Share This

Sebuah Penemuan Mengatakan Pluto Bisa Menjadi Planet Lagi

Philip Metzger, seorang ilmuwan planet di University of Central Florida, berpendapat alasan Pluto kehilangan status planetnya merupakan hal yang tidak valid.

BERITA , INTERMEZZO

Rabu, 12 Sep 2018 13:23 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Sebuah Penemuan Mengatakan Pluto Bisa Menjadi Planet Lagi

Foto: NASA

KBR - Sebuah studi menyatakan, pluto harus diklasifikasi kembali sebagai planet. Dalam makalah yang diterbitkan melalui jurnal Icarus, Philip Metzger, seorang ilmuwan planet di University of Central Florida, berpendapat alasan Pluto kehilangan status planetnya merupakan hal yang tidak valid.

IAU mendefinisikan planet dalam tiga poin. Pertama, planet merupakan objek di orbit yang mengelilingi matahari. Kedua, planet harus memiliki massa yang cukup agar gravitasinya melebihi gaya benda tegar sehingga memiliki bentuk hampir bulat. Ketiga, orbit di sekitar planet tersebut harus bersih dari benda-benda angkasa lainnya.

Poin ketiga inilah yang menyebabkan pluto kehilangan statusnya sebagai planet. Pada 2006 silam, International Astronomical Union (IAU) menurunkan status Pluto menjadi ‘planet kerdil’.

Menaggapi hal ini Metzger mengatakan gravitasi Neptunus memengaruhi Pluto yang mengakibatkan planet kerdil harus berbagi orbitnya dengan gas dan benda beku di sabuk Kuiper. Untuk memperkuat argumen, Metzger meninjau literatur ilmiah dari 200 tahun terakhir. Ia menemukan hanya ada satu publikasi pada 1802, yang menggunakan persyaratan orbit-kosong guna mengklasifikasikan suatu benda langit disebut planet.

Menurutnya, penelitian 1802 itu didasarkan pada ‘alasan yang tidak terbukti kebenarannya’.

Bertentangan dengan latar belakang tersebut, Metzger percaya bahwa definisi IAU tentang planet perlu dipikirkan kembali. "Ini definisi yang ceroboh," kata Metzger dalam sebuah pernyataan dilansir dari Fox News, Selasa (11/9/2018).

"Mereka tidak mengatakan apa yang mereka maksudkan dengan membersihkan orbit mereka. Jika Anda mengambil itu secara harfiah, maka tidak akan ada planet, karena tidak ada planet yang mengorbit orbitnya," tambahnya.

Metzger pun mengatakan, satelit alami Saturnus, Titan dan Jupiter, Europa telah disebut planet oleh para ilmuwan planet sejak zaman Galileo.

"Kami sekarang memiliki daftar lebih dari 100 contoh terbaru dari para ilmuwan planet yang menggunakan kata planet dengan cara yang melanggar definisi IAU, tetapi mereka melakukannya karena berguna secara fungsional," tambahnya.

Menurutnya, definisi planet harus didasarkan pada sifat-sifat intrinsiknya, dibandingkan dengan sifat-sifat yang dapat berubah, seperti dinamika orbitnya. Sebaliknya, Metzger merekomendasikan klasifikasi planet berdasarkan, apakah planet tersebut cukup besar sehingga gravitasinya memungkinkan planet berbentuk bola.

Menurutnya Pluto memiliki samudra di bawah tanah, atmosfer multilayer, senyawa organik, beberapa satelit alami, dan ada bukti keberadaan danau kuno.

Studi ini ditulis bersama dengan Mark Sykes dari Institut Sains Planetary, Alan Stern dari Southwest Research Institute, dan Kirby Runyon dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory. IAU mengatakan kepada Fox News, mereka belum memikirkan kembali untuk mengubah definisinya tentang sebuah planet.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.