Aktivis: Tolong Lihat Kondom dari Sudut Pandang yang Positif

KBR68H, Jakarta - Bertepatan dengan Hari AIDS pada 1 Desember Pekan Kondom Nasional dimulai. Kegiatan itu akan berlangsung hingga 7 Desember mendatang. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengurangi penularan kasus HIV/AIDS di Indonesia.

BERITA

Senin, 02 Des 2013 13:23 WIB

Author

Doddy Rosadi

Aktivis: Tolong Lihat Kondom dari Sudut Pandang yang Positif

kondom, kampanye, hiv aids

KBR68H, Jakarta - Bertepatan dengan Hari AIDS pada 1 Desember Pekan Kondom Nasional dimulai. Kegiatan itu akan berlangsung hingga 7 Desember mendatang. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengurangi penularan kasus HIV/AIDS di Indonesia.

Menteri Kesehatan Dr Nafsiah Mboi, mengatakan tujuan Pekan Kondom Nasional untuk mengurangi penularan virus KIV melalui perilaku seks berisiko. Namun, kampanye tersebut menuai protes dari sejumlah pihak. Kenapa masyarakat masih sulit menerima kondom sebagai salah satu alat untuk mencegah HIV Aids? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dengan aktivis HIV AIDS Baby Jim Aditya dalam program Sarapan Pagi.

Ada Pekan Kondom Nasional, dulu pernah ada rencana semacam ini tapi kemudian ada penolakan. Sekarang ditolak juga bagaimana?

Saya cuma mengutip kata-kata Albert Einstein, dia bilang kalau kita mengharapkan suatu hal hasilnya berbeda dan melakukan hal yang sama berulang-ulang maka itu namanya kita gila. Dari poin seperti itu saja saya ingin kita melihat bagaimana merespon masalah-masalah yang terjadi di sekitar setiap hari. Masalah kita makin lama makin kompleks, makin serius, makin terbuka layer-layer. Bahwa yang paling mobile menjadi penyebar virus HIV adalah ternyata laki-laki yang membeli jasa seks dan karena dari kecil kita tidak terbiasa mendapat pendidikan tentang kesehatan, kesehatan seksual, kesehatan reproduksi maka perilaku kita sangat beresiko. Sebanyak 6,7 juta orang laki-laki dengan sengaja membeli seks dan tidak membeli kondom, sudah pasti tidak akan lapor dong sama istri, pacar, tunangan. Kalau dia tidak lapor, tidak cerita apakah itu berarti semuanya baik-baik saja? pasti tidak. Ketika membeli atau mendapat seks gratis sekalipun karena tidak ada pendidikan untuk menghargai diri sendiri, tidak ada pendidikan untuk menghargai orang lain, keselamatan diri sendiri, keselamatan orang lain maka semuanya berpikir pendek saja yang penting senang dan tidak ketahuan. Kan kuncinya asal jangan ketahuan, ketahuan istri, ketahuan tetangga, ketahuan siapa pokoknya tidak berpikir tentang keselamatan. Akhirnya dari 6,7 juta orang laki-laki yang membeli seks itu kemungkinan besar dia bukan hanya menularkan kepada 6,7 juta orang perempuan yang menjadi pasangan tetap tapi juga menularkan kalau dia punya pasangan lain, selingkuhan, teman bobo siang juga, pacar juga, tunangan juga.
 
Kondom ini sebetulnya juga harus dilihat secara objektif juga ya?

Sama seperti benda-benda lainnya di dunia kondom itu benda netral. Bagaimana kita memandang sebuah benda tergantung terhadap pengetahuan, wawasan, sikap, dan pendekatan yang sama.

Model komunikasi seperti apa yang bisa masuk ke masyarakat soal manfaat kondom ini?

Kita juga tidak bisa memandang persoalan ini hanya ketika sampai di hilir, kita harus melihatnya dari hulu. Jadi makanya harus mau capek, tidak bisa dong ribut-ribut ngomongin ini cuma 1 Desember, tanggal 2 Desember lupa semua. Jangankan melakukan tindakan untuk mengajarkan orang, ingat saja tidak. Nanti bulan Februari, Maret, Juni sudah tidak ada yang ingat padahal orang melakukan hubungan seks tidak aman itu setiap saat setiap waktu. Cuma ribut saja, senang sekali memelihara keributan dan saya rasa media hidupnya dari sensasi-sensasi keributan. Coba kita lihat juga dari sudut pandang yang positif apa sih manfaatnya kondom itu, begitu cara melihatnya. Karena kalau kita memelihara konflik ini terus menerus kemajuan tidak ada, keuntungan bagi orang yang mendengar tidak ada malah yang tertanam adalah yang negatifnya. Barangkali yang mendengar ini adalah untuk pertama kali tahu mendengar informasi tentang kondom. Tapi karena yang dia dengar informasi negatif maka yang pertama dia dengar itu yang menetap dalam ingatan. Kebanyakan orang menolak menggunakan kondom hanya karena dia rasa tidak enak, karena informasi yang dia tahu tidak enak. Padahal dia melihat kondom seperti apa belum tahu, menggunakan juga tidak pernah.

Ada informasi yang salah ya?

Bukan hanya informasi yang salah tapi cara kita memelihara informasi yang salah ini menjadi bisnis di negara ini. Jadi ini celaka karena penyebaran penyakit tidak menunggu sampai anda paham. Saya dari tahun 2000 sudah katakan tentang resiko ibu rumah tangga terinfeksi HIV dari suami tidak ada yang peduli tuh. Baru tahun 2012-2013 baru orang ribut karena ibu rumah tangga yang positif tambah lama tambah banyak mengungguli profesi-profesi lain seperti karyawan, wiraswastawan, dan sebagainya.

Paling beresiko ibu-ibu ya?

Iya karena secara budaya konstruksi gender kita juga tidak imbang antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dikonstruksikan agresif, dominan, menginisiasi tentang seks baik sebelum menikah maupun sesudah menikah. Mana ada orang mempermasalahkan kalau laki-laki punya pacar banyak waktu masih muda tidak ada, malah budayanya menyetujui dengan mengatakan ah namanya juga laki-laki biasa.

Kalau kemudian upaya mencegah ini tahun 2015 Kementerian Kesehatan atau pemerintah berharap tidak ada lagi penularan baru. Kira-kira dengan progres yang saat ini kita lewati bisa atau tidak?

Saya pesimis ya. Karena target MDGs tahun 2015 pelaporannya harus ada 95 persen remaja usia 15-24 tahun yang tahu informasi dasar tentang HIV secara komprehensif, itu belum tercapai. Susah tercapai mau lewat mana pintunya ditutup semua, nanti tinggal ngomel-ngomel saja 1 Desember kenapa begini kenapa begitu. Habis ngomel-ngomel semuanya tidak ada yang bekerja mendidik orang, mengajak orang mengubah perilaku. Yang kerja di bidang penanggulangan HIV/AIDS relatif stagnan itu-itu saja orangnya. Semua orang tidak merasa memiliki isu ini karena masih merasa ini jauhlah, ini persoalan orang lain kalau saya orang baik-baik tidak akan kena HIV.    

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8