Bursa Ketum PSSI, Ini Visi Calon Eks-Kapolda Metro

"Saya berharap mari bangun sepak bola Indonesia yg kita cintai"

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 02 Nov 2019 12:35 WIB

Author

Resky Novianto

Bursa Ketum PSSI, Ini Visi Calon Eks-Kapolda Metro

Calon Ketua Umum PSSI M Iriawan saat pembukaan KLB PSSI di Jakarta, Sabtu (2/11/2019). (Antara/Sigid)

KBR, Jakarta-    Salah satu calon ketua umum PSSI Mochamad Iriawan menyebut visi misinya sama dengan seluruh calon lain, yang bertanding memperebutkan kursi PSSI 1. Jenderal polisi bintang tiga ini mengatakan, kemajuan sepak bola Indonesia merupakan tujuan utama dirinya dan seluruh calon, apabila nantinya terpilih menjadi ketua umum PSSI. 

Kata Iriawan yang kerap disapa Iwan Bule, semua calon tidak ada yang berbeda, Ia pun menegaskan posisi dirinya sama dengan calon lain dan tidak ada yang istimewa.

"Semua calon ketua punya visi misi yang sama yaitu memajukan sepak bola Indonesia. Kita tentu akan melihat pertimbangan ke depan tentang visi misi yang mungkin sama dengan saya. Kenapa tidak? Kalau memang harus untuk kepentingan sepak bola ya. Jadi semua ketua punya visi misi yg sama, bagus. Oleh sebab itu saya berharap mari bangun sepak bola Indonesia yg kita cintai" ucap Iriawan sebelum Acara KLB PSSI, di Hotel Shangrila, Jakarta, Sabtu (2/11/2019).

Bekas Kapolda metro jaya ini mengatakan, dirinya berkeinginan menjadi ketua umum PSSI, agar bisa membawa sepak bola tanah air kembali berjaya. Iriawan menyebut, Presiden Joko Widodo juga telah memberikan perhatiannya kepada sepak bola tanah air, agar bisa menjadi tuan rumah piala dunia U-20 pada 2021 mendatang.

"Pak Presiden kita atensi sekali kepada bola, beliau mengeluarkan Inpres nomor 3 tahun 2019 untuk percepatan kemajuan sepak bola. Luar biasa. Beliau menulis surat ke FIFA meminta kita menjadi tuan rumah U-20 tahun 2021. Itu luar biasa, ini kesempatan kita untuk sama-sama memajukan sepakbola yg kita cintai. Itu saja, terima kasih." ujar Iriawan.

Diusir

 Enam calon ketua umum menarik diri atau walk out dari arena Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang dilakukan secara tertutup. Salah satu calon, Fary Djemy mengatakan, dirinya bersama lima calon lain diusir oleh Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria saat meminta penjelasan tentang proses KLB itu. 

Kata Fary, dirinya memilih menarik diri, akibat diusir saat kongres berlangsung. Ia bersama, Vijaya Fitriyasa, Yesayas Octavianus, Aven Hinelo, Benny Erwin, dan Sarman El Hakim akhirnya keluar dari arena kongres.

"Saya yang interupsi, kita baru saja mendengarkan sambutannya Pak Menpora, luar biasa ya bagaimana kita hormati pak menpora menginginkan agar kongres ini berjalan dengan baik dan sejuk ya. Untuk itu maka tadi sebelum pengesahan kongres, saya interupsi dan ingin menyampaikan aspirasi secara tertulis kepada FIFA, AFC dan Exco itu saja yang mau kita sampaikan. Begitu interupsi, saya maju ke depan, ini semua menghalangi saya, dorong saya tidak boleh ketemu FIFA, jangankan FIFA, saya mau ketemu sama Exco didorong," ucap Fary Djemy sesaat keluar dari arena Kongres, di Hotel Shangrila, Jakarta, Sabtu (2/11/2019).

Fary Djemy pun menduga ada skenario besar dibalik KLB PSSI kali ini. Dugaan itu muncul, salah satunya dengan masalah voters dan pengusiran oleh sekjen PSSI. Menurutnya, pengusiran itu membuat dirinya dan kelima calon lain kecewa, hingga memutuskan menarik diri dari arena kongres.

"Ada skenario apa didalam kongres ini. Saya menginginkan kongres ini berjalan secara martabat, oleh karena itu kami tidak menginginkan ada kegaduhan, oleh karena itu tadi begitu mulai saya mulai interupsi, saya ingin menyampaikan kepada exco dan catatan kami kepada FIFA, dilarang saya didorong-dorong tidak tahu dari mana dorongan itu. Kemudian itu tadi disampaikan, Sekjen PSSI bilang tidak setuju ya keluar saja, ya sudah lah ya memang mereka sudah menskenariokan seperti itu ya kita tidak ikut-ikutan deh," ujar Fary.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

KPK Serukan Penerapan Sertifikasi Sistem Manajemen Antisuap

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12