Arbain Rambey: Bermodal Kamera Bisa Keliling Dunia

Kecintaannya terhadap dunia fotografi, membawa Om Arbain Rambey keliling dunia gratis.

Jumat, 01 Nov 2013 12:22 WIB

Author

Evilin Falanta

Arbain Rambey: Bermodal Kamera Bisa Keliling Dunia

Arbain Rambey, fotografer, profesi, anak

Sobat teen, om yang satu ini mahir banget menggunakan kamera. Kecintaannya terhadap dunia fotografi, membawa Om Arbain Rambey keliling dunia gratis. Om Arbain berbagai rahasinya hingga menjadi fotografer terkenal. Kunci suksesnya adalah; ia menekuni profesi yang memang ia suka banget atau jadi hobinya.  Yuk kita Simak Bincang Kita bersama Kak Evilin Falanta yang menemui Om Arbain di kantornya.


Mengapa Om Arbain mau jadi Fotografer ?

Dalam diri seseorang itu terkadang ada suatu kesenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar. Saya berasal dari keluarga yang enggak suka motret. Ayah saya, ibu dan paman tidak ada yang kenal sama fotografi. Suatu hari saya menyadari kok begitu senang dengan fotografi, yaitu lewat mengklasifikasikan foto-foto keluarga kok saya tertarik sekali, terus mengumpulkan negatif-negatif (rol film pada kamera analog) yang belum dicetak, kenapa bisa begini dan begitu, nah saya tertarik sekali.


Om memulai menjadi seorang fotografer dan bekerja di Kompas itu dari kapan sih?
Nah, begitu kuliah saya memotret pertama kali 17 Agustus 1977, itu habis upacara saya ingat betul dan kita naik gunung di Semarang. Itu pertama kali saya menjepretkan pakai kamera milik teman saya, Gunawan. Terus setelah kuliah, kamera saya itu jual ke adik saya, tahun 1978 saya belinya. Lalu saya kuliah kamera saya jual, enggak fokus di fotografi lagi sampai saya lulus tahun 1988 dan saya keterima di Papua. Saya disana sebagai insiyur muda membangun museum asmat. Nah, waktu saya berangkat ke Asmat saya mikir sayang banget Papua itu kan impian saya tapi kenapa saya malah enggak punya kamera. Kemudian dengan uang yang ada dan ngutang kesana kemari saya akhirnya membeli lagi sebuah kamera. Saya pun berangkat ke Papua dan motret-motret. Nah, waktu itu yayasan Asmat ada kepala divisi fotografinya, dia redaktur foto Tempo waktu itu. Dia bilang ke saya; “kamu enggak pantas jadi insiyur cocoknya jadi fotografer.” Dia berkali-kali ngoceh itu terus sampai itu merasuk ke saya, apa iya yah? Terus museum itu diresmikan dan diliput oleh wartawan Kompas Manua Kasepo. Saya tanya ke dia, padahal hanya asal ngomong aja, ”Pak melamar di Kompas gimana?” Kata dia, oh bulan depan ada lamaran di Kompas tahun 1989. Akhirnya, saya masuk Kompas tapi saya melamar jadi fotografer tapi keterimanya sebagai reporter. Di situ saya ditaruh di bagian olahraga, begitu masuk saya langsung ke luar negeri terus ngikutin Yayuk Basuki, dan saat liputan saya enggak pernah bawa fotografer tapi saya foto sendiri. Di tahun 1996 saya diangkat menjadi redaktur foto dan itu terus berlanjut sampai 2005, terus ada yang lebih muda menggantikan saya. Dan sekarang saya jadi fotografer senior aja. Waktu saya ditawari lagi jadi redaktur saya sudah enggak mau karena saya lebih suka di lapangan. Soalnya, kalau jadi redaktur itu saya cuma di meja ngatur foto, marah-marah, dan enggak boleh kemana-mana. Waktu peristiwa tsunami Aceh 2004 itu saya masih jadi redaktur, dan saya gondok banget karena orang-orang pada pulang pergi saya cuma periksa foto, tapi sejarah Indonesia yang begitu besar saya tidak pergi. Itu menyakitkan!


Nah, apa yang membuat asyiknya menjadi seorang fotografer?
Profesi apapun kalau berangkat dari kesenangan itu akan menjadi menyenangkan ya. Saya itu mengerjakan profesi saya seperti hobi dan dibayar. Jadi, profesi fotografi itu tidak beda dengan seorang pendongeng hanya saja anda mendongeng dengan kata-kata saya dengan gambar. Saya suka sekali ketika foto yang saya hasilkan bisa ditunjukkan ke orang lain, dan orang itu mengerti bahkan terbawa perasaan seperti yang saya rasakan, bagi saya itu menyenangkan sekali.


Om kan udah banyak pengalaman di dunia fotografi, nah prestasi apa aja yang udah dicapai selama men jadi seorang fotografer?
Prestasi saya tertinggi di dunia jurnalistik itu lomba foto Art Summit. Itu pesta kebudayaan internasional, disitu saya jadi juara tunggal. Kalau bidang jurnalistik semi seni foto-foto saya pernah diterbitkan di Inggris, dicetak di Kanada tahun 2005. Dan waktu 2008 saya juara pertama lomba foto MURI itu juga jurnalistik ya.


Editor: Vivi Zabkie.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18