Share This

Lestarikan Batik Lewat "Sekar"

Menurut Happy Salma, keterlibatannya dalam film Sekar merupakan kontribusinya untuk melestarikan dan menjaga warisan budaya.

BERITA , INTERMEZZO

Selasa, 02 Okt 2018 15:09 WIB

Pemain film Sekar di Galeri Indonesia Kaya. (Foto: tribunnews)

KBR, Jakarta - Memperingati Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, tahun ini Titimangsa Foundation bersama Bakti Budaya Djarum Foundation dan FourColours Film membuat sebuah film pendek bertajuk "Sekar". Ditulis dan disutradarai Kamila Andini serta diproduseri oleh Happy Salma dan Ifa Isfansyah. Film ini menampilkan aktris senior Indonesia Christine Hakim dan bintang muda Sekar Sari serta Marthino Lio.

Film pendek berdurasi delapan menit ini bercerita tentang perempuan tunanetra bernama Sekar Sari. Ia begitu mencintai batik meski tanpa pernah melihatnya. Setiap kali ibunya membatik, Sekar selalu di samping sang ibu untuk membaui lilin dan pewarna, mendengar suara kompor juga bunyi kibasan kain dan, meraba motif yang dilukis.

Bagi Happy Salma, keterlibatan memproduksi film Sekar merupakan kontribusinya dalam melestarikan dan menjaga warisan budaya. Ia juga mengungkapkan betapa penting menjadikan batik sebagai bagian dari jati diri. Ini agar batik pun tetap dikenal sebagai identitas Indonesia.

"Saya rasa sebetulnya tuh hari batik itu bisa kita rayakan setiap hari, bukan hanya di tanggal 2 Oktober. Kalau itu sudah menjadi bagian diri kita, atau jati diri kita. Mau itu diklaim sama negara manapun, orang pasti akan tahu, itu punya Indonesia. Kalau kita menjadikannya jati diri kita," ungkap Happy Salma di program KBRPagi, Selasa (2/10/2018).

Di tengah budaya modern yang kian mendominasi, batik rupanya tak luput dari sentuhan modernitas. Teknik batik tulis yang secara manual dikerjakan oleh tangan terampil manusia--dengan tingkat kesabaran, keuletan, dan ketelitian yang tinggi pun--telah banyak ditinggalkan. Padahal, proses panjang pembuatan batik tulislah yang menyimpan banyak cerita.

Proses itulah yang ingin diusung Happy Salma dan Ifa Isfansyah. Menurut Happy, kecantikan dan keindahan batik merupakan hasil dari proses yang panjang. Karena itu, kisah atau filsafat di balik batik itu sendirilah yang ingin disampaikan.

"Sekar" menampilkan batik yang memiliki makna filosofis atas kehidupan dan nilai-nilai budaya luhur nenek moyang yang selalu menarik ditelusuri. "Ada proses panjang, dan bahkan ada doa, ada harapan, dan ada macam-macam yang akhirnya melahirkan batik tersebut" kata Happy Salma.

Selain dirilis melalui akun YouTube Indonesia Kaya pada Selasa (2/10/2018), versi satu menit film ini juga akan diputar di bioskop di beberapa kota selama satu bulan, untuk mengucapkan selamat hari batik.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.