BPS: Lahan Pertanian Menyusut karena Sawit dan Real Estate

"Padahal, dalam waktu yang bersamaan pemerintah tengah mengejar target swasembada pangan."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 28 Nov 2019 14:48 WIB

Author

Adi Ahdiat

BPS: Lahan Pertanian Menyusut karena Sawit dan Real Estate

Lahan pertanian beralih fungsi menjadi perumahan di Desa Imbanegara, Ciamis, Jawa Barat, Jumat (15/11/2019). (Foto: ANTARA/Adeng Bustomi)

KBR, Jakarta - Luas lahan pertanian Indonesia terus menyusut. Demikian disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Indikator Kesejahteraan Rakyat 2019 yang dirilis Kamis (28/11/2019).

"Pada tahun 2012 luas lahan sawah mencapai 8.127.264 hektare dan terus menurun hingga mencapai 8.087.393 hektar," jelas BPS.

"Semakin menurunnya luas area persawahan akan berpengaruh terhadap menurunnya luas panen, sehingga berdampak terhadap menurunnya produksi pertanian. Apabila hal tersebut terus dibiarkan, akan berdampak pada ketahanan pangan di wilayah tersebut," lanjut BPS.

Menurut BPS, penyusutan lahan pertanian terjadi di wilayah barat sampai timur Indonesia, yakni:

  • Aceh
  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Riau
  • Jambi
  • Kepulauan Riau
  • Jakarta
  • Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Kalimantan Tengah
  • Maluku


Proyek Sawit dan Real Estate

BPS menyebut penyusutan lahan pertanian banyak terjadi karena proyek perkebunan kelapa sawit dan pembangunan permukiman.

"Provinsi Kalimantan Timur misalnya, penyusutan areal persawahan terus terjadi setiap tahun karena beralih fungsinya lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit," jelas BPS.

"Di Provinsi Maluku penyusutan areal persawahan semakin meningkat sebagai efek dari pembangunan real estate yang terus digencarkan. Padahal, dalam waktu yang bersamaan pemerintah tengah mengejar target swasembada pangan," jelas BPS lagi.


Mentan Syahrul Yakin Tahun Depan Surplus

Meski lahan pertanian menyusut, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebut cadangan pangan nasional masih cukup sampai tahun depan.

"Sisa cadangan yang sudah ada insya Allah bisa memberi daya tahan. Cadangan pangan kita masih cukup hingga panen mendatang," kata Mentan Syahrul, seperti dilansir Antara, Selasa (26/11/2019).

Ia juga optimis pertanian nasional bisa surplus pada tahun 2020 mendatang.

"Untuk pertanian itu sangat tergantung kondisi cuaca, hama, bahkan bencana. Kita tidak tahu bagaimana nanti. Tapi kalau analitik teknokratik yang kita miliki, kita pakai untuk melihat perkembangan, diyakini kita bisa yakin akan surplus," katanya.


Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme