KNTI: Nelayan Tidak Pernah Rasakan Harga BBM Bersubsidi

Di satu tempat Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, hari ini harga BBM bersubsidi yang bisa dibeli nelayan di harga Rp 9 ribuan.

BERITA

Rabu, 26 Nov 2014 10:56 WIB

Author

Vitri Angreni

KNTI: Nelayan Tidak Pernah Rasakan Harga BBM Bersubsidi

nelayan, BBM Bersubsidi, kartu nelayan

KBR - Setelah mengeluarkan tiga buah kartu sakti, yakni Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), kini pemerintahan Jokowi melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mengeluarkan lagi kartu sakti bernama Kartu Nelayan (KN). Kartu ini berbentuk semacam “ATM” yang bisa digesek.

Presiden Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) wilayah Sumatera Tajrudin Hasibuan mengatakan kartu ini tidak serta merta menjamin ketersediaan BBM bagi para nelayan. Dan selama ini, nelayan juga tidak pernah merasakan harga BBM bersubsidi. Simak penjelasannya dalam Sarapan Pagi KBR (24/11) berikut ini. 

Nelayan akan mendapat kartu BBM dari pemerintah, tanggapan Anda seperti apa?

“Bicara soal kartu BBM itu bungkusnya sama saja kita pikir dengan kartu-kartu terdahulu yang pernah dikeluarkan sebelumnya. Namun ini juga tidak menjamin bahwa penggunaan BBM di kalangan nelayan tepat sasaran karena penyimpangan itu tetap besar terjadi.”

Celah kebocoran dimana saja itu?

“Celah-celah kebocoran itu adalah pada saat ini berlanjut pada saat nelayan pengguna itu berusaha untuk mendapatkan BBM dalam rangka operasional tentu ini menjadi kendala juga. Alasan keterbatasan pasti akan muncul sehingga ini akan ada semacam peluang untuk mencari hal lain.”

“Mestinya yang harus diperbaiki bukan dalam bentuk kartu kendali, itu seperti lepas tangan bahwa hari ini ketika pemerintah menaikkan BBM terus kemudian membuat kartu kendali. Artinya memang kalau sekilas kita lihat ada pengawasan tapi itu membiarkan pengawasan pada kartu kendali. Itu tidak bisa menjamin penggunaan BBM tidak terjadi pelebihan penggunaan.”

“Karena banyak program yang dikeluarkan sebelumnya juga hanya memberi peluang baru bagi pengguna itu. Kemudian bahwa pengawasan mestinya bagaimana meningkatkan pengawasan mulai dari hulu sampai hilirnya, sehingga pendistribusian ke nelayan-nelayan itu tepat dan terukur.”

Caranya bagaimana?

“Pertama adalah ketika distribusi itu berjalan tentunya pengawasan-pengawasan itu harus sampai ke tingkat dimana distribusi BBM itu dilakukan. Untuk di tingkatan lapisan bawah harus ada juga semacam pengawas khusus untuk mengawasi hal ini. Tentunya memang ini ada sebuah bentuk pengawasan, kita lihat sekarang terjadi kemunduran dalam pengawasan BBM ini.”

“Dulu penggunaan bisa lebih tertib kenapa sekarang bisa lepas-lepas saja itu menjadi pertanyaan yang muncul.”

Apakah Anda sudah mendapat laporan mengenai dampak penaikan BBM ini ke nelayan?


“Iya pasti. Karena memang kita juga berada ditengah-tengahnya. Selama ini sebenarnya nelayan tidak pernah merasakan yang namanya BBM bersubsidi itu sejak runtuhnya rezim masa lalu. Jadi sampai hari ini tidak pernah merasakan BBM bersubsidi, ketika BBM bersubsidi naik ya nelayan juga merasakan naik yang sangat luar biasa.”

“Misalnya di satu tempat Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, hari ini harga BBM bersubsidi yang bisa dibeli nelayan di harga Rp 9 ribuan. Artinya memang dari dulu sampai sekarang nelayan tradisional tidak pernah mendapatkan harga untuk BBM bersubsidi. Jadi tidak ada jaminan bahwa nelayan itu mendapatkan BBM bersubsidi.”

“Kemudian disamping itu juga ketika semua naik hasil laut dengan situasi kondisi lautnya yang semakin kronis, kemudian nelayan membawa hasil untuk dijual malah turun. Ini jadi dilema yang sangat luar biasa, kami sebut apakah skenario ini untuk menghabisi nelayan atau bagaimana karena ini realitanya yang dihadapi.”

Artinya kartu nelayan ini bukan jaminan akan ketersediaan BBM bagi nelayan ya?


“Pasti itu bukan jaminan.”

Jadi nelayan meragukan ini bisa menjamin ketersediaan nanti ketika ini diterapkan?

“Kalau nelayan itu tidak hanya meragukan. Karena memang mereka berada di tengah-tengah laut, di tengah-tengah badai dan ombak itu malah memastikan itu tidak akan bisa jadi solusi. Dipastikan bukan hanya meragukan.”       



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18