Tantangan Puasa di Luar Negeri, Dari Jepang Sampai Amerika

Tantangan puasa Ramadan bukan cuma menahan haus dan lapar saja. Di negara-negara lain, para Muslim yang berpuasa juga harus menghadapi tantangan “ekstra”.

INTERMEZZO

Rabu, 15 Mei 2019 15:12 WIB

Author

Fairuz Nurul Izzah

Tantangan Puasa di Luar Negeri, Dari Jepang Sampai Amerika

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Tantangan puasa Ramadan bukan cuma menahan haus dan lapar saja. Di negara-negara lain, para Muslim yang berpuasa juga harus menghadapi tantangan “ekstra”. Ini beberapa contohnya.


Puasa di Jepang: Ritme Hidup Cepat

Di Jepang, Muslim adalah kelompok minoritas. Menurut ketua Organisasi Islam Jepang, Amin K. Tomasu, sampai tahun 2018 hanya ada sekitar 160.000 penganut Islam di sana. Sangat sedikit dibanding total populasi Jepang yang mencapai 126 juta jiwa.

Saat Ramadan tiba, para Muslim yang berpuasa di Jepang pun harus menyesuaikan diri dengan ritme hidup penduduk setempat, yang cepat dan penuh kesibukan.

Menurut Kareman Yassin, seorang mahasiswi pendatang yang berkuliah di Jepang, pelajar dan pekerja di sana umumnya punya aktivitas harian mulai dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam.

Dengan begitu, mereka yang berpuasa harus pandai mengatur energi, serta cermat membagi waktu untuk sahur, berkegiatan, berbuka, dan menjalankan ibadah tarawih di malam hari.


Puasa di Inggris: Menahan Lapar 19 Jam

Menurut Muslim Aid, ada lebih dari 2,5 juta penganut Islam yang tinggal di Inggris. Dan tantangan yang mereka hadapi adalah waktu puasa yang panjang.

Tak seperti di negara-negara Asia yang durasi puasanya hanya sekitar 12 jam, para Muslim di Inggris harus menahan haus dan lapar selama sekitar 19 jam.

Menurut Wardere, seorang imigran berkebangsaan Somalia, puasa Ramadan di Inggris “jutaan kali lebih susah” dibandingkan di tanah asalnya. Di samping karena durasi yang panjang, ia juga harus berpuasa di tengah masyarakat yang mayoritasnya beragama non-Muslim.


Puasa di Amerika: Saling Menghargai dengan Non-Muslim

Sama seperti di Inggris, Muslim di Amerika Serikat (AS) menghadapi durasi puasa yang panjang, yakni sekitar 17 jam.

Muslim di AS juga menghadapi “godaan” lebih banyak karena mayoritas penduduk AS tidak ikut berpuasa.

“Menjalani puasa Ramadan sebagai minoritas memang ada tantangannya. Tapi tantangan itu tidak sampai membuat (kami) tidak bisa puasa,” kata Naeem Baig dari Islamic Circle of North America (ICNA), sebuah organisasi Muslim di AS (5/5/2019).

Menurut Naeem, warga AS umumnya juga menghargai kalangan Muslim yang berpuasa. “Orang-orang dari agama lain umumnya menghargai dan bersikap suportif terhadap teman-teman atau tetangga Muslim mereka,” tambahnya.

Editor: Adi Ahdiat

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.