covid-19

Matthew Girsang, Laki-Laki Penyintas Kekerasan Seksual

Laki-Laki Penyintas Kekerasan Seksual

BERITA | RAGAM

Rabu, 13 Okt 2021 18:12 WIB

Matthew Girsang, Laki-Laki Penyintas Kekerasan Seksual

Love Buzz Season 4 : Matthew Girsang. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta - “Laki-laki tidak perlu bunga, buyung. Kalau perempuan, boleh lah. Tetapi, engkau laki-laki.” Petikan kalimat itu saya ambil dari cerita pendek karya Kuntowijoyo, Dilarang Mencintai Bunga-bunga. Kalau tidak salah, kumpulan cerpen itu kali pertama terbit ya.. lebih kurang 20 tahun sudah lewat ya. Tapi, rasa-rasanya ide mengenai maskulinitas yang seperti itu masih dipercaya dan dianggap ideal. Nah, ini kali saya bakal ngobrol perkara maskulinitas bareng Matthew Girsang, seorang penyintas kekerasan seksual. Bareng Matthew, saya juga bakal ngobrol perkara kekerasan seksual yang dialaminya, kesehatan jiwa, dan ruang aman.

Anda mendengarkan Love Buzz bersama saya, Asrul Dwi.

Love Buzz. Membicarakan perkara yang tidak dibicarakan ketika berbicara perkara cinta.

Q & A

Asrul : Pandemi ini yang.. kita nggak akan tau sampe kapan, kesibukan lo apa aja gitu? Kepengaruh nggak sih?

Matthew: Kesibukan gue sih.. kerja aja sih sekarang. Kalo pengaruh atau nggaknya sih sebenernya.. nggak terlalu berpengaruh. Karena kantor gue fleksibel banget sih, kayak, bisa kerja dari mana aja juga, terus jam kerjanya juga fleksibel. Jadi kalo pengaruhnya banget sih nggak ada, cuma mungkin mempengaruhinya ke pola hidup aja kali ya. yang biasanya bisa sering ketemu temen, atau kalo ada kegiatan-kegiatan itu biasanya offline sekarang jadi online, kayak gitu aja sih,”

Asrul : Kalo kerjaan, lo sekarang lagi di mana?

Matthew: Kalo gue sekarang lagi kerja di Jakarta Feminist. Jadi itu semacem organisasi yang bergerak di isu feminisme dan kesetaraan gender,”

Asrul : Boleh dijelasin nggak sih, atau diceritain. Lo kenapa tertarik bergabung di Jakarta Feminist, gitu?

Matthew: Jadi awalnya gue tau Jakarta Feminist itu tahun 2019 karena waktu itu gue jadi volunteer di Women’s March Jakarta. Pas 2019 itu sebenernya gue masih kerja di tempat lain sih. Terus karena gue jadi volunteer, terus habis itu kayak, wah seru nih di sini, gue juga bisa banyak belajar, gue nemuin temen-temen yang baik gitu, enak, bisa menjadi ruang aman buat gue. Akhirnya gue selalu ikut kegiatannya mereka, sampe akhirnya di tahun 2020 itu.. kebetulan juga waktu itu gue sempet kehilangan pekerjaan. Jadi karena pandemi, di tempat gue yang lama itu ada kayak pemotongan beberapa orang karyawannya, ya lumayan banyak sih. Dan gue akhirnya salah satunya waktu itu.

Nah terus waktu itu gue ditawarin sama pengurus dari Jakarta Feminist itu, mau nggak gabung di staf badan pengurus hariannya mereka. Terus gue kayak, oh yaudah, nggak papa. Karena gue kan juga udah dari 2019, gue udah kenal orang-orangnya, terus gue juga merasa nyaman dan cocok dengan mereka. Akhirnya gue bergabung di situ, dan yaudah sampe sekarang keterusan.

