Share This

Ini yang Diusung Kemenkes pada Peringatan Hari AIDS Sedunia

"Karena banyak yang malu dan tabu sama cek sendiri HIV, padahal itu penting banget untuk tau kondisi kita gimana. Itu kenapa tagline kampanye kami: Saya Berani Saya Sehat."

BERITA , NASIONAL

Jumat, 30 Nov 2018 15:51 WIB

Author

Yogi Ernes

Ini yang Diusung Kemenkes pada Peringatan Hari AIDS Sedunia

Foto: Getty Images

KBR, Jakarta - Saban tahun setiap 1 Desember, orang di seluruh dunia memperingati Hari AIDS. Bersamaan dengan itu pula, pelbagai kampanye juga sosialisasi penularan serta pengobatan HIV/AIDS terus dilakukan berbagai kalangan. Termasuk oleh Kementerian Kesehatan.

Kendati begitu, Kementerian Kesehatan menyatakan masih banyak dijumpai diskriminasi juga stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Meski tak merinci jumlah laporan mengenai diskriminasi atau stigma terhadap pengidap ODHA, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PML) Kemenkes, Wiendra Waworuntu mengakui sebagian masyarakat belum bisa terbuka dan menerima.

"Banyak masyarakat yang belum tahu bagaimana cara penyebaran dan penularan HIV ini. Pengetahuan akan HIV yang minim itu juga sangat ditentukan dari tingkat pendidikan, ekonomi, serta lingkungan sekitarnya," kata Wiendra saat berbincang di Program Ruang Publik KBR, Rabu (28/11/2018).

Ia mengungkapkan, stigma dan diskriminasi yang kerap diterima pengidap ODHA membuat mereka merasa terasing. Ini pula yang menurutnya menyebabkan sebagian dari pengidap HIV/AIDS malu untuk pergi ke pelayanan kesehatan.

"Efeknya itu kalau penderita sudah tidak mau pergi ke pelayanan kesehatan, mereka akan putus obat. Kalau sudah putus obat, mereka pasti akan jelek prognosis dan pronosa-nya," jelas Wiendra.

Karena beberapa dampak tersebut, Kemenkes berupaya menekan stigma dan diskriminasi melalui kampanye "Saya Berani, Saya Sehat". Gerakan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari AIDS Sedunia awal Desember ini.

Dalam kampanye tersebut, Kemenkes bakal memberikan sederet seminar juga edukasi mengenai penyakit HIV ke masyarakat. Digencarkannya kampanye ini menurut Wiendra berangkat dari minimnya pemahaman masyarakat seputar HIV/AIDS. Misalnya, soal penularannya. Kurangnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS ini juga membuka celah perlakuan diskriminatif ke ODHA.

Dalam program Ruang Publik KBR, Wiendra menjelaskan penyakit ini hanya bisa ditularkan melalui hubungan seks, pertukaran darah, dan ibu hamil pengidap HIV/AIDS ke anaknya. Gejala HIV pun tak spesifik, bisa demam atau berat badan menurun. Maka untuk memastikannya, satu-satunya jalan kata dia, dengan melakukan tes HIV/AIDS. 

Selain itu ia mengatakan, untuk menurunkan angka penyakit HIV/AIDS dan penyebarannya, pemerintah juga membuat kebijakan menggratiskan setiap obat yang diberikan ke ODHA di masing-masing pusat pelayanan kesehatan. Namun ia menambahkan, kebijakan gratis itu hanya berlaku untuk pemberian obat sedangkan pelayanan kesehatan terkait HIV/AIDS ini tetap dipungut biaya.

"Jadi obat itu bakal ditanggung BPJS ya, bahkan buat masyarakat penderita HIV yang belum terdaftar BPJS juga bisa mendapatkan obatnya secara gratis juga."

Menurut Wiendra, keberhasilan menekan HIV/AIDS bukan saja tanggung jawab pemerintah melainkan juga perlu peran setiap warga. Itu sebab ia pun mendorong masyarakat aktif memeriksa kondisi status HIV/AIDS ke pelayanan kesehatan. Kendati ia menuturkan, hal tersebut memang masih jarang dilakukan karena masih ada anggapan 'miring' ketika melakukan pengecekan tersebut. Padahal, Wiendra menekankan, langkah pemeriksaan status HIV/AIDS penting dilakukan.

"Karena banyak yang malu dan tabu sama cek sendiri HIV, padahal itu penting banget untuk tau kondisi kita gimana. Itu kenapa tagline kampanye kami: Saya Berani Saya Sehat, agar banyak orang yang mulai terdorong untuk mengecek sendiri status HIV mereka," jelas Wiendra.

Baca juga:



Editor: Nurika Manan
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.