Menteri Edhy Ingin 100 Persen Benih Lobster Dibesarkan di Indonesia, Tapi...

“Ada masyarakat kita yang hidupnya tergantung nyari benih lobster ini, dia jual, dia dapat uang, bisa hidup. Kalau tiba-tiba kita larang perdagangan benih lobster ini, jadi pekerjaannya apa?"

BERITA | NASIONAL

Senin, 16 Des 2019 11:37 WIB

Author

Lea Citra, Valda Kustarini, Muthia Kusuma, Adi Ahdiat

Menteri Edhy Ingin 100 Persen Benih Lobster Dibesarkan di Indonesia, Tapi...

Polisi menunjukkan barang bukti benih lobster yang diduga akan diselundupkan ke luar negeri, Surabaya, Jawa Timur, Senin (2/12/2019). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menilai ekspor benih lobster berpotensi mengganggu keberlanjutan ekosistem lobster di Indonesia.

Namun di sisi lain, ia menyebut ada ribuan nelayan kecil yang menggantungkan hidupnya dari perdagangan lobster.

“Ada masyarakat kita yang hidupnya tergantung nyari benih lobster ini, dia jual, dia dapat uang, bisa hidup. Kalau tiba-tiba kita larang perdagangan benih lobster ini, jadi pekerjaannya apa? Saya hanya fokus bagaimana mereka kerja dulu. Ribuan orang yang menggantungkan hidupnya ini, ini dulu yang harus dicari jalan keluarnya. Ini sudah terjadi beberapa tahun dan ini tugas saya untuk mencari jalan keluar yang memang simulasinya banyak,” kata Menteri Edhy di situs Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Senin (16/12/2019).

Menurut Menteri Edhy, salah satu pilihan solusinya adalah mencabut larangan ekspor benih lobster yang dibuat Susi Pudjiastuti, Menteri KKP periode sebelumnya. Namun, opsi ini masih dalam tahap pembahasan.

“Ada opsi untuk ekspor, apakah solusi itu benar? Apakah tepat ekspor 100 persen? Saya tidak akan setuju kalau mau tanya sikap saya. Saya maunya dibesarkan 100 persen di Indonesia karena itulah potensi kita dan akan mendapatkan nilai tambah yang besar,” kata Menteri Edhy.

"Tapi kan kita harus lihat infrastruktur kita seperti apa, sesiap apa. Harapan kita (pembesaran benih lobster) ini akan terealisasi di Indonesia semua, 100 persen," katanya lagi.

“Intinya adalah, dalam langkah satu kebijakan yang akan kami ambil harus mempertimbangkan aspek ekonomi, tetap mempertahankan lapangan pekerjaan yang dulunya ada agar tetap ada, dan menghasilkan devisa negara, namun lingkungannya juga terjaga,” tandasnya.

Dalam waktu dekat, Menteri Edhy menyatakan bakal bertemu dengan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) dan seluruh stakeholder terkait untuk membicarakan persoalan ini.


Akademisi dan Nelayan Tolak Ekspor Benih Lobster

Di kesempatan terpisah, akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Suhana menolak rencana legalisasi ekspor benih lobster.

"Kalau diekspornya dalam bentuk benih itu kita rugi. Kenapa kita tidak bersabar? Kenapa tidak menunggu sampai kepada lobster itu ukuran diatas 200 gram saja? Kalau menurut penelitian, ukuran 300 gram itulah yang memiliki nilai ekonomi tertinggi. Kenapa kita tidak sabar? Artinya jangan serakah supaya lobster ini memberikan dampak ekonomi yang tinggi," kata Suhana kepada KBR, Minggu (15/12/2019).

Perwakilan nelayan di Lombok, Amin Abdullah, juga menyatakan penolakan serupa.

"Jadi ya kami sebenarnya tetap pada posisi tidak setuju dengan ekspor benih, tapi keran untuk mengambil benih lobster untuk dibudidayakan itu akan kami setujui. Karena benih lobster yang diekspor ke Vietnam, maka teman-teman kami yang melakukan budidaya atau pembesaran lobster itu tidak kebagian bibit dia," jelas Amin kepada KBR, Minggu, (15/12/2019).


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Pecah Rekor, Kasus Covid-19 Makin Menjadi

Benarkah Taman Safari Indonesia Beri Pengendara Motor Tiket Gratis Desember ini?

Bagaimana Vaksin Covid-19 Dapat Mendorong Kesehatan Masyarakat?

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 18