Bagikan:

Kementerian Koperasi UKM Kembangkan Koperasi Berbasis Ketahanan Pangan

Pemerintah menargetkan ada 65 kluster koperasi berbasis ketahanan pangan di seluruh Indonesia.

BERITA | NASIONAL

Minggu, 04 Des 2016 21:23 WIB

Kementerian Koperasi UKM Kembangkan Koperasi Berbasis Ketahanan Pangan

Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Foto: Antara

KBR, Purwokerto – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mengembangkan koperasi berbasis ketahanan pangan untuk pemenuhan kebutuhan beras dan mengurangi ketergantungan beras impor.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, koperasi tersebut nantinya bergerak dalam bidang pertanian dan hasil pertanian. Kata dia, pihaknya menargetkan ada 65 kluster koperasi tersebut di seluruh Indonesia.  Masing-masing kluster mengelola skala lahan 5000 hektar untuk ketahanan pangan. Saat ini, pihaknya mendirikan empat percontohan, yakni di Sukabumi, Purwokerto, Lumajang dan Lampung.

“Bahwa ada 65 kluster di Indonesia nanti akan kita buat, yang namanya koperasi-koperasi yang bergerak dalam bidang pertanian dan ketahanan pangan. Kita akan buat 65 kluster.  Masing-masing kluster itu skala usahanya mengelola 5000 hektar. Nah, sekarang kita bikin prototype dulu. Ada empat tempat,” jelas Anak Agung Gede Puspayoga, saat meresmikan Koperasi Kampus Unsoed, Purwokerto sebagai kluster koperasi ketahanan pangan, Minggu (4/12/2016).

Lebih lanjut Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan, salah satu prototype atau percontohan yang sudah berjalan berada di Sukabumi. Koperasi tersebut mengelola skala 1000 hektar lahan pertanian. Dia menarget, tiga prototype lainnya segera berfungsi sebagai badan ketahanan pangan langsung beroperasi karena koperasi tersebut sudah berjalan dan dinilai profesional.

Beberapa fasilitas yang ditawarkan koperasi untuk petani antara lain berupa bibit dan pupuk. Kata dia, langkah tersebut ditujukan untuk memotong rentenir. Petani yang masuk dalam skema ini juga diberi gaji dengan angka kisaran Rp2,2 juta per bulan.

Puspayoga menambahkan, gabah hasil panen petani juga akan dibeli oleh koperasi dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga Bulog. Ini sekaligus sebagai upaya koperasi melindungi dan memberi nilai tambah pada usaha tani. 

Editor: Sasmito

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ikhtiar Sorgum untuk Substitusi Gandum

Most Popular / Trending