Salak Condet dan Lahan Kosong di Ciliwung

KBR68H, Jakarta - 11 November lalu kita memperingati Hari Ciliwung, hari di mana kita kembali diingatkan tentang pentingnya konservasi terhadap sungai terbesar yang membelah Jakarta ini.

BERITA

Jumat, 15 Nov 2013 09:37 WIB

Author

Erric Permana

Salak Condet dan Lahan Kosong di Ciliwung

salak condet, ciliwung, lingkungan

KBR68H, Jakarta - 11 November lalu kita memperingati Hari Ciliwung, hari di mana kita kembali diingatkan tentang pentingnya konservasi terhadap sungai terbesar yang membelah Jakarta ini. Kali ini kita akan fokus membahas salah satu wilayah yang dilewati Kali Ciliwung yaitu Condet, Jakarta Timur. Di kawasan ini ada makanan khas Jakarta yang sayangnya saat ini sudah langka dan bahkan terancam punah.

Itulah Salak Condet. Buah yang sempat mengalami masa keemasan pada sekitar tahun 60-an hingga akhir 80-an ini, saat ini sudah tidak memiliki lahan produksi khusus. Sejumlah warga hanya bisa melestarikannya dengan menanam salak ini di halaman mereka.

Ketua Ciliwung Institute Sudirman Asun mengatakan saat ini kondisi sungai Ciliwung di jantung Kota Bogor, Depok dan Jakarta menghadapi ancaman. Ancaman tersebut adalah bergesernya kehidupan masyarakat ke pinggir sungai lantaran lahan kosong sudah tidak ada. Masyarakat berpotensi untuk membuang sampah di Sungai Ciliwung tersevbut.

“Karena dari segi biaya kehidupan dan tanah lebih murah di pinggir sungai, manusia itu pasti kan sampah, limbah cair, dan kawasan cukupan vegetasi untuk pemukiman,” ujar Asun saat berbincang di Program Bumi Kita KBR68H.

Dia menambahkan kondisi Sungai Ciliwung saat ini bertambah buruk. Namun, kesadaran publik kini bertambah karena masyarakat, pelajar dan mahasiswa seringkali diajak oleh Ciliwung Institute untuk mengenal Sungai Ciliwung bukan sebagai tempat sampah dengan mengadakan kunjungan setiap perayaan Hari Ciliwung.

“Sungai Ciliwung adalah sungai terbesar di Jakarta dan berhubungan dengan ketahanan ibukota, seharusnya banyak orang yang peduli,” kata Asun.

Pemerintah juga belum bertindak soal Sungai Ciliwung, hingga saat ini berdasarkan pantauan Ciliwung Institute, belum ada tindak tegas dari pemerintah. Bahkan Janji Gubernur DKI Jokowi yang akan membuat patroli sungai yang mengawasi warga untuk tidak membuang sampah. Misalkan saja, banyak titik sampah di Sungai Ciliwung wilayah Condet, Jakarta Timur banyak titik sampah yang cukup besar. Selain itu juga di wilayah Pasar Minggu. Kata dia, tidak ada tindakan nyata dari pemerintah.

Dia mengatakan untuk saat ini daerah pembatas sungai yang harus diselamatkan. Dia meminta pemerintah dan masyarakat untuk tidak menduduki daerah bantaran Sungai Ciliwung. Jika nantinya lahan kosong di sekitar Ciliwung akan ditanami tanaman Salak Condet, harus ada kepastian dari pemerintah agar tidak ada lagi pembangunan bangunan.

Lurah Balekambang Condet, Jakarta Timur Ahmad Maulana mengakui bangunan cagar budaya di wilayahnya sudah mulai menghilang termasuk tanaman Salak Condet karena tidak ada lahan. Sebab, bangunan-bangunan dibantaran Ciliwung milik warga. Kelurahaan pun, tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun kata dia, tanaman Salak Condet masih ditanam di wilayahnya oleh komunitas dan RT RW setempat. Meskipun tidak ada wilayah kosong, mereka menanam di wilayahnya masing-masing. Bahkan, kelurahan Condet masih mempunyai Cagar Buah di lahan sebesar 3 hektar. Kelurahan Condet juga mempunyai program mengkampanyekan kepada warga untuk menanam tanaman Salak Condet di pekarangannya masing-masing.

Untuk tidak lagi membangun bangunan di lahan kosong sekitar Sungai Ciliwung, pihaknya telah memberikan himbauan kepada masyarakat. Dia juga mengklaim bakal memberikan sanksi dan menindak siapa saja yang membangun lahan kosong di skitar bantaran Sungai Ciliwung tersebut.
 
Untuk sampah-sampah yang menggunung di wilayah Sungai Ciliwung sekitar Condet, kelurahan berencana untuk membebaskan lahan di wilayahnya. Saat ini tengah dimintakan surat ke Dinas terkait untuk pembebasan lahan kosong. Ahmad Maulana mengatakan lahan kosong sebesar 1500 hektar  tersebut nantinya digunakan untuk menampung sampah di sana.

Namun, hal ini diprotes Ketua Ciliwung Institute Sudirman Asun, lantaran sampah yang menggunung di sekitar bantaran bakal hanyut jika terjadi hujan. Sudirman Asun juga pesimis jika lahan kosong untuk menampung sampah bisa direalisasikan.Sebab, masyarakat saat ini hanya tergiur jika lahan kosong itu didirikan bangunan untuk tempat tinggal.

Dia meminta pemerintah dan masyarakat untuk menjaga bersama lahan di sekitar Ciliwung. Meskipun, sudah tidak ada lahan kosong untuk menanam makanan asli khas Jakarta. Namun, dengan kesepakatan bersama untuk menjaga lahan. Pastinya penanaman pohon lokal akan terealisasi.

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Menteri Nadiem Makarim Diminta Kaji Ulang Kebijakan Kampus Merdeka