporan terbaru, radiasi dari perangkat ponsel bisa berbahaya.

Para peneliti dari National Toxicology Program baru-baru ini melakukan penelitian untuk mengeksplorasi hubungan antara ponsel dan kanker otak. Untuk melakukannya, mereka membutuhkan waktu beberapa dekade dan menghabiskan biaya sebesar $30 juta. Dan, disebutkan bahwa ini adalah eksperimen terbesar dan termahal di dunia. 

Para peneliti memeriksa 30 ribu tikus yang dikenai radiasi sembilan jam dalam sehari selama dua tahun. Paparan tersebut dimulai sebelum tikus lahir dan berlanjut sampai mereka berusia sekitar 2 tahun.

Setelah menganalisis hasilnya, para peneliti menemukan bahwa 2 hingga 3 persen dari tikus jantan yang terkena radiasi mengembangkan glioma ganas, kanker otak yang mematikan. Penelitian juga menemukan bahwa 5 hingga 7 persen tikus jantan yang terkena radiasi tingkat tinggi mengembangkan tumor jantung.

Namun, tidak ada hubungan yang jelas antara radiasi dan tumor di antara tikus betina.

"Kami percaya bahwa hubungan antara radiasi frekuensi radio dan tumor pada tikus jantan adalah nyata, dan para ahli eksternal setuju," kata salah seorang penulis, John Bucher dalam sebuah pernyataan.

Namun, para ilmuwan menjelaskan tingkat radiasi dan durasi hewan yang terpapar jauh lebih besar daripada yang dialami manusia.

Dilansir dari NYtimes, tikus-tikus dalam penelitian itu dikenai radiasi pada frekuensi 900 megahertz, khas dari generasi kedua ponsel (2G dan 3G) yang berlaku pada 1990-an, ketika studi ini pertama kali dilakukan . Sementara, ponsel saat ini menggunakan teknologi 4G.

Menurut para peneliti, ponsel 4G ataupun 5G menggunakan frekuensi yang jauh lebih tinggi. Selain itu, gelombang radio tersebut kurang berhasil menembus tubuh manusia dan tikus.

"Eksposur yang digunakan dalam studi tidak dapat dibandingkan langsung dengan paparan yang dialami manusia saat menggunakan ponsel," kata Bucher.

Dalam penelitian ini, Bucher mengatakan tikus-tikus menerima radiasi frekuensi radio di seluruh tubuh. Padahal, sebagian besar orang-orang terpapar radiasi hanya di beberapa tempat yang dekat saat memegang ponsel.

"Tingkat paparan dan durasi dalam penelitian kami lebih besar dari apa yang orang alami," tambahnya.

Pada pertemuan konselor ilmiah untuk agen toksikologi, Donald Stump, salah satu anggotanya, khawatir penelitian ini akan rentan dikritik. Bahwa penelitian tersebut dilakukan menggunakan teknologi yang ketinggalan zaman. 

Ia pun mengatakan tantangannya adalah bagaimana melakukan eksperimen yang cukup besar dan signifikan namun cukup gesit untuk mengimbangi perangkat yang terus berkembang pesat.

Para peneliti saat ini berharap untuk melanjutkan penyelidikan mereka dengan menggunakan teknologi yang paling mutakhir. Dengan begitu, bakal lebih mudah pula untuk mengevaluasi data dalam beberapa pekan atau bulan dibanding harus menghabiskan waktu bertahun-tahun.




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.