KBR Prime, Gunakan Suaramu Untuk Perubahan

Podcast Berita KBR Prime, memberi jawaban yang ditawarkan KBR bagi banyak orang yang sibuk tapi tetap ingin update informasi setiap saat.

INTERMEZZO , BERITA

Kamis, 15 Nov 2018 17:14 WIB

Author

Eka Jully

KBR Prime, Gunakan Suaramu Untuk Perubahan

Suasana Talkshow

KBR, Jakarta - KBR meluncurkan aplikasi podcast berita pertama dan satu-satunya di Indonesia, KBR Prime di Jakarta, Rabu (14/11/2018). Secara sederhana, podcast adalah file suara atau audio yang bisa didengarkan secara digital. 

Pemimpin Redaksi KBR Citra Dyah Prastuti menjelaskan, kehadiran podcast berita ini tak lepas dari pengalaman KBR yang hampir 20 tahun di bidang radio dan jurnalisme. “Ini adalah jawaban kami untuk tantangan digital,” jelas Citra di program siaran KBR Pagi, Kamis (15/11/2018). “Karena podcast berita ini bisa didengar kapan saja dan di mana saja. Jadi pendengar tak ketinggalan informasi.”

KBR Prime menghadirkan program-progam berita berkualitas khas KBR yang digarap dengan standar jurnalistik tinggi. Jika selama ini program tersebut hanya bisa didengar di radio, dengan jadwal tertentu, maka podcast berita ini tak terikat pada jadwal apa pun. Di KBR Prime ada perkembangan berita terbaru setiap jam, serta Saga, program feature radio yang mendapatkan banyak penghargaan. Selain itu ada juga podcast Ruang Publik, News Wrap Up dan lainnya. 

“KBR Prime juga diharapkan bisa menjadi rumah bagi para podcaster lainnya,” tambah Citra. Saat ini, sejumlah podcast lain bisa dinikmati di KBR Prime, seperti Magdalene’s Mind dari Magdalane, Sains Sekitar Kita dari The Conversation Indonesia, sampai podcast tentang asuransi dari Sequis, podcast Cek Fakta yang membahas hoax bersama Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), dan lainnya.  

Suasana Launching KBR Prime di Go Work FX Sudirman, Jakarta

“Drive Change Through Voices”

Suara dari publik bisa mendorong perubahan. Inilah yang menjadi tema dalam talkshow sebagai bagian dari peluncuran aplikasi podcast berita KBR Prime ini. 

Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Trivet Sembel, CEO Proud Project - sebuah proyek di Instagram @Proud.Project yang memuat kisah-kisah inspiratif dengan pendekatan story telling. 

“Strory telling lebih kuat daripada nuklir. Dengan satu klik, nuklir membuat orang-orang mati. Tapi satu klik story telling, orang-orang malah hidup dan tercipta pemikiran-pemikiran baru,” ujar Trivet yang pernah mengenyam pendidikan di Amerika ini.

Proud Project berawal saat Trivet mendengar cerita temannya, Robin, warga negara Perancis yang fasih berbahasa Indonesia. Robin bercerita, ia pernah “tersasar”di Tanah Toraja bersama orangtuanya saat sedang liburan ke tempat itu. 

Kedua orang tua Robin hanya bisa berbahasa Perancis. Saat tersasar itu, mereka bertemu dengan seorang petani yang mengajaknya kedua orangtuanya berbahasa Perancis. Robin dan orangtuanya kaget. Kok petani tersebut bisa berbahasa Perancis?

“Petani itu bilang, ia bisa menggunakan bahasa Perancis meski cuma tamatan SMP, karena ia  menemukan buku bahasa Perancis di pinggir sawah. Mungkin ada orang yang membuangnya. Buku itu lantas dipelajari oleh si petani, hingga ia bisa berbahasa Perancis,” cerita Trivet.

Dari cerita itu, Trivet menduga, banyak orang Indonesia yang punya potensi, tapi tak punya peluang. Karena itulah ia membuat Proud Project. Harapannya, dengan story telling yang dihadirkan pada foto-foto tadi, bisa mengubah cara pandang anak muda untuk mulai melakukan sesuatu. 

“Daripada kita membantu CEO-CEO yang sudah sukses saat ini, mending kita ciptakan CEO-CEO baru. Dan anak muda adalah calon-calon CEO baru. Kita bisa kali sepuluhkalikan Nadim Makarim, Ahmad Zaki dan figur muda lainnya,” ujarnya semangat.

