Salatiga Peringkat Atas Indeks Kota Toleran, Apa Rahasianya?

BERITA , NASIONAL

Minggu, 09 Des 2018 23:37 WIB

Author

Iriene Natalia

Salatiga Peringkat Atas Indeks Kota Toleran, Apa Rahasianya?

Gerbang kota Salatiga, Jawa Tengah. (Foto: jatengprov.go.id)

KBR, Jakarta - Salatiga. Kota di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Semarang ini dikenal dengan udaranya yang sejuk. Tak hanya adem cuaca, namun juga terasa sejuk karena nuansa toleransi masyarakatnya yang tinggi.

Salatiga kembali masuk peringkat atas sebagai kota paling toleran berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2018 yang dirilis Setara Institute pada Jumat (7/12/2018) lalu.

Salatiga berada di posisi kedua di bawah Kota Singkawang, Kalimantan Barat yang menduduki peringkat teratas.

Apa rahasianya?

Walikota Salatiga, Yuliyanto mengatakan kebijakan yang tidak diskriminatif adalah salah satu kunci menjaga toleransi dengan baik.

"Selain itu juga penggunaan fasilitas umum misalnya lapangan, stadion. Seluruh masyarakat, tanpa terkecuali boleh memanfaatkan. Untuk Natal bersama, salat Id bersama. Semua saling bahu membahu. Saat salat Id, warga Nasrani ikut jaga parkir. Sebaliknya, pas Natal, warga Muslim juga begitu. Ini muncul dari masyarakat sendiri tanpa paksaan. Begitu juga tokoh-tokoh agama, sehingga jamaahnya tinggal mengikuti," kata Yuliyanto ketika dihubungi KBR, Minggu (9/12/2018).

Namun, kata Yuliyanto, kunci paling penting untuk menjaga toleransi adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang relatif baik.

"Kondisi kotanya dimana penduduk di bawah 200 ribu jiwa, angka kemiskinan terkecil di Jawa Tengah, Indeks Pembangunan Manusia tinggi, pendidikan, kesehatan juga tinggi. Ekonomi juga baik. Kalau warga masyarakatnya kenyang, tidak miskin, mereka bisa berpikir jernih. Tidak mudah terprovokasi oleh siapapun," tambahnya.

Ini kali ketiga Salatiga masuk peringkat atas dalam daftar kota toleran di Indonesia. Peringkat papan juga ditempati Salatiga pada 2015 dan 2017. Untuk tetap mempertahankan posisi itu, Pemkot Salatiga secara rutin menggelar pertemuan khususnya para tokoh agama.

"Masyarakatnya sudah tercipta, pemerintah menjembatani saja kegiatan keagamaannya. Tokoh masyarakat dan tokoh agama kita ajak studi banding ke daerah lain. Kami ajak diskusi, sekali seminggu ketemu. Seringlah, baik formal dan non formal. Memudahkan komunikasi, nggak pernah tuh disini ada aksi demo," kata Yuliyanto.

Selain Singkawang dan Salatiga, kota toleran versi SETARA Insititute ini adalah Pematang Siantar, Manado, Ambon, Bekasi, Kupang, Tomohon, Binjai, dan Surabaya.

Kalau Salatiga sudah berkali-kali, masuknya Kota Bekasi sebagai salah satu kota toleran dinilai cukup mengejutkan setelah dua tahun berturut-turut masuk dalam kategori kota dengan toleransi terendah.

Soal ini, Direktur Eksekutif Setara Institute, Ismail Hasan mengatakan variabel yang paling signifikan adalah adanya tindakan nyata dari Pemkot Bekasi.

"Ada perubahan serius dari Walikota dalam menyelesaikan konflik terkait isu izin tempat ibadah. Itu biasanya di tempat lain, kepala daerahnya bimbang bahkan cenderung mendengarkan kelompok penekan seperti Bandung, Kuningan, Bogor. Biasanya mengikuti suara mayoritas. Kalau di Bekasi, walikota malah berani pasang badan untuk menentang kelompok penekan", kata Ismail kepada KBR pada Minggu (9/12/2018).

Selain itu, lanjut Ismail, pemerintah daerah Bekasi tidak cukup hanya dengan dengan memaksimalkan peran Forum Kebebasan Umat Beragama (FKUB). Pemkot Bekasi juga membentuk majelis-majelis kerukunan hingga di tingkat Rukun Warga (RW). Forum kecil ini bertujuan untuk memastikan tidak adanya pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan.

"Mereka (Pemkot Bekasi) menyiapkan perangkat paling dasar yang dekat dengan masyarakat sehingga potensi konflik bisa dideteksi dengan cepat dan bisa diatasi,"kata dia.

Tidak hanya bagi kota toleran namun SETARA Institute menyatakan ada proses pembelajaran penting bagi kota-kota lainnya.

"Kota-kota terbaik jadi rujukan. Proses belajarlah. Sharing knowledge adalah efek yang paling terasa dari adanya indeks ini. Diharapkan ini menjadi instrumen saling tukar praktik-praktik terbaik dalam tata kelola pemerintahan dalam konteks kemajemukan," tutup Ismail.


Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Koalisi Masyarakat Siapkan Strategi Desak Presiden Bentuk TGPF Independen