Gus Dur, Anak Jombang yang Jadi Presiden

Sang Penakluk

NASIONAL

Minggu, 28 Des 2014 02:19 WIB

Author

Antonius Eko

Gus Dur, Anak Jombang yang Jadi Presiden

Gus Dur, 5 tahun Gus Dur meninggal

Serial tulisan terkait Gus Dur ini kami turunkan dalam rangka peringatan lima tahun meninggalnya tokoh toleransi Indonesia. Selain tulisan, kami juga menyajikan kutipan-kutipan menarik dari Gus Dur. 


KBR, Jakarta - Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.  Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren.


Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. Addakhil berarti ‘Sang Penakluk’. Kata Addakhil tidak cukup dikenal dan diganti nama Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Gus adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati abang atau mas.


Belajar di Timur Tengah 


Pada tahun 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar studi Islam di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Abdurrahman Wahid menikmati hidup di Mesir Ia suka menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menonton pertandingan sepak bola. 


Sayang Gus Dur gagal di Mesir. Dia tidak setuju akan metode pendidikan di universitas itu. Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di Universitas Baghdad. 


Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Abdurrahman Wahid pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Gus Dur ingin belajar di Univeritas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. Dari Belanda, Wahid pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.


Nahdlatul Ulama


Karena latar belakang keluarganya, Gus diminta aktif di NU. Awalnya, dia menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasehat Agama NU. Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. 


Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Dewan Penasehat Agama akhirnya membentuk Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Nama Gus Dur begitu popular dan akhirnya dia terpilih sebagai ketua NU pada 1984. 


Gus Dur terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua PBNU pada Musyawarah Nasional 1989. Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan diri untuk masa jabatan ketiga. Kali ini Soeharto menentangnya. Para pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko, berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur.


Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga tentara, selain usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU priode berikutnya.


Jadi Presiden 


Pasca Soeharto mundur pada 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto. Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah lahirnya partai politik baru. Pada Juni 1998, komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru.


Baru pada Juli 1998 Gus Dur menanggapi ide itu karena mendirikan partai politik adalah satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Partai itu diberi nama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada 7 Februari 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presidennya.


Pemilu April 1999, PKB memenangkan 12% suara dengan PDIP memenangkan 33% suara. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.


Taman Kanak-kanak 


Saat menjadi presiden, hubungan Gus Dur dengan DPR tak begitu bagus. Salah satu peristiwa paling dikenang adalah saat Gus Dur menyatakan anggota DPR seperti anak Taman Kanak-kanak (TK). Kata-kata itu terlontar saat Gus Dur menjelaskan perihal pembubaran kedua pos kementerian itu di hadapan DPR, Juli 2001. 


"Beda DPR dengan taman kanak-kanak memang tidak jelas," kata Gus Dur ketika itu. Pernyataan itu memunculkan reaksi beragam. Ada yang marah, ada yang menilai Gus Dur ‘gila’ dan asal berbicara.


Tiga tahun kemudian, ketika Gus Dur tidak menjabat sebagai presiden, muncul ketegangan di gedung parlemen. Waktu itu ada perseteruan antara Koalisi Kebangsaan dan Koalisi Kerakyatan. Koalisi Kebangsaan anggotanya adalah: Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Bintang Reformasi, dan Partai Damai Sejahtera, plus PKB.


Sementara Koalisi Kerakyatan anggotanya: Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, dan Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi. Perseteruan dua fraksi ini pun langsung menjadi olok-olok Gus Dur. "DPR sekarang, biarkan saja seperti ini. Termasuk adanya komisi tandingan dari Koalisi Kerakyatan. Karena DPR bukan taman kanak-kanak lagi tetapi sudah melorot menjadi playgroup," kata Gus Dur


Akhir Kekuasaan 


Pada akhir tahun 2000, terdapat banyak elit politik yang kecewa dengan Abdurrahman Wahid – salah satunya adalah Amien Raies. Ia menyatakan kecewa mendukung Gus Dur sebagai presiden. Pada akhir November, 151 anggota DPR menandatangani petisi yang meminta pemakzulan Gus Dur.


Pada 1 Februari 2001,  DPR bertemu untuk mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Nota tersebut berisi diadakannya Sidang Khusus MPR dimana pemakzulan Presiden dapat dilakukan. Anggota PKB hanya bisa walk out dalam menanggapi hal ini. 


Pada bulan Maret, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan ‘pemberontakan’ pada kabinetnya. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra dicopot darikarena mengumumkan permintaan agar Gus Dur mundur.


Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail juga dicopot dengan alasan berbeda visi dengan Presiden, berlawanan dalam pengambilan kebijakan, dan diangap tidak dapat mengendalikan Partai Keadilan, yang pada saat itu massanya ikut dalam aksi menuntut Gus Dur mundur. 


Pada 30 April, DPR mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang Istimewa MPR pada 1 Agustus.


Gus Dur mulai putus asa dan meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001.


Akhirnya pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan


Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekrit yang berisi  pembubaran MPR/DPR,  mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan membekukan Partai Golkar,  Semua ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekret tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri. 


Pada Pemilu April 2004, PKB memperoleh 10.6% suara dan memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis dan KPU menolak memasukannya sebagai kandidat.


Pada Agustus 2005, Gus Dur menjadi salah satu pemimpin koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan  dan Megawati. Koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama mengenai pencabutan subsidi BBM yang akan menyebabkan naiknya harga BBM.


Kematian 


Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. 


Beberapa kali ia mengalami serangan stroke, diabetes dan gangguan ginjal. Ia meninggal dunia pada  Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama.


Editor: Citra Dyah Prastuti 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Ribuan Buruh Di-PHK di Tengah Wabah Covid-19