Share This

Kisah Para Penyintas Bunuh Diri, dari Stigma hingga Cara Bertahan

Di Indonesia, rasio bunuh diri mencapai 4,3 orang per 100 ribu penduduk. Ada pelbagai faktor yang jadi sebab banyaknya kasus bunuh diri. Salah satunya, gangguan kesehatan mental.

INTERMEZZO

Senin, 10 Sep 2018 19:03 WIB

Pricilia Indah Pratiwi
Author

Pricilia Indah Pratiwi

Ilustrasi.

KBR, Jakarta - Setiap 10 September, dunia memperingati hari pencegahan bunuh diri. Data lembaga kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) pada 2012 menunjukkan, setiap tahunnya, lebih dari 800 ribu kasus kematian di seluruh dunia disebabkan bunuh diri. Sementara di Indonesia, rasio bunuh diri mencapai 4,3 orang per 100 ribu penduduk. Ada pelbagai faktor yang jadi sebab banyaknya kasus bunuh diri. Salah satunya, gangguan kesehatan mental.

Menurut salah satu penyintas bunuh diri, Uphie Abdurrahman, keinginan mengakhiri hidup bisa juga karena faktor kausalitas atau sebab-akibat dari apa yang dialami sehari-hari. Misalnya, ia menerangkan, malu dengan pekerjaan, bangkrut, atau menghindar dari masalah-masalah lain. Uphie menambahkan, masalah-masalah hidup seperti itu merupakan pemicu yang menyebabkan bunuh diri. Namun kebanyakan bunuh diri terjadi lantaran gangguan kesehatan jiwa seseorang.

Uphie berkisah, dirinya pernah punya pengalaman bunuh diri. Itu terjadi sejak 10 tahun lalu, hingga saat ini.

"Saya mendapat gangguan mimpi, jadi saya mimpi buruk terus setiap malam dari tahun 2008 dan mimpinya nggak berhenti-berhenti. Mimpinya makin buruk. Bangun-bangun semua badan sakit-sakit," cerita Uphie yang mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) saat diwawancara di program KBR Pagi.

Karena mimpi-mimpi buruk kerap berdatangan, Uphie pernah mencoba bunuh diri dengan cara meminum obat (pil). Namun percobaan bunuh diri itu gagal.

"Saya kan cek online dulu kira-kira kemungkinan hasilnya tuh berapa. Kalau kemungkinannya gagalnya besar, jadi gagal ginjal, gagal hati, organ-organ rusak. Kalau rusak gitu saya jadi enggak mati malah nyusahin orangtua, nyusahin diri sendiri juga, asuransi nggak ada yang mau bayar," tuturnya.

Penyintas bunuh diri lainnya, Winaring Suryo Satuti mengungkapkan, pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan menyilet tangannya. Wina mengaku, niat bunuh diri itu dipicu halusinasi dan waham yang terlalu berat.

"Utamanya ya itu halusinasi dan waham itu. Kalau saya mengerjakan sesuatu dengan serius ada yang ejekin," kata dia. Percobaan bunuh diri tersebut gagal karena kala itu Winna mendapati tulisan di dinding yang mengingatkannya untuk lulus kuliah pada 2013.

"Jadi waktu itu saya kerjain skripsi tanpa obat, jadi setiap mau kerjain skripsi diejek. Lama jadi kerjainnya, stres banget gitu lho," ungkap perempuan usia 24 tahun itu.

Kedua penyintas itu tergabung dalam Into The Light, sebuah komunitas pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa. Memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia tahun ini, komunitas yang digagas Benny Prawira itu juga merilis sebuah surat bertajuk "Surat dari Kami."

"Ada suara-suara di tengah kegelapan yang selama ini tidak kita dengar. Mereka yang sedang memiliki beban berat, mereka yang bingung mencari bantuan ke mana, dan mereka yang mulai kehilangan harapan bertanya-tanya bantuan apa yang dapat mencerahkan kembali harapan dalam diri mereka," tulis penggalan surat tersebut.

"Pertanyaan-pertanyaan itu tak hanya butuh jawaban, pengetahuan terbaru saja tak cukup. Sekarang adalah saatnya untuk kita bertindak, lebih banyak mendengar mereka, untuk bekerja bersama mereka dengan lebih banyak melibatkan penyintas percobaan ataupun kehilangan akibat bunuh diri," ungkapan lain dalam surat yang sama.