Selain Trivet Simbel, hadir juga agen perubahan dari seluruh Indonesia dari berbagai bidang, juga ikut berbagi. 

Devi Asmarani, editor-in-chief & co-founder majalah web feminis Magdalene, tergerak membuat perubahan karena tidak ada media yang fokus pada perempuan yang mereprentasikan perempuan-perempuan seperti yang dia inginkan.

“Banyak media yang menampilkan artikel tentang perempuan. Tapi kami ingin isu-isu yang keras, isu-isu yang tidak ada seksisme, dan mencerminkan pengalaman perempuan yang seutuhnya.”

Menurut Devi, liputan tentang perempuan di media mainstream masih menjadikan perempuan sebagai obyek serta mengangkat hal-hal klise. 

“Misalnya saja, liputan tentang tokoh perempuan; mulai dari CEO, atlet, guru, polisi, pemimpin daerah, pada artikelnya ditulis judul ”Ini lho 10 bupati cantik di Indonesia”. Selalu itu yang diangkat, padahal perempuan lebih daripada faktor ketubuhannya” ujar Devi kesal. 

“Kami ingin membuat media, di mana pembaca merasa bahwa pengalaman tentang perempuan itu terepresentasikan dengan sangat inklusif dan bahasa yang populer, bukan seperti akademi jurnal.”

Suara perubahan lain keluar dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, MAFINDO. Presidium MAFINDO Anita Wahid mengatakan, MAFINDO terbentuk pada tahun 2016 karena proses Pemilu Presiden 2014 telah membuat masyarakat terbelah, sampai sekarang. 

“Dalam tiga bulan terakhir, hoax yang paling banyak beredar adalah hoax politik, terutama yang berkaitan dengan Pilpres,” jelas Anita. 

Tahun 2015, ada sekitar 10 hoax per bulan. Sementara angkanya terus naik dari tahun ke tahun --- tahun 2016 ada 29 hoax per bulan, 2017 ada 67 hoax per bulan. “Untuk tahun ini, dalam sehari, ada tiga hoax baru yang baru beredar. Ini hoax baru lho.”

Anita menekankan pada penyebaran dan jangkauan hoax yang sangat luas. 

“Hoax bisa dibagikan ratusan kali. Berapa ratus ribu orang itu yang percaya? Sementara begitu kami bersihkan hoax-nya, paling hanya 10% yang bisa mendapat klarifikasinya.”

Kisah perubahan lainnya datang dari luar Jakarta yaitu Pasuruan, Jawa Timur dan Palu, Sulawesi Tengah. 

Di Pasuruan, ada Yoga Andika, Ketua Tim Laskar Pencerah, yang menginisiasi berdirinya Posyandu Remaja. “Saya ingin mengurangi angka pernikahan dini di daerah,” kata dia. Menurut Yoga, jika angka pernikahan dini berkurang, maka dampak pernikahan dini bisa ikut ditekan, mulai dari aspek kesehatan sampai mental. 

Ada juga Fira Tyas Ningtriutari, pengagajar Sikola Mombine di Palu. “Sikola Mombine artinya sekolah perempuan,” jelas Fira. 

Ia bercerita tentang bagaimana ia dan teman-temannya mengajari para ibu di Palu, Poso juga daerah lain di Sulawesi Tengah, soal keuangan, perekonomian dan kepemimpinan. Tujuannya adalah membentuk perempuan yang aktif di daerahnya masing-masing. Ujungnya adalah membuat para perempuan bisa ikut mengakses anggaran di tingkat desa, kelurahan maupun daerah. 

“Ada 500 perempuan yang bergabung di Sikola Mombine, masing-masing desa 15 orang yang ikut. Sekarang sudah ada 56 perempuan sudah jadi pemimpin baik di tingkal lokal maupun provinsi. Ada yang berhasil menjadi bendahara desa. Ketika perempuan berhasil mengitervensi kebijakan anggaran desa, itu yang perlu kita dukung,” ujar Fira.

Mereka sudah membuktikan kalau suara-suara yang mereka keluarkan bisa mengubah sesuatu. Ko-kreator Marvel Comics, Stan Lee mengatakan "Kita semua berharap kita punya kekuatan super. Kita semua berharap kita bisa melakukan lebih dari apa yang bisa kita lakukan." Dan kita sebetulnya punya kekuatan super itu: suara kita. 

Jadi, sudah download aplikasi KBR Prime? Segeralah meluncur ke Google Playstore dan Appstore supaya tak ketinggalan update berita terbaru dari KBR.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.