Kelas Multikultural, Ruang Keberagaman dari Tanah Sunda

Siswa yang masuk dan dipilih berasal dari ragam suku

Siswa SMK Parigi, Pangandaran saat berdiksusi di kelas keberagaman. (foto: KBR/Taufik)

Selasa, 10 Desember 2019

Lewat konten soal keberagaman, SMK Bakti Karya Parigi di Pangandaran menyentil kondisi Jawa Barat yang dikenal sebagai juara bertahan provinsi intoleran. Bagaimana cara murid-murid di sana belajar soal keberagaman? Jurnalis KBR Ardhi Rosyadi berkunjung ke sekolah tersebut. 

 

- Ruang Keberagaman dari Tanah Sunda
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Pangandaran- Maria Cakra Wellin menyapa pendengarnya lewat siaran radio komunitas. Sebagai murid di SMK Bakti Karya Parigi Pangandaran, Maria banyak memproduksi konten soal toleransi. 

“Bagaimana caranya membuat video, tulisan, atau poster yang ketika orang lain melihat langsung berpikiran bahwa Indonesia beragam. Biasanya kita memproduksi video singkat satu menit, dua menit tetapi yang ngena (bermakna),” ujar Wellin kepada KBR.

Konten yang dihasilkan tak sebatas tugas sekolah, tapi mesti juga disebarluaskan lewat platform digital serta ke masyarakat sekitar.  

Konsep pendidikan di SMK Bhakti Karya cukup unik. Sekolah yang berada di Desa Cinta Karya ini menerapkan sistem multi etnis. Siswa yang masuk dan dipilih berasal dari ragam suku. Ketua Yayasan Dharma Bakti Karya Parigi yang juga pendiri sekolah ini, Ai Nurhidayat mengatakan, keberagaman ini secara tidak langsung akan terbentuk dalam interaksi antar individu. 

“Jadi ada semacam sidang verifikasi siswa. Jadi kami tidak mewajibkan siswa dengan nilai bagus, bahkan akademik kami tidak melihat sama sekali. Apalagi background agama, background kepercayaan, kami tidak melihat itu. Justru yang kami perhatikan apakah siswa ini akan berkembang atau tidak di sekolah ini." ujar Ai Nurhidayat . 

Jadi kami tidak mewajibkan siswa dengan nilai bagus

- Pendiri Kelas Multikultural - Ai Nurhidayat

Tahun 2016, Sekolah ini menciptakan kelas multikultural dengan konsep mengawinkan multimedia dengan keberagaman. Kepala sekolah, Irfan Hilmi menyebut anak muda jadi agen perubahan untuk meneruskan pesan kebaikan secara digital. Ini sesuai visi sekolah, bijak dalam berteknologi. 

“Mengenai program kelas multikultural ini, dimana siswa dapat berinteraksi antarsiswa. Dan bisa membuat konten-konten positif dari adanya kelas multikultural ini. Kemudian yang kedua mengenai multimedia. Jadi konten yang diproduksi baik fotografi, videografi, ataupun penyiar dalam sebuah acara tentu itu merupakan bentuk keseimbangan (dalam berteknologi),” ujar Irfan. 

Sekolah ini menyatu dengan masyarakat, tanpa pagar yang membatasi. Murid yang berasal dari berbagai suku akan berinteraksi langsung dengan warga sekitar. 

Tince, murid asal Ambon, sempat takut ketika akan bersekolah di sini. Ini karena minimnya informasi yang dia dapatkan soal keberagaman. Namun pandangannya berubah setelah masuk ke sekolah ini. 

“Ketika saya di Ambon semua berasal dari satu suku, jadi kita tidak mengetahui perbedaan itu bagaimana. Sampai saya mau sekolah di sini saja takut perbedaan itu. Tetapi setelah saya di sini, saya mengetahui apa itu perbedaan. Sekarang bagi saya perbedaan itu bukan jadi musuh tetapi perbedaan itu untuk menyatukan kita semua. Karena kita Indonesia, “kata Tince

Pendiri kelas multikultural, Ai Nurhidayat menilai, agama, suku, bahasa serta kebudayaan akan menjadi pelajaran baru dalam memahami Indonesia.

“Sekali-kalilah datang ke tempat ibadah lain,agar merasakan suasana orang lain dalam beribadah supaya lahir empati, pengalaman, yang nantinya mengantarkan dia bahwa keberagaman bukanlah masalah, justru anugerah,” tandas Ai.