Autis, Bukan Penyakit Bukan Pula Bahan Candaan

Di Indonesia, deteksi dini anak dengan autis baru bisa dilakukan pada usia dua tahun. Di luar negeri masih dikembangkan penelitiannya dari saat masih dalam kandungan

INTERMEZZO

Senin, 12 Nov 2018 18:19 WIB

Author

Yogi Ernes

Autis, Bukan Penyakit Bukan Pula Bahan Candaan

Foto: United Way of Massachussetts Bay/Creative Commons

KBR, Jakarta – “Kalau ada anak yang suka nonton TV, tapi suka sama iklannya saja, atau mendengar musik yang sama berulang-ulang. Lalu, tak mau menatap atau kontak mata dengan orang, tak mau menunjuk benda-benda yang ia sukai. Tak mau meniru ucapan atau gerak gerik orang dewasa.Itu adalah salah satu tanda kalau anak tersebut autis,” ujar Fatharani Nadhira.

“Kalau kontak mata saja tak mau, gimana mau meniruin?” Sambungnya.  

Fatharani adalah Program Manager dari Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia, MPATI. Yayasan ini memberikan perhatian dan dukungan kepada autisme.

Menurutnya, autisme adalah gangguan perkembangan, bukan penyakit. Kalau penyakit bisa sembuh, tapi kalau gangguan adalah kondisi yang menetap. Anak yang mengidap autis, bisa mengganggu interaksi sosial dan komunikasinya.

Fatharani menambahkan, anak yang autis sudah terlihat sejak usia dua hingga tiga tahun, bukan tiba-tiba muncul saat remaja.

“Faktor keturunan, bisa saja sebabkan autis jika orang tuanya punya kebutuhan khusus juga, tapi itu bukan sesuatu yang pasti. Di Indonesia, deteksi dini anak dengan autis baru bisa dilakukan pada usia dua tahun. Di luar negeri masih dikembangkan penelitiannya dari saat masih dalam kandungan,” jelasnya dalam program Ruang Publik KBR.

Hal pertama yang dilakukan orang tua yang memiliki anak autisme, sarannya, adalah segera berdamai dengan situasi. Dalam pengalamannya, banyak para orang tua yang tidak bisa menerima situasi yang terjadi, dan akhirnya tak bisa memberikan penanganan yang baik kepada anaknya yang menderita autisme.

Selain itu, Fatharani juga menyayangkan masih banyak orang Indonesia yang menjadikan autisme sebagai sebuah lelucon.

“Joke mengenai autisme itu hanya terjadi di Indonesia. Ketika founder kami menghadiri beberapa pertemuan di luar negeri, mereka kaget kalau di sini (di Indonesia) autisme masih dijadikan bahan bercandaan. Makanya, lewat MPATI kami juga mau terus kampanyekan kalau autism is not joke" ujarnya.

Sebagai upaya menerima dan memperlakukan para autisme ini sebagai individu yang normal, Fatharani memperkenalkan lima  seconds rule. Salah satu aturan tersebut mengharuskan, masyarakat yang bertemu dengan orang tua bersama anak penderita autis di jalan, agar tidak memperhatikan sang anak dengan durasi yang lama.

“Ini hal yang sederhana, namun penting. Dengan melihat terlalu lama, kita secara tidak langsung bisa membuat orang tua menjadi tidak percaya diri lagi dalam membawa anaknya ke lingkungan masyarakat. Padahal hal itu penting untuk meningkatkan perkembangan anak,” kata Fatharani.

Setelah orang tua mulai bisa menerima kondisi yang ada, menurutnya, mereka bisa bergabung dengan support group agar bisa mendapatkan kekuatan. MPATI terbuka lebar menerima tiap keluarga yang memiliki anak-anak dengan autisme.

Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia, MPATI

Yayasan yang telah berdiri sejak 1998 ini memiliki visi untuk memberdayakan orang tua dan pendidik sehingga bisa memiliki wawasan yang benar tentang autisme. Dalam perjalanannya yang sudah mencapai 20 tahun, MPATI membagi fokus mereka ke dalam dua tahap dalam memberikan sumbangsihnya di persoalan autisme di Indonesia.

“10 tahun pertama terbentuknya MPATI, kami fokus memberikan pengetahuan apa sih itu autisme, lalu bentuk dukungan apa yang bisa diberikan masyarakat. Pasalnya, saat itu banyak dokter ahli yang belum tahu apa itu autisme dengan benar,” jelas Fatharani.

“Nah, 10 tahun berikutnya hingga sekarang, kami fokus kepada anak-anak yang kita bantu 10 tahun pertama. Jadi kami dorong mereka menjadi individu yang mampu mandiri secara finansial. Jadi tagline kami for them to get a job. Kami optimalkan perkembangan anak supaya bisa berfungsi sesuai dengan usia dan kondisi,” sambung Fatharani.

Sebagai yayasan yang memiliki visi dalam memberdayakan, salah satunya orang tua, dalam persoalan autisme ini, MPATI berpandangan jika peran orang tua menjadi penting untuk memberikan harapan dan masa depan yang cerah bagi anak penderita autisme.

Ia menyarankan, kalau terlihat tanda-tanda anak mengalami autisme, orangtua segera memeriksakan dan mencari buku-buku untuk menambah pengetahuan. Atau bisa meminta bantuan Yayasan Mpati, dengan mengirimkan email ke: YayasanMpati@gmail.com

 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17