Share This

Penelitian: Basmi Malaria dengan Rekayasa Genetik

Setelah delapan generasi, nyamuk betina tidak diproduksi. Populasi nyamuk pun ambruk karena kurangnya keturunan.

BERITA , INTERNASIONAL , INTERMEZZO

Rabu, 26 Sep 2018 18:09 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Penelitian: Basmi Malaria dengan Rekayasa Genetik

AFP / LUIS ROBAYO

KBR - Melalui eksperimen di laboratorium, para ilmuwan Inggris berhasil memusnahkan nyamuk pembawa penyakit malaria dengan cara rekayasa genetik. Temuan ini disebut-sebut sebagai terobosan terbaru dalam upaya melawan penyakit malaria yang mematikan.

Melansir Fox News (25/9/2018), para peneliti di Imperial College London ini menggunakan teknologi penyuntingan gen, CRISPR-Cas9. Melalui teknologi tersebut , gen yang sudah direkayasa akan disebarkan untuk menghalangi reproduksi pada nyamuk betina. CRISPR ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengubah atau mengganti bagian tertentu dari DNA nyamuk.

Spesies nyamuk yang dijadikan bahan eksperimen ada Anophles gambiae, yang menularkan malaria di sub-Sahara Afrika. Tim menggunakan teknik yang disebut ‘gen drive’, di mana peneliti mengubah gen yang dikenal sebagai ‘doublesex’ agar tercipta lebih banyak nyamuk betina yang tidak bisa menggit atau bereproduksi.

Setelah delapan generasi, nyamuk betina tidak diproduksi. Populasi nyamuk pun ambruk karena kurangnya keturunan.

"Terobosan ini menunjukkan bahwa dorongan gen dapat bekerja, memberikan harapan dalam perang melawan penyakit yang telah menjangkiti manusia selama berabad-abad," kata pemimpin peneliti, Profesor Andrea Crisanti, dalam sebuah pernyataan.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2016 terdapat 216 juta kasus malaria di seluruh dunia yang mengakibatkan 445 ribu kematian. Jumlah kematian itu sebagian besar melanda anak-anak di bawah lima tahun.

Crisanti membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 tahun sebelum penyuntingan gen ini digunakan pada nyamuk di lingkungan masyarakat. Teknologi dapat menjadi senjata andalan dalam perang melawan nyamuk pembawa malaria.

Para ilmuwan yang tidak terlibat dalam penelitian menggambarkan temuan ini sebagai terobosan yang tepat waktu.

"Pendekatan tradisional untuk mengendalikan nyamuk,terutama penggunaan insektisida, menjadi kurang efektif,” kata Cameron Webb,dosen klinis di University of Sydney, dikutip dari AFP.

2016 menandai pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade bahwa kasus malaria tidak turun tahun ke tahun, meskipun kampanye anti-malaria yang agresif dan dibiayai dengan baik. Data dari WHO yang diwartakan Fox News memperkirakan selama tahun 2016, sekitar $2,7 juta alias Rp 40,2 miliar dana diinvestasikan untuk pengendalian dan penghapusan malaria.(Mlk)

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.