Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Mari Ingat Lagi Bahaya Merokok

Berikut sejumlah masalah kesehatan yang bisa muncul akibat merokok menurut WHO.

INTERMEZZO , BERITA

Jumat, 31 Mei 2019 13:16 WIB

Author

Adi Ahdiat

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Mari Ingat Lagi Bahaya Merokok

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

KBR, Jakarta - Setiap tanggal 31 Mei, masyarakat global memperingati World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Hari peringatan ini ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) mulai 1988, setelah muncul kesadaran bahwa merokok itu berbahaya.

Berikut sejumlah masalah kesehatan yang bisa muncul akibat merokok menurut WHO:


1. Kanker Paru-paru

Merokok adalah penyebab utama kanker paru-paru. Dari seluruh kasus kematian akibat kanker paru di dunia, dua per tiganya terjadi pada perokok.

Risiko kanker paru-paru bisa turun setelah 10 tahun berhenti merokok. Tapi itupun hanya turun sekitar 50 persen saja.


2. Penyakit Pernapasan Kronis

Merokok menyebabkan chronic obstructive pulmonary disease (COPD) atau penyakit pernapasan kronis.

Penderita COPD bisa mengalami penumpukan lendir dan nanah di paru-paru. Gejalanya meliputi batuk-batuk dan kesulitan bernapas yang disertai rasa sakit.

Pencegahan yang paling efektif untuk penyakit COPD adalah berhenti merokok.


3. Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat virus yang menyerang paru-paru. Dan paru-paru perokok dua kali lipat lebih rentan terserang virus ini ketimbang non-perokok.

WHO mencatat, saat ini seperempat populasi dunia berpotensi terserang TB. Jika sudah kronis, penderitanya bisa mengalami gagal pernapasan hingga menyebabkan kematian.


4. Meracuni Udara

Asap tembakau mengandung sekitar 7.000 zat kimia, dan 69 di antaranya adalah penyebab kanker.

Meski tidak terlihat, asap rokok dapat bertahan di udara hingga lima jam. Dengan begitu, zat-zat berbahaya di dalamnya bisa terhirup dan terakumulasi di tubuh orang-orang yang berada di sekitar smoking area.


5. Meracuni Bayi dan Anak-anak

Berbagai zat yang terkandung dalam asap rokok bisa menghambat perkembangan sel serta mengganggu fungsi paru-paru.

Karena itu, bayi dan anak-anak menjadi sangat rentan terhadap asap rokok.

Bayi dan anak yang terpapar asap rokok lebih berisiko mengalami asma, radang paru-paru, bronkitis, serta infeksi saluran pernapasan. Mereka juga lebih berisiko terkena COPD di usia dewasanya.

WHO mencatat, sudah ada sekitar 60 ribu anak yang meninggal sebelum usia 5 tahun karena infeksi saluran pernapasan terkait asap rokok.


Menghalau Bahaya Asap Rokok

Asap rokok membahayakan bagi perokok aktif maupun pasif. Karenanya WHO mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berperan dalam pengendalian tembakau.

Di level individu dan masyarakat, bahaya rokok bisa dihalau dengan menerapkan gaya hidup bebas asap rokok.

Sedangkan di level negara, WHO mendorong kalangan pemerintah supaya mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) serta menuangkannya dalam kebijakan pengendalian tembakau di wilayah masing-masing.

Di Indonesia sendiri, sudah ada berbagai organisasi dan komunitas yang mendorong pemerintah agar bergabung dalam FCTC, seperti Yayasan Lentera Anak dan Gerakan #FCTCuntukIndonesia.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Jelang Putusan Final MK

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10