Share This

Apakah Mengomentari Jojo Membuka Baju Termasuk Pelecehan?

Mengobjektifikasi tubuh seseorang bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual.

BERITA , INTERMEZZO

Jumat, 31 Agus 2018 12:06 WIB

Apakah Mengomentari Jojo Membuka Baju Termasuk Pelecehan?

Jonathan Christie rayakan kemenangan di final bulu tangkis Asian Games 2018

KBR, Jakarta - Setelah menaklukan wakil Taiwan, Chou Tiechen dalam final bulu tangkis tunggal putra di Istora Senayan, Jakarta Selasa (28/8/2018), Jonathan Christie tak henti-hentinya mendapat pujian masyarakat Indonesia. Apalagi usai aksi selebrasinya karena berhasil menyabet emas Asian Games keenam di cabag bulu tangkis tunggal putra, setelah Taufik Hidayat. 

Jonathan yang akrab disapa Jojo ini langsung membuka bajunya setelah meraih kemenangan ruber game dengan skor 21-18, 20-22, dan 21-15. Ini bukan pertama kalinya Jojo merayakan kemenangan dengan membuka baju. Dia juga melakukan aksi tersebut usai menang di babak semifinal melawan wakil Jepang Kenta Nashimoto.

Tak hanya gemuruh dan teriakan histeris para pendukung di Istora saja, aksi penyumbang emas ke-23 Asian Games 2018 ini pun mengundang beragam komentar dari warganet, terutama di media sosial Twitter. Tak hanya ucapan terima kasih karena bangga dengan kemenangannya, cuitan yang bernada seksis mengenai aksi Jojo membuka kausnya juga meramaikan Twitter. Kebanyakan mengomentari fisik Jojo yang berotot dan terlihat gagah. 

Pegiat/konsultan gender dan HAM Tunggal Pawestri mengatakan, komentar semacam itu dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual.

“Itu betul adalah bagian dari pelecehan seksual karena mengobjektifikasi Jojo dan langsung mengasosiasikannya terhadap seksual,” kata Tunggal dalam program KBR Pagi.

Menurut dia, hal ini sebenarnya sama saja dengan situasi ketika perempuan yang mendapat komentar bernada seksual dan menjadi korban. Tunggal Pawestri mengungkapkan, ini merupakan budaya di masyarakat. Masih banyak yang menganggap laki-laki lebih mendominasi dan memiliki peran sebagai pemegang kekuasaan, sehingga mengakibatkan adanya perbedaan dalam menyikapi pelecehan.

“Ketika laki-laki mengaku dilecehkan, itu pasti akan dianggap lemah, apalagi dilecehkan perempuan. Ada pandangan bahwa, nggak apa kok kalo laki-laki menerima pelecehan seksual. Bahkan mereka menikmati kok dilecehkan. Nah, pandangan seperti itu yang sebenernya berasal dari machoisme, kultur patriarki juga,” ujarnya.

Sikap seperti itu menurut Tunggal berhubungan dengan sensitivitas gender dan harus dihentikan. Perlu ada pendidikan mengenai sensitifitas gender agar meningkatkan pemahaman di masyarakat. 

“Ini kan bicara soal sensitifitas gender. Jadi bagaimana perempuan dan laki-laki harus mendapatkan pendidikan soal sensitifitas gender. Dan kultur semacam ini baik di perempuan, maupun di laki-laki tentu harus dihentikan,” kata Tunggal.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.