Jadi kenapa gue pengen milih buat bergabung sama Jakarta Feminist karena pertama, isu yang diangkat itu sama kayak apa yang gue percayai dan gue juga perjuangkan itu sama. Terus yang kedua tempat kerja gue yang sekarang kayak bisa menjadi ruang aman buat gue aja sih. Kayak dari gue pas masih jadi volunteer di Women’s March Jakarta 2019, gue udah merasa kayak, oh iya mereka peduli, mereka bisa menjadi tempat buat berbagi yang terpercaya gitu, yang nggak akan nyebar kemana-mana, tempat buat bercerita. Ya pokoknya jadi safe space gue deh. Akhirnya gue memutuskan untuk bergabung,”

Asrul : Sebelum kita ngomongin soal safe space itu, pasti ada rasa.. apa itu jadi ruang aman buat lo. Kita ngomongin soal feminisme dulu kali ya sedikit. Kalo lo sendiri, lo mendefinisikan feminisme itu seperti apa?

Matthew: Hmm..

Asrul : As a guy, gitu, sebagai seorang laki-laki,”

Matthew: Sebagai seorang laki-laki.. feminisme itu adalah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan gitu loh. Jadi di mana kan.. kalo di Indonesia sendiri konteksnya kan budaya patriarki banget tuh. Dimana laki-laki adalah kelompok yang mendominasi sehingga akhirnya perempuan ini menjadi kelompok kedua, gitu, di bawah laki-laki yang keberadaannya di ruang publik itu kurang gitu kan. Bukan kurang dari segi perempuannya tidak mampu ya, tapi karena budaya patriarkinya tadi balik lagi ke situ. Sebenernya kalo menurut gue, budaya patriarki itu merugikan laki-laki juga kok, kayak gitu. banyak banget kerugian yang diakibatkan oleh budaya patriarki itu kepada laki-laki. Cuman mungkin banyak yang belum sadar, kali ya,”

Asrul : Contohnya kayak gimana tuh?

Matthew: Contohnya misalnya laki-laki dituntut untuk kuat, laki-laki dituntut untuk sempurna dalam segala hal karena mereka dianggep nanti akan memimpin, setidaknya memimpin keluarganya dulu lah, kayak gitu. Kalau dia nggak bisa kuat, kalau dia tidak sempurna, gimana dia dapat memimpin, kayak gitu kan. Padahal ya sebenernya laki-laki juga manusia toh, yang ada kelemahannya juga, ada sisi dimana kadang-kadang dia merasa lemah, tidak berdaya, gitu-gitu kan. Cuma di budaya patriarki ini sendiri menuntut nggak boleh nih laki-laki ada cacatnya, gitu. Harus sempurna, harus kuat, harus apa segala. Nah, akhirnya gue pun jadinya kayak, oh iya ternyata feminisme ini mereka memperjuangkan atau mengusahakan kesetaraan toh, kayak gitu. Baru dibalik itu ntar ada turunan-turunannya, kayak mengurangi tingkat kekerasan dan apa segala.

Jadi gue kayak sebenernya sama sih, seperti apa yang gue percayai gitu. Jadi akhirnya kalo menurut gue sendiri, feminisme itu ya itu tadi, memperjuangkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki supaya setara, tidak ada yang tertinggal di belakang, semuanya dapat maju bersama, kayak gitu,”

Asrul : Heem. Tadi kuat yang lo maksud kan bukan kuat secara fisik, tapi mentally juga, kan,”

Matthew: Hmm..

Asrul : Sepaket.. gitu,”

Matthew: Sepaket sih kalo menurut gue, misalnya kayak, laki-laki yang tidak se-macho laki-laki lain, gitu. Nah karena budaya patriarki ini, jadi dulu tuh gue sering banget kayak, di-bully, dibilang bencong, apa lah segala. Sementara kan ya tidak semua laki-laki terlahir macho sesuai dengan konstruksi sosial toh, kayak gitu kan. Kalo di patriarki sendiri ini budayanya kayak laki-laki yang akhirnya dia tidak se-macho laki-laki lain tuh ya udah.. lo juga berarti kayaknya ada yang salah nih dari lo. Kayak gitu sih sebenernya. Kan kalo menurut gue kayak merugikan juga toh, pada laki-laki, kayak gitu,”

Asrul : Maskulinitas yang kemudian dipersepsikan masyarakat itu yang hyper gitu nggak sih?

