Di Palu, Kelompok Minoritas Dilindungi

BERITA

Rabu, 12 Nov 2014 10:42 WIB

Author

Ade Irmansyah

Di Palu, Kelompok Minoritas Dilindungi

Agamas, Toleransi, Palu, Al Khairaat

KBR, Jakarta - “Kami sangat merasakan ketentraman di Palu meski kami minoritas. Keberadaan kami di sini justru dilindungi oleh umat muslim, kita saling berkunjung saat hari raya,” Ujar Pendeta Raintama, Gembala di Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) pada program Talkshow Agama dan Masyarakat KBR dan TV Tempo. Diskusi berlangsung di Pesantrean Al-Khairaat, Palu, Sulawesi Tengah.

Kata dia, Kota Palu, Sulawesi Tengah termasuk salah satu kota dengan karakteristik yang cukup unik. Dari sisi komposisi penduduk berdasarkan agama, tercatat ada 70 persen warga Palu yang beragama Islam dan 30 persen yang beragama Kristen. “Tetangga adalah keluarga terdekat, dan tetangga saya adalah muslim semua dan mereka keluarga saya,” ujarnya.

Menurut dia, Kota Palu sangat berbeda dengan kota lain di Indonesia. Disini, penghargaan terhadap perbedaan atau toleransi sangat besar sekali. Satu sama lain tidak ikut campur dalam masalah kepercayaan, namun saling membantu satu sama lain dalam hal kehidupan sosialnya. “Pluralisme harusnya menjadi sumber kekuatan bagi keberagaman di Indonesia dan di Palu sudah terjadi sejak lama,” ujarnya.
   
Jika dilihat dari sejarahnya, menurut Ketua Bidang HAM dan Demokrasi Pesantren Al-Khairaat, Abdul Gani Jum'at, penyebab yang membuat Kota Palu begitu menghargai perbedaan salah satunya adalah berkat keberadaan pendiri Pesantren Al-Khairaat. Kata dia, ajaran sang ulama besar tersebut dipesantren tempatnya mengabdikan diri, sangat menjunjung tinggi penghargaan terhadap perbedaan. “Palu memiliki Ulama besar yang memengaruhi paradigma berfikir Palu secara keseluruhan. Beliau adalah pendiri Pesantren Al Khairat, Habib Idrus bin Salim Al-Djufrie,” ujarnya.
   
Kata dia, pendiri Pesantren Al Khairat, Habib Idrus bin Salim Aldjufrie biasa disebut guru tua oleh masyarakat Kota Palu sudah terbiasa berinteraksi dengan penganut agama lain dalam berbagai hal sejak dulu. “Dahulu, Guru Tua (sebutan pendiri pesantren Al Khairat) melawan penjajah dibantu umat lain. ini cikal bakal toleransi di Palu yang terus mengakar sampai sekarang,” ujarnya.

Menurut dia, selama tidak menyangkut masalah aqidah atau kepercayaan, berinteraksi dan menghargai penganut agama lain sangat dianjurkan. Salah satu contoh lain betapa kerukunan beragama menjadi harga mati di kota Palu dan sudah diterapkan di Pesantrennya adalah adanya tenaga pengajar dan santri dilembaga pendidikannya yang bukan beragama Islam. “Mahasiswa dan Dosen di Pesantren tidak hanya muslim. Ini untuk semua umat dan ini sudah berlangsung lama,”. Ujarnya. Kata dia,
   
Terkait soal ini, menurut catatan dokumen yang ada di pesantrennya, pada 1957, Guru Tua mengajak Pendeta nasrani muda untuk mengajar di Pesantren Al-Kahirat. “Dia mengajar Al-Jabar (Matematika). Kata Guru Tua, yang dibutuhkan adalah ilmunya, bukan agamanya. Ajaran toleransi Guru Tua bukan hanya teori, dia mengaplikasikan langsung saat berhubungan dengan orang lain yang berbeda agama,” ujarnya.
   
Abdul Gani menjelaskan, tidak adanya usaha untuk saling memahami dan bertoleransi sering membawa kepada perpecahan. Lebih-lebih bagi seorang yang bergerak di bidang pendidikan dan pemikiran keislaman. Perbedaan pada beberapa cabang permasalahan agama tidak dapat dihindari. Perbedaan ini menjadi indah bila disikapi dengan baik, sebab dalam beberapa kesempatan perbedaan ini membuat kita bisa saling mengisi satu sama lain.
   
Menurut Pendeta Raintama Gembala, di Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) memang tidak mudah menghadapi adanya perbedaan. Sebab berkaitan dengan ego diri, reputasi, nama, pemikiran, perasaan, kepentingan, dan berbagai hal lainnya. Orang yang tidak menerima sebuah pendapat walaupun benar, kadangkala bukan karena ia tidak mengetahui bahwa pendapat itu benar. Melainkan karena perasaan ego yang kuat, merasa lebih dibanding yang lain, dan menganggap orang yang menyampaikan pendapat yang berbeda dengannya itu derajatnya dibawah dirinya. Itu tidak dilakukan oleh Guru Tua. “Intelektual yang tinggi dan toleransi yang besar menjadi modal keharmonisan. Itu yang diajarkan Guru Tua kepada masyarakat Palu,” ujarnya.

Raintama berharap toleransi di Kota Palu bisa dicontoh oleh daerah lain di Indonesia. “Dalam al kitab, semua orang beriman, tetapi iman tanpa perbuatan, maka sia-sia. Sebaiknya perbedaan itu dijadikan kekayaan, bukan dijadikan masalah perpecahan,” tutupnya.

Editor: Sutami

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Prabowo Masuk Kabinet, Pengusutan Kasus HAM Diprediksi Mangkrak

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13