Tingkatkan Kuantitas dan Kualitas Produksi Film Anak Lewat SCARA

Jadi program ini terdorong karena dalam beberapa tahun terkahir produksi film-film anak di Indonesia yang mendidik sangat minim sekali

INTERMEZZO

Selasa, 02 Okt 2018 12:42 WIB

Author

Yogi Ernes

Tingkatkan Kuantitas dan  Kualitas Produksi Film Anak Lewat  SCARA

Direktur Edukasi Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri menjelaskan program SCARA dalam Ruang Publik KBR

KBR, Jakarta- Minimnya film-film anak di Indonesia beberapa dekade terakhir, mendorong Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), meluncurkan program pelatihan dan pencarian penulis skenario yang diberi nama Skenario Cerita Anak Nusantara (SCARA). Program ini diluncurkan akhir Agustus lalu.

Menurut Direktur Edukasi BEKRAF, Poppy Savitri, ketika program ini diluncurkan, total ada 635 peserta yang mendaftar. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang.

“Jadi pas kita ngecek administrasi mereka ada yang memang berprofesi sebagai editor, tapi ada supir ojek online, ibu rumah tangga juga ada. Dalam SCARA ini yang jelas kita tidak melihat background mereka, tapi karya tulis mereka dan komitmen mereka kepada dunia anak-anak,” terang Poppy dalam program Ruang Publik KBR, Selasa (2/10/2018).  

Ia melanjutkan, dari 635 peserta tersebut, pihaknya sudah melakukan seleksi dan memutuskan 18 orang yang terpilih. Untuk ke depannya, 13 dari 18 orang tersebut akan dilibatkan dalam project pembuatan film Si Unyil versi animasi. 

Untuk mengembangkan program ini, BEKRAF menggandeng pihak lain, seperti Wahana Kreator, Perum Produksi Film Negara (PFN), serta Keluarga Kita.   

Produser dan Sutradara film Si Unyil, Chandra Endroputro  menyambut positif program BEKRAF ini. Menurutnya, penyebab minimnya kualitas film anak Indonesia, karena para penulis skenario masih menggunakan logika mereka dalam menuliskan skenario film anak-anak.

“Jadi seharusnya kan ketika kita membuat film anak, ya kacamata yang kita gunakan adalah kacamata anak-anak, agar pesan yang ingin kita sampaikan itu bisa masuk ke pikiran mereka,” jelas Chandra lewat sambungan telepon kepada KBR.

Dalam program pembuatan film Si Unyil versi animasi ini, Chandra bertugas mengarahkan para ke-13 penulis terpilih agar terbiasa dengan atmosfer cerita anak, khususnya yang berkaitan dengan animasi.

Ia juga menuturkan alasan secara kuantitas produksi film anak Indonesia masih rendah disebabkan oleh beberapa faktor.

"Faktor terbesar  adalah  sumber daya manusia yang bergerak di skenario film anak masih sangat rendah. Faktor berikutnya,  belum ada keberanian dari para produser film untuk mengambil bagian di genre film anak. Ketidakberanian para produser film ini,  juga disebabkan oleh kondisi pasar di genre tersebut yang masih abu-abu" ungkapnya.

Namun, lewat program SCARA ini, Chandra yakin jika kebutuhan akan sineas-sineas yang memahami kebutuhan anak-anak akan teratasi.

“Hal yang membuat saya optimis sama program ini adalah, kita itu sampai belajar pertumbuhan anak secara psikologis, jadi bukan hanya belajar gimana teknis nulis skenario yang baik. Saya yakin lewat cara ini kita bisa menghasilkan penulis-penulis skenario film anak yang dari anak dan untuk anak,” harap Chandra.

 

 

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rawan Kriminalisasi Kelompok Rentan, Aktivis Minta RKUHP Ditolak