Matthew: Yang terlalu berlebihan sih, kalo menurut gue,”

Asrul : Heem. Itu dampaknya ya kalo menurut lo, kalo terus-terusan gitu ya, laki-laki didoktrin dengan nilai-nilai atau paham semacem itu, akan berakibat kayak gimana gitu? Tadi kan lo bilang juga banyak orang yang ternyata juga nggak sadar sebenernya kan,”

Matthew: Kita bilangnya apa ya? Toxic masculinity kali ya, kayak gitu. Dampaknya sih banyak banget ya. Kalo misalnya kayak akhirnya jadi laki-laki itu menganggap kalo diri mereka yang berkuasa, gitu loh. Jadi kayak yang paling dominan dalam segala hal, sehingga ketika kelompok-kelompok lain yang di luar kelompok si laki-laki dengan toxic masculinity-nya ini, misalnya ada yang berpendapat, atau ada yang mengambil keputusan, itu mereka tidak menganggap hal itu penting gitu loh. Jadi kayak diabaikan oleh mereka, suara-suara teman-teman tersebut.

Kemudian juga salah satunya yang gue pikir dampak negatif dari toxic masculinity itu adalah jadi laki-laki merasa mereka dapat melakukan misalnya pelecehan, atau kekerasan kepada perempuan atau kelompok minoritas lain. Kenapa? Karena mereka merasa mereka mempunyai kuasa atas perempuan dan kelompok minoritas itu, karena mereka adalah pihak yang dominan di sini, kayak gitu. Sehingga mereka menganggap kalo mereka melakukan pelecehan atau mereka melakukan kekerasan itu adalah hal yang wajar, padahal kan nggak toh, kayak gitu sih. Itu gue rasa beberapa dampak negatif dari toxic masculinity atau maskulinitas yang terlalu berlebihan itu,”

Asrul : Laki-laki tuh jadi.. nggak leluasa buat cerita, gitu juga kan,”

Matthew: Iya,”

Asrul : At least gitu kan, ke orang lain keliatan rapuh. Manusiawi mungkin bahkan, gitu kan,”

Matthew: Iya, betul betul. Gue juga ngerasain itu sih. Salah satu dampak dari toxic masculinity itu adalah.. ya tadi karena laki-laki dituntut untuk sempurna, kuat, sehingga ketika ada suatu kejadian gitu yang akhirnya menempatkan si posisi laki-laki ini sebagai makhluk yang rapuh, gitu. Itu tuh mereka berusaha untuk denial, gitu loh, untuk menutupi hal tersebut. Karena apa? Karena ya balik lagi, mereka takut dicap oleh lingkungan sosial kalo mereka adalah laki-laki yang gagal, kayak gitu misalnya. Padahal kan ya nggak juga toh,”

Asrul : Ada ya, laki-laki gagal,” (tertawa)

Matthew: (tertawa) Ada, dulu tuh gue pernah dibilang sama temen sekolah gue kayak gitu. Lo kayaknya gagal deh jadi laki-laki, gitu. Terus gue nanya kan kenapa. Ya lo main kebanyakan sama cewek, terus perilaku lo feminin. Laki-laki kan gini harusnya, harus yang suka olahraga, apa segala. Terus.. ya waktu itu gue belum paham sih sama kayak gitu, jadi gue kayak.. ya udah diem aja lah. Ya daripada gue cari masalah, ntar malah makin panjang, ntar malah berantem lagi. Gue juga nggak bisa berantem kan,”

Asrul : Padahal kan manusia ciptaan Tuhan ya, katanya ya (tertawa). Kan nggak ada produk gagal ya, manusia ya,” (tertawa)

Matthew: Betul, betul,” (tertawa)

Asrul : Soal menjadi rapuh, gitu ya, bebas bercerita atau terbuka dengan dirinya, gitu. Lo yang kita tau atau mungkin kalo yang dengerin belum sempet kenal lo, gitu kan. Di dunia sosial media gitu, di dunia maya, lo kan ada banyak ngomong soal kekerasan seksual, gitu ya, yang lo alami. Nah boleh mungkin diceritain dulu kali ya, kekerasan yang lo alami kayak gimana sih?

Matthew: Jadi gue tuh pernah diperkosa waktu itu. Terus gue kalo dibilang kenal sama pelakunya waktu itu, gue juga nggak kenal sih sebenernya, nggak yang kenal deket banget. Cuma gue tau, karena kita itu kayak suka nongkrong di satu tempat tongkrongan gitu. Jadi kayak gue tau dia, dia tau gue juga, sampe akhirnya kejadian itu tuh terjadi.

