Bagaimana Mendampingi Orang Dengan Demensia?

"Hampir dua menit sekali setiap hari, ibu selalu nanya, ibu hari ini mau ngapain ya, kamu tuh anakku atau adikku ya?”

INTERMEZZO

Jumat, 28 Sep 2018 16:18 WIB

Author

Yogi Ernes

Bagaimana Mendampingi Orang Dengan Demensia?

(Foto: Mcbeth/Flickr/Creative Commons)

KBR, Jakarta- Kementerian Kesehatan memperkirakan penderita penyakit demensia di Indonesia akan berjumlah 4 juta orang pada tahun 2050 jika tidak ada upaya penanggulangan. Demensia adalah suatu proses penurunan fungsi kognitif atau daya ingat, keliru, adanya perubahan kepribadian, dan emosi yang naik-turun atau labil yang terjadi pada usia lansia.  Meski, tak semua orang berusia lanjut menderita demensia atau masyarakat menyebutnya pikun.

Selain mencoba mengurangi resiko mengalami demensia, hal yang tidak kalah penting adalah perawatan yang diberikan kepada orang dengan demensia. Menurut trainer Demensia Care Skill Training, Evi Christine Tambunan S.Kep, hal pertama yang harus dilakukan dalam menangani penderita demensia adalah keluarga harus tahu dulu kalau ibu, ayah, atau anggota keluarga mereka  terkena penyakit demensia.

"Di banyak kasus yang saya temui, keluarga kerap kali tak sadar kalau sanak saudara mereka itu kena demensia,” ungkap Evi Christine Tambunan S.Kep, seorang trainer Demensia Care Skill Training dalam program Ruang Publik KBR, Rabu (26/9/2018).

Evi melanjutkan, hal penting berikutnya dalam menghadapi orang dengan demensia adalah interaksi. Interaksi dari para anggota keluarga dan orang-orang di sekitar harus dijalin dengan penderita. Karena sering kali, ketika orang normal merawat pasien demensia, mereka masih menggunakan logikanya.

Demensia menyerang hipokampus. Ini adalah bagian otak yang bertanggungjawab pada ingatan, dan lambat laun akan menyerang sel-sel otak yang mengatur perihal pengambilan keputusan, logika, serta emosi. Nah, orang normal yang merawat penderita demensia, kata Evi, kerap kali justru memaksa sang pasien untuk melakukan sesuatu yang menurut logika mereka tepat, bukan apa yang sedang diinginkan oleh penderita demensia.

“Jadi yang harus dilakukan itu, turuti saja maunya mereka (penderita demensia), bukan justru memaksa kehendak kita (jangan membantah). Karena yang mesti diingat, penderita itu berubah drastis tingkah lakunya bukan karena karakter atau sifatnya yang berubah, tapi memang karena penyakit,” kata Evi.

Sebagai trainer yang kerap memberikan pelatihan kepada keluarga yang anggotanya menderita demensia, Evi mengungkapkan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung bagi penderita demensia.

“Meski pada akhirnya mereka bisa sampai di level yang sudah tidak bisa mengenali lagi keluarganya, tapi kita tetap harus hadirkan suasana di mana penderita merasa dikelilingi oleh orang-orang yang mengasihi mereka,”  harap Evi.

Hal serupa, dikisahkan Nuria Soeharto. Nuria adalah seorang caregivier orang dengan demensia. Sudah dua tahun ini, Nuria, merawat ibunya yang menderita penyakit demensia. Nuria bercerita,  meski sang ibu yang sudah berusia 80 tahun, secara fisik ia tetap masih bisa beraktifitas normal. Namun, ketika sang ibu terkena demensia, kerap kali ia bertanya hal-hal yang sama berulang-ulang.

“Jadi, hampir dua menit sekali setiap hari, ibu selalu nanya, ibu hari ini mau ngapain ya, kamu tuh anakku atau adikku ya?”, tutur Nuria.

“Ibu juga dulu selalu meminta, ketika langit sudah gelap, ia minta gorden dan jendela ditutup. Setelahnya, ibu, minta saya temenin dia tidur. Tapi kan kalau lagi musim hujan, jam 3 sore aja udah gelap. Tapi ia tetap mau ngelakuin itu karena fungsi otaknya sudah gak maksimal lagi,” tambah Nuria.

Hal-hal tersebut yang kadang juga membuat Nuria jengkel ketika awal-awal merawat ibunya. Namun, ia sadar bahwa yang bisa ia lakukan adalah ikhlas. Pengalamannya selama ini membuktikkan ketika ia legowo menerima keadaan ibunya, maka pikiran dan hatinya menjadi lebih tenang. Ia pun sama sekali tidak merasa terbebani dalam merawat ibunya yang menderita demensia tersebut.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mendikbud Nadiem Makarim Diminta Perbaiki Mental dan Moralitas