Manusia Sebabkan 60% Penurunan Populasi Margasatwa di Dunia

Banyak ilmuwan percaya bahwa dunia telah memulai kepunahan massal keenam, yang pertama kali disebabkan oleh spesies Homo sapiens.

BERITA | INTERMEZZO

Selasa, 30 Okt 2018 21:24 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Manusia Sebabkan 60% Penurunan Populasi Margasatwa di Dunia

Foto: Ben & Gab; Rosemary Groom

KBR - Populasi margasatwa di seluruh dunia turun 60% hanya dalam empat dekade. Hal ini disebakan karena polusi, penggundulan hutan, perubahan iklim, dan faktor buatan manusia lainnya. Pernyataan tersebut dimuat dalam laporan terbaru yang diungkap World Wildlife Fund (WWF). Penelitian yang melibatkan 59 ilmuwan dari seluruh dunia.

"Jika ada penurunan populasi manusia sebesar 60%, itu setara dengan mengosongkan Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Eropa, China, dan Oceania. Itu adalah skala dari apa yang telah kami lakukan," kata Mike Barrett, Direktur Eksekutif Sains dan Konservasi di WWF.

Banyak ilmuwan percaya bahwa dunia telah memulai kepunahan massal keenam. Yang pertama kali, disebabkan oleh spesies Homo sapiens.

"Kami adalah generasi pertama yang mengetahui bahwa kami menghancurkan planet kita dan yang terakhir yang dapat melakukan apa saja untuk itu," kata Chief Executive WWF Inggris, Tanya Steele dikutip dari CNN.

Analisis terbaru lain mengungkap, manusia telah menghancurkan 83% dari seluruh mamalia dan separuh tumbuhan sejak awal peradaban. Dilansir dari The Guardian, diperlukan 5-7 juta tahun bagi dunia alami untuk pulih.

Living Planet Report 2018 menunjukan bahwa lebih dari 4.000 spesies mamalia, burung, ikan, reptil dan amfibi menurun drastis antara 1970 hingga 2014. Tingkat kepunahan spesies kini 1.000 kali lebih cepat dibanding sebelum manusia terlibat dalam ekosistem hewan.

Organisasi lingkungan itu juga menyerukan perjanjian internasional yang dirancang untuk melindungi satwa liar. Gagasan ini mengacu pada perjanjian iklim Paris.

"Sekarang kita memiliki kekuatan untuk mengendalikan dan bahkan merusak alam, kita terus (menggunakan) seolah-olah kita adalah pemburu dan pengumpul 20.000 tahun yang lalu, dengan teknologi abad ke-21," kata Marco Lambertini, Direktur Jenderal WWF.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa 90% burung laut menyimpan plastik di perutnya. Persentase ini meningkat dibandingkan pada 1960 silam yakni masih 5 persen burung laut. Sementara sekitar setengah dari karang dangkal telah hilang dalam tiga dekade terakhir.

Penyebab terbesar hilangnya margasatwa adalah penghancuran habitat alami yang sebagian besar dialihfungsikan untuk lahan pertanian. Tiga perempat dari seluruh daratan di Bumi saat ini secara signifikan dipengaruhi oleh aktivitas manusia.

Membunuh untuk memenuhi kebutuhan pangan adalah penyebab terbesar berikutnya, yaitu 300 spesies mamalia terancam punah dikonsumsi manusia.

Polusi kimia juga termasuk faktor yang signifikan. Separuh populasi paus pembunuh kini mati terkontaminasi PCB. Habitat yang mengalami kerusakan terbesar adalah sungai dan danau, di mana populasi satwa liar telah jatuh 83%.

"Sekali lagi ada hubungan langsung antara sistem pangan dan penipisan satwa liar. Makan lebih sedikit daging adalah bagian penting dari membalikkan kerugian," kata Barrett.

Kehidupan hewan menurun paling cepat di daerah tropis Amerika Latin dan Karibia, dengan penurunan 89% populasi sejak 1970. Sementara spesies yang bergantung pada habitat air tawar, seperti katak dan ikan sungai, menurun dalam populasi sebesar 83%.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kala Tuntutan Setop Tes Keperawanan Bergulir

Kabar Baru Jam 10

'Kelas Multikultural' SMK Bakti Karya Parigi

Komunitas Pattas Sosial Kurir Langit Wakili Indonesia dalam Penghargaan Layanan Publik PBB 2020

Kabar Baru Jam 8