Jokowi Ingin Gandakan Ekspor Mobil pada 2024

"Caranya bagaimana? Saya tidak mau tahu. Jangan membayangkan tidak bisa."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 12 Des 2019 11:36 WIB

Author

Dian Kurniati

Jokowi Ingin Gandakan Ekspor Mobil pada 2024

Presiden Joko Widodo melepas ekspor perdana Isuzu Traga di Karawang Timur, Jawa Barat, Kamis (12/12/2019). (Antara/Akbar)

KBR, Karawang - Presiden Joko Widodo ingin ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) bisa ditingkatkan hingga tiga kali lipat pada 2024. Jokowi meyakini, ekspor mobil per tahunnya bisa didorong hingga sejuta unit dalam lima tahun, dari yang saat ini hanya sekitar 300 ribu unit.

Menurutnya, ekspor jutaan mobil tersebut bakal berkontribusi besar untuk menyehatkan defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

"Caranya bagaimana? Saya tidak mau tahu. Yang jelas saya lihat Pak Priyono sudah bersalaman dengan Menko Perekonomian dan Menteri Perindustrian, berarti sangat serius. Jangan membayangkan tidak bisa. Kita sering pesimis hal-hal mengenai angka-angka, tapi begitu ada realisasi kita kaget ternyata kita bisa. Kita sering tidak percaya diri, karena apa? Karena kerja tidak pernah pakai target yang terukur dan realistis," kata Jokowi di pabrik Isuzu Karawang, Kamis (12/12/2019).

Keinginan menggandakan ekspor mobil tersebut Jokowi sampaikan saat melepaskan ekspor truk Isuzu yang perdana ke Filipina. Jika tahun pertama hanya menyasar Filipina, kata Jokowi, Isuzu harus bisa menembus pasar di 20 negara dalam tiga tahun mendatang, termasuk Afrika dan Timur Tengah.

Jokowi juga ingin menjadikan Indonesia sebagai jembatan produksi  untuk produk-produk otomotif untuk diekspor ke semua negara. Ia mengatakan, peningkatan ekspor produk-produk jadi, termasuk otomotif, bakal menghilangkan defisit transaksi berjalan dalam empat atau lima tahun mendatang. Adapun pada triwulan tiga 2019, tercatat defisit transaksi berjalan senilai USD 7,7 miliar atau 2,7 persen dari produk domestik bruto (PDB).
 

Sebelumnya Pemerintah juga berniat terus menggenjot produksi sepeda motor, baik untuk ekspor maupun untuk pasar domestik.

"Pemerintah menargetkan (produksi) sepeda motor tumbuh sampai 10 juta unit (per tahun) di 2025, dengan 1 juta unit untuk pasar ekspor, dan 20 persennya adalah sepeda motor listrik," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang, seperti dilansir Antara, Jumat (29/11/2019).

Dalam acara Indonesia International Motor Show (IIMS) Motobike 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Menperin Agus menyebut target itu sejalan dengan keinginan pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listrik Asia Tenggara pada 2030.

Agus menilai produksi sepeda motor mampu memberi kontribusi bagi ekonomi nasional melalui ekspor, investasi, dan penyerapan tenaga kerja.

"Sejak 2010, rata-rata pertumbuhan sepeda motor mencapai angka 6,5 juta unit per tahun. Banyak komponen lokal yang turut tumbuh sejalan dengan peningkatan produksi tersebut," kata Agus.


Kendaraan Pribadi Tumbuh Lebih Pesat dari Kendaraan Umum

Dalam beberapa tahun belakangan, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia memang terus mengalami pertumbuhan.

Namun, pertumbuhan itu paling banyak terjadi pada kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil. Sedangkan untuk kendaraan yang bisa dimanfaatkan secara massal, seperti bus, pertumbuhannya sangat rendah.

Perbandingan jelasnya bisa dilihat dalam Statistik Transportasi Darat yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (27/11/2019).

Menurut data BPS, selama periode 2014-2018 jumlah sepeda motor di Indonesia rata-rata bertambah 6-7 juta unit per tahun.

Dalam periode sama, jumlah mobil rata-rata bertambah sekitar 1 juta unit per tahun.

Sedangkan untuk kendaraan jenis bus, pertumbuhannya hanya berkisar 22 ribu sampai 66 ribu unit per tahun, tidak sampai sepersepuluh dari pertumbuhan mobil.

Dan kini, menurut Asian Development Outlook 2019, sejumlah kota besar di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya sudah masuk ke daftar kota termacet sedunia.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7