Bantuan Lima Juta Rupiah Untuk Korban Meninggal Longsor Banjarnegara

BERITA

Selasa, 16 Des 2014 11:13 WIB

Author

Vitri Angreni

Bantuan Lima Juta Rupiah Untuk Korban Meninggal Longsor Banjarnegara

Banjarnegara, longsor, kemensos, bantuan

KBR - Kementerian Sosial menggelontorkan sekitar 530-an juta rupiah untuk paket bantuan korban bencana longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Untuk memastikan distribusi logistik tersebut tepat sasaran dan tepat waktu, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa terus memperbarui data pengungsi. Simak wawancara lengkapnya berikut ini.

“Lahan yang sekarang longsor itu sudah sangat rawan kalau dibangun hunian lagi. Jadi memang opsinya relokasi, sebelum relokasi maka mereka harus ada tempat hunian sementara. Kalau sekarang mereka ada di pengungsian, makan mereka harus dijamin ketersediaannya, kesehatan mereka harus dijamin ketersediaannya.”

“Kalau daerah Banjarnegara kebetulan di Karang Kobar memang kalau malam cukup dingin, maka selimut-selimut sudah harus disiapkan. Persoalannya kemarin itu titik-titik konsentrasi pengungsian itu semua belum ter-update sehingga masih ada daerah-daerah dimana konsentrasi pengungsi yang belum terdistribusi selimut.”

"Tadi saya sudah cek ke logistik mestinya cukup, saya minta untuk mendistribusikan ke titik-titik dimana yang kemarin belum ter-update supaya assessment kebutuhan bisa dilakukan dan kemudian segera dikoordinasikan untuk pengiriman kebutuhan-kebutuhan hidup.”

“Tadi juga baru saja datang dari Pemprov Jawa Tengah, bahkan ada delapan dokter spesialis diturunkan. Artinya bahwa untuk pelayanan kesehatan insyaAllah cukup. Koordinasi titik-titik konsentrasi pengungsian itu ya memang harus dimaksimalkan karena sinyal agak sulit.”

Ada berapa titik konsentrasi pengungsian?

“Kalau yang tercatat yang besar ada enam, ada yang konsentrasi di rumah-rumah penduduk. Tapi jumlahnya lumayan, terkonsentrasi di rumah penduduk itu ada yang 199, ada yang 89. Tadi saya menyampaikan tolong didata ulang, didatakan secara detil karena yang terkonsentrasi di titik pengungsi itu bisa dibuatkan dapur umum. Tapi yang bersama dengan warga mungkin mereka tidak membuat dapur umum tapi mereka bisa didukung logistiknya.”

Untuk data pengungsi sementara yang Anda dapatkan berapa?

“Kalau yang mengungsi sampai dengan siang ini ada 1.692 orang.”

Untuk memastikan ketersediaan logistik di seluruh titik konsentrasi pengungsian itu memang datanya sudah harus baik atau seperti apa?

“Jadi sebetulnya yang dibutuhkan itu update terhadap suasana terakhir. Mungkin ada titik konsentrasi pengungsian baru atau mungkin ada penambahan jumlah pengungsi di titik-titik konsentrasi itu. Supaya kebutuhan logistik dan kebutuhan lainnya misalnya di situ ada anak-anak bisa terpenuhi.”

Anda memastikan ketersediaan logistik itu dengan menghubungi masing-masing koordinator titik konsentrasi pengungsian ya?

“Iya. Karena dari kementerian punya tanggung jawab untuk dapur umum, meskipun PMI juga menyiapkan dapur umum. Artinya masing-masing dapur umum ini sudah mendekatkan dengan titik konsentrasi pengungsi. Bahkan kalau untuk ketersediaan beras yang bupati itu boleh mencairkan 50 ton itu belum terpakai karena bantuan dari masyarakat masih cukup.”

“Artinya pada posisi logistik insyaallah cukup, kalau pun ada yang terinformasikan belum menerima itu kemungkinan pada koordinasi antarpusat konsentrasi pengungsian saja. Kalau tadi malam karena dari sore yang terlaporkan ke saya 519 orang itu malam sudah 1.300 orang, pagi tadi 1.692 orang. Jadi peningkatan jumlah titik konsentrasi pengungsian itu yang harus ter-update supaya distribusi logistiknya bisa tepat sasaran dan tepat waktu.”

Setelah kunjungan Pak Jokowi ada instruksi khusus untuk Kementerian Sosial?

“Ya pokoknya presiden menyampaikan kepada Kepala BNPB, Menteri PU, dan Menteri Sosial untuk menangani korban bencana tanah longsor di Banjarnegara ini.“

Untuk korban meninggal ada bantuan apa?

“Kita ada uang duka cita dari Kementerian Sosial ada Rp 5 juta. Saya sudah ketemu empat keluarga yang kebetulan anggota keluarganya ada yang dirawat di puskesmas, kemudian ada anggota keluarga lainnya yang meninggal. Untuk yang dirawat di puskesmas saya sudah jenguk mereka dan saya mau jenguk yang sedang dirawat di RSUD.”    

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Pandemi dan Dampak Pada Kesehatan Mental Siswa

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menanti Perhatian pada Kesehatan Mental Pelajar

Kabar Baru Jam 10