Baca juga:

Stigma juga anggapan keliru sebagian masyarakat tentang kesehatan jiwa, juga jadi pemicu bunuh diri, selain kondisi hormon tubuh. Data lain menunjukan, jumlah laki-laki yang melakukan bunuh diri lebih banyak dibanding perempuan. Uphie menduga, gambaran itu didapat lantaran sebagian masyarakat yang menganggap laki-laki harus maskulin dan tegar. Sehingga, laki-laki pun sulit ketika hendak mengungkapkan atau menceritakan perasaan yang sifatnya emosional.

Membuka diri ke orang lain, menurut laki-laki usia kepala tiga ini, merupakan hal yang sukar ditempuh. Alih-alih mencoba memahami persoalan, kerapkali reaksi lawan bicara justru cenderung menggampangkan masalah atau bahkan, resisten. Karenanya saat didera masalah, Uphie pun memilih untuk bertemu dengan psikolog atas dorongan kerabat. Sebelum merasa nyaman dengan psikolog yang sekarang, ia pernah pula tak cocok dengan psikolog sebelumnya. Ia menganggap psikolog yang sebelumnya ia temui bersikap menggurui juga menuduh.

Sementara Wina, memilih berkonsultasi ke psikiater setelah sebelumnya menangani gangguan kesehatan jiwanya melalui jalur kejawen. Seperti, mandi kembang, mandi air garam, ke dukun, dan lain sebagainya. Tapi rentetan upaya itu nihil. Lantas setelah ke psikiater, ia didiagnosa skizofrenia paranoid.

Cerita lain diungkapkan seniman muda yang juga penyintas bunuh diri, Hana Madness. Ia mengatakan sudah mampu mengendalikan diri. Kendati, perasaan ingin bunuh diri bisa saja muncul tiba-tiba. Hana menuturkan, kendali ketika kesehatan jiwanya itu labil dilakukan melalui diet sehat dan menjaga pola makan.

"Selain dari luar harus dari dalam juga. Itu penerimaan diri kita sendiri tarhadap gangguan kita. Jadi sekarang aku sudah sepenuhnya menerima bahwa aku berbeda, bahwa Tuhan menciptakan aku tidak sama dengan yang lain. Dan aku harus menerima, dan tidak menyalahkan orang lain atas keadaan aku," terang Hana.

Selain hidup sehat, Hana juga melukis. Kegiatan berkesenian ini dilakukan untuk menuangkan emosi juga kegelisahan yang masih kerap mampir. Lain lagi Hana lain pula Uphie. Jika Hana menggunakan medium seni lukis, Uphie mengalihkan emosi dengan menulis puisi dan syair lagu. Di samping itu juga, berolahraga berat seperti gym, yoga, dan pilates. Kegiatan itu dilakukan untuk meningkatkan kadar endorfin di tubuh sehingga membuat Uphie merasa lebih segar. Sedang Wina, mengelola emosinya dengan menulis, kadang juga berbalas pesan (chatting), dan berselancar di internet.

Baca juga:

Sebagian masyarakat beranggapan dan kerap mengaitkan percobaan bunuh diri dengan lemahnya iman. Tapi Wina juga para penyintas bunuh diri lain yang langsung mengalaminya, menolak stigma tersebut. Ia menjelaskan, kecenderungan untuk bunuh diri lebih karena kondisi kejiwaan yang labil. Dan ini disebabkan lantaran kurangnya hormon serotonin dalam otak. Karenanya, seseorang lebih mudah terpicu atau mengalami depresi. Maka sama seperti kanker, gangguan kesehatan mental pun harus diobati.

Uphie pun menyarankan siapapun yang punya kecenderungan untuk mencoba bunuh diri, agar tak 'termakan' stigma tersebut. Dalam kondisi seperti ini, mengabaikan komentar negatif boleh jadi lebih baik. Yang terpenting bagi orang yang dihinggapi depresi atau juga keinginan bunuh diri, adalah mengidentifikasi penyakitnya. Melakukan diagnosa dengan benar dan tepat. Misalnya, bisa ditempuh melalui konsultasi ke psikolog, psikiater atau komunitas kesehatan jiwa.

Ia pun menambahkan, kini terdapat pelbagai komunitas yang bisa menjadi sarana untuk saling berbagi penanganan masalah kesehatan jiwa. Ruang untuk ngobrol itu bisa dijadikan ajang bertukar pengalaman. Bisa soal penanganan medis, jenis-jenis obat yang bisa dikonsumsi, hingga cara-cara terapi seperti menulis.




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.