Share This

Stroke Bisa Tingkatkan Resiko Terkena Dimensia

Para peneliti mendorong masyarakat untuk meningkatkan pola hidup sehat agar terhindar dari resiko stroke dan dimensia

INTERMEZZO

Jumat, 31 Agus 2018 13:19 WIB

Yogi Ernes
Author

Yogi Ernes

Ilustrasi. (Foto: Geraint Rowland/Creative Commons)

KBR, Jakarta - Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Exeter, Inggris, menyebut penyakit stroke meningkatkan resiko terhadap dimensia. Dimensia bukanlah sebuah penyakit namun suatu gejala yang disebabkan oleh penyakit atau kelainan pada otak.

Dimensia ditandai dengan terganggunya mental seseorang yang menyebabkan gangguan berpikir dan hilang ingatan. Dimensia juga dapat menyebabkan perubahan sifat dan perilaku seseorang.

Tim peneliti dari Universitas Exter telah menganalisis data resiko stroke dan dimensia dari 48 penelitian secara terpisah. Puluhan penelitian itu melibatkan sebanyak 3,2 juta orang responden di seluruh dunia.

Dilansir dari The Guardian, salah satu tim peneliti, Dr Ilianna Lourida mengatakan timnya menemukan fakta bahwa penyakit stroke memiliki riwayat meningkatkan resiko terhadap dimensia sebesar 70 persen. Saat ini, dari hasil peneliitan terbaru mereka, resiko tersebut bahkan naik dua kali lipat.

"Mengingat betapa banyak jumlah pennderita stroke dan dimensia, hasil penelitian ini adalah temuan yang penting. Oleh karena itu perbaikan dan pencegahan stroke, serta perawatan pasca penyakit stroke memainkan peran penting dalam upaya pencegahan dari dimensia," jelas Dr Ilianna Lourida dikutip dari The Guardian.

Hasil penelitian itu juga mendorong para peneliti meningkatkan gaya pola hidup sehat bagi masyarakat agar terhindar dari penyakit stroke dan tidak berakhir terkena dimensia.

Menurut Stroke Association, pola gaya hidup sehat dan aktif, mengkonsumsi makanan bergizi, serta menjaga kondisi berat badan telah terbukti mengurangi resiko terkena stroke dan dimensia. Dalam hasil temuan mereka, kelebihan berat badan dan mengalami obesitas meningkatkan resiko terkena stroke masing-masing sebesar 22 persen dan 64 persen.

Fakta di atas diperkuat oleh Dr David Llewellyn, salah satu tim penelitian dari Universitas Exter yang mengatakan sepertiga dari kasus dimensia berpotensi sudah dapat dicegah.

"Hasil penemuan kami menunjukkan bahwa angka sepertiga ini bisa lebih tinggi, dan memperkuat pentingnya melindungi suplai darah ke otak ketika kita berusaha untuk mengurangi terkena resiko dimensia," dikutip dari The Guardian.

Namun di sisi lain, meski dimensia diakibatkan karena sebauh stroke kecil di otak, tapi sebuah analisis yang diterbitkan oleh jurnal kesehatan Alzheimer’s & Demensia menunjukkan temuan yang berbeda. Penelitian yang menyertakan semua bentuk stroke dan dimensia menunjukkan bahwa mayoritas orang yang telah terkena stroke tidak menderita dimensia setelahnya.

Untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai Demensia dan stroke, pembaca bisa mengunjungi http://www.exeter.ac.uk/dementia/ atau tagar #ExeterDementia di Twitter.  

Editor: Agus Luqman


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.