Share This

Punya Kerutan Mendalam di Dahi? Waspadalah

Seseorang dengan kerutan yang parah memiliki risiko penyakit kardiovaskular 10 kali lebih tinggi, jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki keriput sama sekali.

INTERMEZZO

Kamis, 30 Agus 2018 16:07 WIB

Angelina Legowo
Author

Angelina Legowo

Kerutan jadi tanda penyakit kardiovaskular

KBR - Banyaknya kerutan mendalam di wajah yang berlebihan ternyata perlu diwaspadai. Ada penelitian baru yang mengungkapkan kalau kerutan di bagian dahi yang berlebihan, apalagi di usia muda, menandakan adanya risiko kematian karena penyakit kardiovaskular.

Temuan baru ini menurut peneliti merupakan cara yang mudah dan murah untuk mendeteksi penyakit kardiovaskular, yang berkaitan dengan masalah jantung dan pembuluh darah. 

"Kami meneliti kerutan dahi sebagai penanda karena itu sangat sederhana dan visual. Hanya melihat wajah seseorang bisa menunjukkan tanda bahaya, maka kita bisa memberi saran untuk menurunkan risiko," kata peneliti utama Yolande Esquirol, profesor kesehatan kerja di Center Hospitalier Universitaire de Toulouse, Prancis, dikutip dari Science Daily.

Hasil penelitian yang sempat dipresentasikan dalam European Society of Cardiology Congress 2018. Namun penelitian ini dinilai masih kurang signifikan. Cara tradisional untuk memantau kesehatan jantung, seperti mengukur tekanan darah dan kadar kolesterol, dinilai masih lebih efektif untuk memprediksi risiko kardiovaskular.

Penelitian ini dilakukan selama 20 tahun dengan melibatkan 3.200 partisipan yang berumur 32, 42, 52 and 62 ketika penelitian dimulai. Tanda-tanda penuaan, seperi kerutan di dahi partisipan dilihat dan dinilai berdasarkan jumlah dan kedalamannya. Dari penelitian tersebut, ditemukan 15,2 persen dari partisipan memiliki kerutan yang parah, 6,6 persen memiliki kerutan sedang, dan 2,1 persen tidak memiliki kerutan sama sekali. Seseorang dengan kerutan yang parah memiliki risiko penyakit kardiovaskular 10 kali lebih tinggi, jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki keriput sama sekali.

Faktor seperti umur, jenis kelamin, edukasi, status merokok, tekanan darah, denyut jantung, kadar gula darah dan kolesterol juga diperhitungkan.

Dr. Esquirol mengungkapkan, risiko penyakit kardiovaskular tetap diturunkan. Misalnya dengan mengubah gaya hidup dengan mengaplikasikan pola hidup sehat dan lebih banyak olahraga, atau makan makanan yang lebih sehat. Dia juga merekomendasikan, orang yang mungkin berpotensi dengan risiko kardiovaskular harus memeriksakan diri ke dokter, untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, ataupun kolesterol.

Sebelumnya, ada juga penelitian yang melihat ciri-ciri fisik penuaan sebagai tanda-tanda terkena gangguan kardiovaskular. Misalnya membandingkan keriput dibawah mata atau kantung mata, lipatan di daun telinga,  xanthelasma (kantung kolesterol dibawah kulit) dengan risiko masalah jantung yang lebih tinggi. Namun, dari penelitian-penelitian tersebut tidak ada yang berisiko kematian.

Dr. Esquirol juga mengatakan, walaupun adanya penelitian ini, diharapkan dapat mendeteksi risiko sedini mungkin, tapi masih harus ada penelitian lanjutan agar temuan yang didapatkan lebih signifikan.

"Ini pertama kalinya ada hubungan antara risiko kardiovaskular dan kerutan di dahi sehingga temuan perlu dikonfirmasikan dalam penelitian selanjutnya," kata Dr Esquirol.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.