Share This

Pameran Lukisan Koleksi Istana, Kurator: Saya Merasa Jadi Orang Paling Kaya

Bagi sang kurator ini ibarat pameran sekumpulan luka politik dalam sejarah bangsa yang berhasil disembuhkan oleh karya seni.

BERITA , INTERMEZZO

Kamis, 18 Agus 2016 15:35 WIB

Author

Iriene Natalia

Pameran Lukisan Koleksi Istana, Kurator: Saya Merasa Jadi Orang Paling Kaya

Lukisan karya S. Sudjojono berjudul: Mengungsi.

KBR, Jakarta- Berbagai lapisan masyarakat menggelar sejumlah kegiatan memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 71, Rabu (17/8/2016), kemarin.  Mulai dari upacara bendera hingga berbagai lomba, seperti balap karung, makan kerupuk sampai menghias gapura di pemukiman.

Masih ada satu kegiatan menarik untuk memperingati Hari Kemerdekaan yang bisa Anda coba.  Sepanjang bulan Agustus ini masyarakat disuguhkan pameran lukisan koleksi Istana Negara berjudul “Goresan Juang Kemerdekaan: Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia”. Pameran lukisan ini digelar di Galeri Nasional, Jakarta.

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah lukisan koleksi istana bisa dinikmati masyarakat umum. Ada 28 lukisan karya maestro tanah air yang dipamerkan, antara lain Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdulah dan S. Sudjojono. Pameran lukisan ini juga menampilkan lukisan karya Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Menurut kurator pameran, Mikke Susanto, 28 lukisan yang dipamerkan itu merupakan hasil kurasi dari sebanyak 2800 lukisan koleksi istana. Mikke mengkurasi ribuan lukisan yang sebelumnya tersimpan di Istana Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring (Bali). 

28 lukisan dipilih untuk menyesuaikan tema pameran. Presiden Jokowi, kata Mikke, menginginkan tema pameran yang merepresentasikan 'Kerja Nyata', tagline yang digunakan dalam peringatan HUT RI tahun 2016 ini. Selain itu, lukisan juga dipilih sesuai dengan tema kemerdekaan.

“Semua sub tema ( dalam ruang pamer) yang melandasi semua pekerjaan kita. Kerja untuk Indonesia," ujar Mikke dalam program Ruang Publik KBR, Senin (15/8/2016).

Salah satu pengunjung, Ulin Niam Yusron mengaku sudah dua kali mengunjungi pameran lukisan tersebut. Rasa keingintahuannya pada karya-karya  pelukis maestro itulah yang mendorongnya mengunjungi pameran. Melalui lukisan itu, kata Ulin, masyarakat bisa melihat semangat perjuangan para pelukis.  

“(Lukisan para maestro ini) melecut generasi muda untuk berkarya lebih baik. Bagaimana dulu keadaan tidak seperti sekarang yang serba ada, beli kanvas dan cat mahal. Bayaran lukisan belum jelas. Kalau anak-anak muda hari ini gak berkarya kayaknya kok kebangetan," ujarnya.

Meski begitu, menurut Ulin, akan lebih baik jika lukisan-lukisan yang dipamerkan tidak hanya dilengkapi narasi, namun dilengkapi jumlah pemandu yang lebih banyak. Ini untuk membantu pengunjung memahami sejarah lukisan yang dipamerkan.

"Orang awam pasti butuh penjelasan. Alangkah baiknya jika ada pemandu secara bergelombang, jadi kita gak jalan sendirian lihat lukisan lalu berkomentar, wah keren, tapi tidak tahu sejarah dibalik itu," kata dia.

Alur sejarah dalam pameran 

Pameran koleksi lukisan ini dibagi dalam tiga tema. Ketika anda memasuki ruang pameran, Anda akan disuguhi potret tokoh penting kemerdekaan Indonesia. Antara lain potret "Pangeran Diponegoro Memimpin Perang" karya Basoeki Abdullah, “H.O.S Tjokroaminoto" karya Affandi, dan "Potret Jendral Sudirman" karya Gambiranon Suhardi.


Perjalanan lukisan kemudian mengantar Anda untuk melihat kondisi sosial masyarakat di masa revolusi. Sejumlah lukisan sarat kritik sosial dan gambaran kepedihan masa revolusi Indonesia bisa anda lihat di ruang ini.  Antara lain "Di Depan Kelambu Terbuka" karya S Sudjojono, "Awan Berarak Jalan Bersimpang" dan "Biografi II di Malioboro" karya Harijadi Sumadidjaja dan lukisan karya Soekarno berjudul "Rini".

Di ruangan pamer selanjutnya, Anda akan disuguhkan lukisan-lukisan dengan tema Kenusantaraan yang melambangkan kekayaan sumber daya manusia dan alam Indonesia.  Tak sampai di situ, Anda juga bisa melihat pameran foto 71 tahun kemerdekaan Indonesia.

Mikke Susanto mengajak masyarakat datang dan menikmati lukisan yang menurutnya koleksi terbaik di dunia.

"Kalau berada ditengah-tengah pameran itu, saya merasa jadi orang paling kaya sedunia. Saya dikelilingi mahakarya. Bagi saya pribadi, ini adalah pameran sekumpulan luka politik dalam sejarah bangsa yang berhasil disembuhkan oleh karya seni," ujar Mikke.

Editor: Malika

Ruang Publik mengudara Senin – Jumat jam 9 WIB di 100 radio jaringan KBR. Siaran juga bisa disimak melalui streaming di www.kbr.id dan zeemi.tv: KBR

Info lengkap soal pameran, kunjungi www.galeri-nasional.or.id

    

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.