Share This

Riset Mahasiswa Unibraw: Basmi Limbah Sungai dengan Ampas Tebu

“Saya yakin abu ampas tebu ini akan berguna, karena adsorben sulit diregenerasi. Penelitian ini menjadi alternatif untuk pengolahan limbah” harap Indah Feliana, Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang.

BERITA , INTERMEZZO

Kamis, 09 Agus 2018 14:24 WIB

Ilustrasi: LIPI

KBR, Jakarta- Ampas tebu biasanya dibuang setelah menjadi sisa olahan tebu. Tapi itu tidak berlaku bagi Indah Feliana, Joshia Christa, dan Philio Valerino. Di tangan tiga mahasiswa Universitas Brawijaya Malang tersebut, ampas tebu justru bisa diolah sebagai bahan pembersih limbah yang mencemari sungai.

Indah Feliana, selaku ketua tim penelitian mengatakan Indonesia bisa menghasilkan sekitar 10,2 ton ampas tebu setiap tahun. Atas dasar itulah, dia dan teman-temannya bereksperimen membuat adsorben dari ampas tebu yang dibakar.

Arang hasil pembakaran ampas tebu digunakan sebagai absdorben yang mampu mengurangi kadar logam berat dan limbah pada sungai. Adsdorben merupakan zat padat yang dapat menyerap partikel fluida. Proses penyerapan tersebut disebut adsorpsi. Adsorben terbuat dari bahan-bahan yang berpori, salah satunya adalah arang dari pembakaran ampas tebu.

"Di dalam arang ampas tebu memiliki kandungan silica yang cukup tinggi, dan juga mengandung magnetit. Kalau magnetit digunakan sendiri tanpa silica, kurang stabil pada lingkungan, karena tak tahan asam. Karena itu distabilkan dengan ampas tebu," kata Indah kepada KBR, Kamis, (9/8/2018).

Indah menjelaskan proses penelitiannya. Ampas tebu dibakar dengan panas sekitar 700 derajat celcius. Hasil pembakaran kemudian ditaruh atau dicemplungkan ke sungai. Setelah didiamkan beberapa saat, kata Indah, medan magnetit eksternal yang terkandung dalam arang ampas tebu akan menyerap unsur limbah yang ada di sungai hingga 57 persen.

"Saya yakin abu ampas tebu ini akan berguna, karena adsorben sulit diregenerasi. Penelitian ini menjadi alternatif untuk pengolahan limbah," harapnya. 

Menurutnya, pencemaran limbah di sungai banyak berasal dari logam berat, salah satunya chromium yang sangat berbahaya bagi manusia.

Chromium, biasanya digunakan industri tekstil, manufaktur dan lain-lain. Chromium dapat menyebakan kanker, keracunan logam berat, dan pneumonia jika dikonsumsi oleh manusia. Padahal, kata dia, air sungai sering dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia sehar-hari.

Editor: Adia Pradana

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.