Pesan Natal Uskup Agung Jakarta: Nilai Tertinggi Demokrasi adalah Kebaikan Bersama

Sebenarnya nilai dasar Pancasila itu sudah ada dalam diri kita hanya sering dirusak oleh kepentingan yang tidak teruji.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 25 Des 2018 12:53 WIB

Author

Dwi Reinjani

Pesan Natal Uskup Agung Jakarta: Nilai Tertinggi Demokrasi adalah Kebaikan Bersama

Umat Katolik melaksanakan misa Natal di Gereja Katedral, Jakarta. Gereja Katedral mengusung tema 'Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita'. (Foto: Antara/Aprillio Akbar)

KBR, Jakarta - Keuskupan Agung Jakarta mengimbau agar umat Kristiani tidak gaduh menghadapi tahun politik.

Dalam pesan Natalnya, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo meminta agar jemaat menerapkan nilai demokrasi dalam pilihannya.

Menurutnya, siapapun yang akan memenangkan kontestasi, bisa memperjuangkan keadilan dan persatuan.

"Himbauan pemerintah itulah himbauan gereja. Pesta demokrasi tidak sekedar demokrasi prosedural tetapi demokrasi yang memperjuangkan nilai demokrasi, dan nilai tertinggi demokrasi adalah kebaikan bersama. Siapapun yang akan nanti menang mestinya memperjuangkan kebaikan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Romo Suharyo, di gedung Keuskupan Jakarta, Selasa (25/12/2018).

Suharyo mengatakan, Keuskupan pada tahun ini sedang mengamalkan isi dari sila keempat yakni ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’ yang harus diaplikasikan pada tahun politik.

Salah satu amalannya, kata Suharyo adalah dengan menguji nalar dan kesabaran agar tidak membuat perpecahan.

"Tidak menggunakan kekerasan, kebohongan. Sebenarnya nilai dasar Pancasila itu sudah ada dalam diri kita, hanya sering dirusak oleh kepentingan yang tidak teruji. Jadi pers dan demokrasi tidak sekedar prosedural. Lalu tidak boleh ada diskriminasi, karena semua warga Indonesia KTP-nya sama," ujar Suharyo.

Ia menyampaikan saat ini instansi yang paling sibuk adalah kepolisian, di mana semua laporan masuk terkait pencemaran nama baik, ujaran kebencian dan lainnya.

Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo melanjutkan, hal-hal semacam itu tidak harus masuk ke tangan polisi, jika semua masyarakat paham batasan dan tahu aturan. Bahkan, katanya, secara tegas Kapolri mengatakan menjamin keamanan seluruh warga negara.

"Bapak Kapolri dan Panglima menjamin, tapi nyatanya belumlah seperti itu. Tapi mereka sudah mengantisipasi dari awal sudah diawasi sudah diolah agar persatuan tetap ada. Namun, kembali lagi kesatuan itu ada pada diri kita dengan mengingat sejarah. Suatu bangsa yang tak punya ingatan bersama akan mudah diacak-acak, tanpa ada semangat kebersamaan," katanya.

Selain perayaan Natal, Keuskupan Agung Jakarta, juga menggelar doa bersama, dan memberikan donasi untuk korban tsunami Banten dan Lampung.

"Keuskupan Agung Jakarta selalu menghimbau umatnya untuk mengumpulkan dana kebencanaan. Jadi dana itu disumbangkan kesegala macam tempat. Sekarang ini ada satu lembaga yang namanya Daya Dharma, itulah satu lembaga dari Keuskupan Agung Jakarta yang menangani soal-soal seperti itu, kemarin ketuanya sudah ke sana," ujar Ignatius, di gedung Keuskupan Jakarta, Selasa (25/12/2018).

Sementara untuk doa bersama, digelar beberapa kali pada misa Natal di Katedral.

Kegiatan itu dilakukan agar jemaat lebih bisa merespons apa yang telah terjadi pada saudara-saudaranya diluaran sana.

"Ya, ada doa tadi juga ada. Sedangkan untuk bantuan berupa dana memang sebisa mungkin dikumpulkan dari umat. Dan saya sangat kagum pada masyarakat kita, jika ada bencana mereka tidak sungkan untuk memberi sumbangan. Saya lihat-lihat di televisi itu sumbangan dana sampai nilainya besar. Artinya masyarakat kita peduli dan tidak sulit untuk membantu sesama," kata Ignatius Suharyo.

Baca juga:

Editor: Kurniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Segera Bubarkan Tim Pengawalan, Pengamanan Pemerintahan, dan Pembangunan Kejaksaan

Kabar Baru Jam 15

Mukhlisin: Toleransi adalah Kesadaran