Share This

Rombongan Peace Train Belajar Toleransi dari Suku Baduy

Achmad Nurcholis dan rekan-rekannya menggelar kunjungan lintas-agama menggunakan kereta api atau biasa disebut Peace Train. Ini yang ketujuh, dengan tujuan ke Suku Baduy.

INTERMEZZO , BERITA

Senin, 01 Okt 2018 22:08 WIB

Author

Angelina Legowo

Rombongan Peace Train Belajar Toleransi dari Suku Baduy

Peserta PTI ke-7 yang terbagi menajdi dua gelombang mendapat sambutan hangat dari Orang Muda Katolik (OMK) Rangkasbitung. (Foto: NusantaranNews.co / PTI)

KBR, Jakarta - Perbedaan pandang juga keyakinan belakangan kian sering digunakan sebagai 'alat' untuk memancing peperangan. Sebagian orang sangat gemar mengagung-agungkan kebenaran versi kelompoknya dan, menepikan kelompok lain. Tapi jauh dari ingar-bingar perebutan klaim kebenaran sebagian kelompok--utamanya pada kelompok agama--ada yang masih teguh pada ajarannya sendiri. Yakni, para penganut kepercayaan lokal. Mereka berpegang pada prinsip utama, menjadi manusia yang menjaga keseimbangan. Bukan saja dengan sesama manusia tetapi juga dengan alam yang menghidupi mereka.

Nilai-nilai itu, salah satunya mewujud dalam laku Suku Baduy di desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Hal ini pula yang kemudian membikin Achmad Nurcholis tertarik. Itu sebab, ia dan kawan-kawannya menjadikan Suku Baduy sebagai tujuan berguru pada proyek Peace Train--sebuah program traveling lintasagama menggunakan kereta api--September ini.

Dengan menaiki kereta api menuju Rangkasbitung dan Baduy Luar di Banten, nilai-nilai toleransi disisipkan.

Helatan ini sudah ketujuh kalinya digelar. Achmad Nurcholis sebagai salah satu penggagas program berpendapat, nilai-nilai toleransi harus dirawat. Kegiatan ini menjadi salah satu jalannya. Karenanya, ia dan rekan-rekannya melanjutkan Peace Train. Terselenggara pada 28-30 September 2018, program ini diikuti anak-anak muda.

Untuk kunjungan kali ini, Suku Baduy menjadi pilihan. Menurut Achmad Nurcholis, setiap daerah sebenarnya punya potret toleransi, kerukunan, juga perdamaian yang berbeda-beda. Yang tentunya, memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing.

Baduy misalnya, menurut Nurcholis, jadi salah satu suku yang rupanya begitu menjaga keseimbangan dengan manusia dan alam. Ini juga yang dijadikan sebagai pembelajaran dalam praktik toleransi. Seperti, bagaimana Suku Baduy merajut perdamaian dalam bingkai kebhinekaan.

"Melalui program peace train ini, memang ingin mempelajari kekhasan dan keunikan masing-masing daerah tersebut. Bagaimana mereka merajut perdamaian dalam bingkai kebhinekaan," ungkap Nurcholis di program KBRPagi, Senin (1/10/2018).

Di wilayah ujung kulon Pulau Jawa tersebut peserta Peace Train 7 juga diajak mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah ibadah, serta tokoh-tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antaragama. Beberapa di antaranya GKP Rangkas, Goa MARIA, Vihara Ananda Avallokitesvara, Musium Multatuli, Masjid AGung, dan Gereja Maria Tak Berdosa.  

Tak berhenti sampai di situ, Peace Train merencanakan program ke-8 yang digelar Oktober mendatang. Kemudian dilanjutkan dengan kamp damai. Peserta kamp damai rencananya meliputi alumni Peace Train pertama sampai ke-8.

Achmad Nurcholis percaya, program Peace Train mampu menumbuhkan rasa toleransi bagi para pesertanya. Kelak, hal tersebut yang bakal memotivasi para peserta untuk menggagas kegiatan serupa di daerah masing-masing.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.