Share This

Bisnis Miliaran Rupiah Lewat Sampah

Kini, ia sudah punya 60 karyawan, dan sudah mempunyai pabrik dari Aceh sampai Papua.

BERITA , PILIHAN REDAKSI , INTERMEZZO , OBROLAN EKONOMI

Jumat, 29 Mei 2015 15:59 WIB

Author

Eka Jully

Bisnis Miliaran Rupiah Lewat Sampah

Mohammad Baedowy, pebisnis sampah, saat talkshow di program Obrolan Ekonomi KBR, Juma't (29/05/2015)

KBR- Bagaimana rasanya setiap hari bermain dengan sampah? Tidak seperti kebanyakan orang yang langsung merasa jijik dengan sampah, Mohammad Baedowy justru merasa sebaliknya.

Buat pemilik CV Majestic Buana ini, sampah justru punya sisi lain yang bisa mendatangkan rejeki. Bonusnya, lingkungan sekitar menjadi bersih.

Berkat kemauan dan tekad pantang menyerah, Mohammad Baedowy kini menjadi pemulung yang sukses dan kaya.

Sampah yang ia kelola adalah plastik yang sering digunakan masyarakat. Sebut saja plastik bekas wadah oli, minuman kemasan, shampoo, botol-botol inpus, dan sejenisnya. Sampah-sampah itu ia ambil dari lapak dan pengepul.

Sampah plastik yang ia kelola itu, diproses sesuai jenisnya, lantas disulap menjadi tali rafia, karung, celengan, rumah/plastik untuk sapu ijuk dan sebagainya. Dalam sehari, pabriknya bisa memproduksi  3000 plastik rumah sapu.

"Setiap hari saya bermain dengan sampah.  Baru sekitar 15 tahun mengelola sampah, pengennya sih sampai ratusan tahun ," ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Obrolan Ekonomi, Juma't (29/5/2015).



Dalam sehari, pabriknya bisa menggiling  1-3 ton plastik.  Per kilo plastik,  ia mengantongi keuntungan Rp.500-Rp.1000. Namun, karena dalam sehari bisa menggiling hingga berton-ton plastik, sehari ia bisa meraup untung hingga Rp.3 juta dalam 8 jam kerja. Cacahan plastik yang ia hasilkan, ada yang di ekspor  ke China. Hasil produksinya, dijual lagi ke Indonesia.

"Tak banyak kompetitor yang menjalankan bisnis dengan sampah, padahal modalnya minim dan  resikonya pun rendah. Tak seperti bisnis kuliner makanan atau buah-buahn yang resikonya bisa basi," ujar Baedowy mengungkapkan alasannya. 

Tak cuma memproduksi cacahan plastik dan produk daur ulang, tapi, ia juga membuat dan menjual mesin penggiling sampah. Siapapun yang membeli mesinnya, akan dipasangkan dan dilatih langsung. Tenaga pelatih pun,  akan dikirim ke daerah asal si pembeli. Harga mesin produksinya, berkisar Rp.30-45 juta. Dan, orang-orang yang membeli mesinnya, dirangkul menjadi mitra. Syaratnya, paling tidak mempunyai lahan seluas 300 meter untuk mengelola sampah.  

"Yang membeli mesin kami, dari orang Papua sampai Aceh. Istimewanya, hasil cacahan sampah plastiknya, seratus persen kami beli, dan garansi mesin selamanya. Namun, jika ingin membeli membeli mesin dari saya, harus datang dulu ke pabriknya di Bekasi, supaya bisa dilihat dan mengenal bisnis ini dengan baik," ujarnya

Bukan tanpa hambatan ia bisa meraih kesuksesan seperti sekarang. Diawal memulai usaha, Baedowy mengaku mengalami kondisi yang sulit. Mesin yang ia pakai untuk mencacah sampah plastik, rusak. Janji garansi yang diberikan, tak ditepati. Ia sempat putus asa. Mesin dan pabrik pun hendak ia jual. Tapi, tak ada yang membelinya. Karena itu, akhirnya ia menjalani lagi usaha ini. Mesin yang rusak pun ia benahi. Produksi cacahan plastik, dilanjutkan. Itulah yang membuatnya tergerak juga  untuk memproduksi mesin penggiling sampah.

Kini, ia sudah mempunyai 60 karyawan dan pabrik dari Aceh sampai Papua. Ia pun sudah membangun ratusan jaringan mitra.  Tak sia-sia ia menanggalkan pekerjaannya sebagai auditor bank terkemuka. Karena usaha yang ia rintis sudah menghasilkan milliaran rupiah.  

Meski awalnya, keluarganya meragukan binisnya dan orang-orang sekitar pun mencibir. Belum lagi pelitnya orang-orang yang menjalani bisnis serupa yang mau berbagi ilmu. Namun itu tak menghalangi niatnya untuk terus mengibarkan usaha.

 "Sekarang, saya balas dendam, semua orang yang belajar sama saya, saya janji akan saya  kasih ilmunya"

Setelah puas berkecimpung di bisnis ini selama 15 tahun, kini pria mapan ini, lebih aktif di kegiatan sosial. Seperti mengajar di kampus-kampus sebagai greenpreneur.

"Tingkat kemapanan pengelolaan bisnis itu bisa dilihat dalam  5 tahun. Jika  1 tahun gagal, itu biasa, kalau 3 tahun sudah berhasil, tak usah ge-er. Tapi, kalau 5 tahun masih  jalan ditempat, lebih baik ganti setir saja," pungkasnya

Editor: Malika
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.