Betulkah, Anak dengan Ibu Penyayang Akan Lebih Sehat?

Orang dewasa yang memiliki ibu penyayang cenderung bebas penyakit dan kurang berisiko mengalami depresi.

BERITA , INTERMEZZO

Selasa, 06 Nov 2018 20:06 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Betulkah, Anak dengan Ibu Penyayang Akan Lebih Sehat?

Ilustrasi.

KBR - Sebuah penelitian menunjukan anak-anak yang memiliki ibu dengan penuh kasih sayang bakal lebih sehat pada kemudian hari. Orang dewasa yang memiliki ibu penyayang cenderung bebas penyakit dan risiko mengalami depresinya lebih rendah.

Menurut para peneliti, tumbuh di rumah yang penuh kasih dianggap dapat mengurangi stres dan mendorong seseorang hidup lebih baik.

Peneliti dari Michigan State University menganalisis data dari National Survey of Midlife Development di Amerika Serikat, dan Health and Retirement Study. Studi pertama merupakan orang dewasa pada usia pertengahan 40-an selama 18 tahun, sedangkan studi kedua merupakan orang berusia 50 atau lebih selama enam tahun.

Dalam kedua percobaan tersebut, para peserta ditanya bagaimana orang tua mereka memahami masalah mereka sebagai anak-anak. Para peserta juga ditanya seberapa banyak orang tua memberikan kasih sayang dan seberapa banyak orang tua mengajari mereka tentang dunia.

Para peserta juga ditanyai apakah mereka telah didiagnosis dengan hingga 27 kondisi, termasuk penyakit tiroid, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

Sedangkan depresi dinilai, dengan menanyakan apakah mereka mengalami salah satu dari banyak gejala dalam dua pekan terakhir. Gejala-gejala tersebut di antaranya kehilangan minat dalam hal-hal, energi rendah, nafsu makan yang buruk, insomnia, konsentrasi berkurang, kesedihan, dan pikiran tentang kematian.

Hasil menunjukkan peserta yang ingat, menerima kasih sayang tingkat tinggi dari ibu mereka lebih sehat dan cenderung tidak depresi. Selain itu, mereka yang memiliki ayah yang suportif dan penuh kasih juga mengurangi risiko gejala depresi.

Penurunan risiko penyakit kronis hanya ditemukan dalam studi pertama. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Health Psychology.

"Kami tahu bahwa memori memainkan peran besar dalam bagaimana kami memahami dunia, bagaimana kami mengatur pengalaman masa lalu kami dan bagaimana kami menilai bagaimana kami harus bertindak di masa depan," kata William Chopik selaku Penulis Utama seperti dilansir dari Daily Mail.

Chopik mengatakan ingatan yang baik kemungkinan berefek positif pada kesehatan dan kesejahteraan. Ingatan tersebut, diyakini dapat mengurangi stres dan membantu menentukan pilihan yang baik dalam hidup.

"Orang mungkin berharap ingatan masa kecil menjadi kurang penting seiring waktu, tetapi ingatan ini masih bisa memprediksi kesehatan fisik dan mental yang lebih baik ketika orang-orang berada di usia paruh baya," tambahnya.

Kekuatan ikatan antara seorang anak dan orang tua sebelumnya telah berhubungan dengan seseorang dan risiko penyalahgunaan zat. Namun, penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada ibu dan jarang menilai peran seorang ayah.

Meskipun penelitian saat ini menemukan cinta seorang ibu membentuk masa depan seorang anak lebih dari seorang ayah, Chopik mengatakan hal tersebut bisa jadi berubah.

Menurutnya, hasil penelitian mencerminkan kebudayaan yang memungkinkan seorang ibu menjadi pengasuh utama bagi anak-anak.

"Dengan mengubah norma-norma budaya tentang peran ayah dalam pengasuhan, ada kemungkinan bahwa hasil dari studi masa depan orang yang lahir di tahun-tahun terakhir akan lebih fokus pada hubungan dengan ayah mereka."




Editor: Nurika Manan 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.