BNN: Rehabilitasi Hanya untuk Pecandu Narkotika, Bukan Pengedar

Kejaksaan Agung meminta polisi untuk menyerahkan para penyandu narkoba yang tertangkap ke Badan Narkotika Nasional, BNN. Jaksa Agung Basrief Arief mengatakan, hal ini tertuang di undang-undang tentang narkotika yang telah diperbaharui. Dalam undang-undang

BERITA

Jumat, 21 Des 2012 14:13 WIB

Author

Anto Sidharta

BNN: Rehabilitasi Hanya untuk Pecandu Narkotika, Bukan Pengedar

BNN, Rehabilitasi

KBR68H- Kejaksaan Agung meminta polisi untuk menyerahkan para penyandu narkoba yang tertangkap ke Badan Narkotika Nasional, BNN. Jaksa Agung Basrief Arief mengatakan, hal ini tertuang di undang-undang tentang narkotika yang telah diperbaharui. Dalam undang-undang narkotika yang lama, para pecandu dianggap sebagai pelaku kejahatan. Sementara dalam perubahan undang-undang yang baru, para pencandu adalah korban dari kejahatan narkotika yang harus diselamatkan dengan melakukan rehabilitasi. Bagaimana kesiapan BNN soal ini? Simak ulasan Juru Bicara BNN Sumirat Dwiyanto dalam perbincangan berikut.

Kejagung menerbitkan edaran kepada Jaksa untuk tidak mempidanakan pecandu yang tertangkap oleh Polisi, bagaimana sikap BNN soal ini?

Undang-undang Narkotika No. 3 Tahun 2009 itu disebutkan bahwa pecandu wajib menjalani rehabilitasi medis atau rehabilitasi sosial. Jadi disini pecandu diperlakukan secara humanis, karena mereka adalah korban yang perlu dipulihkan kembali, seperti orang sakit yang lain dipulihkan di rumah sakit.

Selanjutnya pemerintah mengeluarkan PP No. 25 Tahun 2011 tentang wajib lapor bagi pecandu atau penyalahguna narkoba. Disini pecandu diharapkan untuk mau melaporkan dirinya kepada institusi penerima wajib lapor bagi mereka yang cukup umur, bagi yang belum cukup umur bisa dilaporkan oleh orang tuanya, sehingga mereka akan segera mendapatkan rehabilitasi.

Kemudian di Pasal 13 disebutkan juga, untuk penyidik ataupun hakim bisa menempatkan sementara pecandu di tempat rehabilitasi sesuai pada tingkatan proses hukum yang sedang berlangsung. Artinya proses hukum tetap berlangsung apabila mereka tertangkap tangan, apabila mereka yang melaporkan diri tadi itu langsung mendapatkan perawatan rehabilitasi.

Namun kalau tertangkap tangan, proses hukum tetap berlangsung dan diharapkan kalau memang mereka sebagai murni pecandu tidak dilakukan penahanan di lembaga pemasyarakatan, namun dilakukan perawatan rehabilitasi seperti yang ada di BNN ataupun tempat lain.

Bisa dipastikan para pecandu ini tidak ada yang ditahan?

Tergantung proses hukumnya, kalau mereka terlibat juga peredaran narkotika itu mereka sebagai pengedar. Yang dilakukan rehabilitasi yang murni sebagai pecandu narkotika, tidak terlibat pengedaran.

Sejak ada Undang-undang ini sudah berapa pengguna yang tertangkap akhirnya diserahkan kepada BNN untuk direhabilitasi?

Cukup banyak, ada ratusan baik itu dari wilayah seperti Jawa Timur juga ada yang diarahkan. Bahkan ada yang sudah sampai proses kasasi di Mahkamah Agung, Mahkamah Agung sudah memutuskan juga yang dari Kediri khususnya yang usianya masih 19  tahun tertangkap karena menggunakan ganja.

Selanjutnya proses hukum sampai kasasi, di kasasi diputuskan oleh Mahkamah Agung untuk melaksanakan rehabilitasi di BNN. Sekarang sedang menjalani rehabilitasi, bisa pulih dan yang terpenting kita tetap melakukan pendampingan kepada mereka. Ada yang didampingi oleh kawan-kawan LSM, ada juga yang didampingi BNN, disini pendampingan dibutuhkan supaya mereka tidak kembali ke kelompok semula dan mereka bisa berproduksi tanpa narkoba. Sekarang ini pasca rehab, sekarang ini kita mengarahkan pada kegiatan yang bersifat konservasi alam atau kelautan.

Bagaimana membedakan pengguna dan pengedar? apakah ditentukan saat persidangan atau saat ditangkap?

Untuk mereka yang tertangkap tangan oleh petugas, itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kalau kita lihat di surat edaran Mahkamah Agung No. 4 Tahun 2010 itu disebutkan masalah jumlah barang bukti. Kalau jumlah barang bukti melampaui, misalkan tidak mungkin seorang pengguna mempunyai barang bukti yang melebihi batas, misalnya membawa 1 kilogram sabu sebagai pengguna itu tidak mungkin. Artinya dia pasti terlibat pengedaran dan juga harus tes urinnya positif.

Kedua, mereka berdasarkan catatan kepolisian itu tidak terlibat dalam jaringan ataupun peredaran narkotika. Ketiga adalah hasil assessment dari dokter atau tenaga ahli yang ada. Semuanya harus bersih semua, tidak boleh ada salah satu yang tidak terpenuhi, artinya hasil tes urin positif, dokter menyatakan dia murni sebagai pecandu, catatan kepolisian bahwa orang ini terlibat peredaran narkoba, berikutnya jumlah barang bukti memang hanya kecil artinya tidak melampaui batas yang ditentukan.

Jika nanti para pecandu ini diserahkan kepada BNN, biasanya mereka berapa lama menjalani rehabilitasi? Biayanya apakah ditanggung negara atau sendiri?

Untuk biaya ditanggung negara, untuk berapa lamanya itu biasanya tergantung pada tingkatan kecanduan mereka. Namun rata-rata 6-12 bulan itu sudah bisa dikatakan mengalami proses pemulihan dan selanjutnya dilakukan kegiatan yang namanya pasca rehab atau after care. Kita berharap setelah mengalami kedua proses tersebut saudara atau anak kita bisa pulih, bisa melakukan hal-hal produktif tanpa menyalahgunakan narkoba.

Soal rehabilitasi, apakah selama ini hanya di rumah sakit khusus atau bisa di  rumah sakit pada umumnya?


Kementerian Kesehatan sudah memberikan tempat di rumah sakit yang ditunjuk, termasuk rumah sakit umum itu ada tempat perawatan narkoba sekitar 10 persen. Kalau melaporkan dirinya secara sukarela ada 131 tempat yang sudah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan, juga ada tempat-tempat rehabilitasi yang ditentukan oleh Kementerian Sosial.                             

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mendikbud Nadiem Makarim Diminta Perbaiki Mental dan Moralitas