Waktu itu tuh gue lagi nongkrong di situ, terus dia ngajakin gue ke tempatnya dia yang gue waktu itu pikir sih kayak oh yaudah, kayak gitu. Mungkin ya karena sama-sama tau, kayak gitu, dan pengen kenalan, temenan, apa segala. Gue ke situ, dan yang gue nggak tau adalah waktu itu di situ ternyata udah ada orang-orang lain di situ gitu loh. Temen-temennya dia, gue juga nggak tau siapa. Sampe akhirnya ya udah itu waktu itu gue diperkosa di situ, gitu. Sama.. beberapa orang itu. Terus ya.. ya udah itu, terjadi,”

Asrul : Kadang orang kalo denger cerita semacam itu.. korban perempuan disalahkan. Kalo laki-laki mengalami hal yang serupa nggak sih? Atau at least lo pernah denger? Kan lo cowok, harusnya lo ngelawan dong gitu. Hal-hal yang kayak gitu, lo pernah denger nggak? Dan sebenernya kan ini nggak terjadi perempuan doang kan dan laki-laki juga ada, kondisi dimana ketika lo mengalami hal semacam itu, lo kan jadi freeze, gitu ya, atau jadi kaku, gitu nggak sih?

Matthew: Jadi kalo misalnya dibilang disalahin.. pasti disalahin. Karena kalo misalnya ke gue yang laki-laki, ya gue dianggep kayak nggak bisa melindungi diri gue sendiri, gitu loh. Kenapa sih lo nggak bisa melindungi diri lo sendiri? itu pertama. Terus kenapa sih lo mau diajak sama orang yang belum lo kenal deket banget?, sama ya mungkin juga hubungannya misalnya kayak orientasi seksual gue itu kan minoritas ya, gue juga tau itu bakal disalahin juga akan hal itu.

Jadi itu dia kenapa akhirnya setelah kejadian itu gue nggak langsung bisa terbuka, kayak gitu. Gue butuh waktu sampai kemarin 2020 itu.. berarti sekitar 4 tahun untuk akhirnya bisa terbuka kepada umum, kayak gitu. Bahwa gue adalah korban dari kekerasan seksual. Nah kenapa gue takut untuk terbuka waktu itu kepada umum.. kalau untuk terbuka gue udah terbuka kepada keluarga gue, yang gue bersyukur banget sih, gue mungkin salah satu orang yang beruntung (bahwa) orang tua gue itu orang tua yang suportif. Dan mereka open minded, gitu. Jadi mereka tidak menyalahkan gue, tapi mereka menyesalkan hal itu terjadi.

Cuman kalo untuk secara umumnya itu kenapa gue akhirnya memerlukan proses yang lama untuk terbuka.. pertama karena gue takut disalah-salahin. Gue tau gue pasti disalahin, kayak gitu. Karena selama ini yang gue tau juga ketika ada kekerasan seksual yang akan disalahin pertama tuh korban. Kayak, kenapa sih lo nggak bisa melindungi diri? kenapa lo nggak bisa ngelawan ketika hal itu terjadi? kenapa lo mau diajak?misalnya kayak gitu.

Terus yang berikutnya yang gue pertimbangkan sampe akhirnya kenapa gue perlu waktu lama untuk dapat speak up gitu ya. Kesehatan mental gue, gue siap nggak nih. Gue udah merasa aman belom, dan kemarin gue udah merasa pulih dari hal tersebut. Karena kemarin kan ada dampaknya tuh, jadi sepanjang 2016 ke 2020, bahkan sampe sekarang sih gue masih merasakan dampak akibat kekerasan tersebut yang terjadi sama gue. Cuman di tahun 2020 tuh gue ngerasa kayak, oh iya gue udah aman, gue udah ngerasa gue di lingkungan yang aman, temen-temen gue juga udah mengerti, gitu. Lingkungan kerja gue juga aman dan mengerti, keluarga gue juga udah menerima, mengerti, aman.

Dan gue udah ngerasa kalo mental gue kuat untuk dapat cerita nih. Karena ternyata pas gue cerita juga respon dari orang-orang tuh beragam gitu loh, ke gue. Yang ngedukung ada, yang malah ngehina-hina gue juga ada, bahkan sampe ada akun-akun yang anonymous gitu loh yang namanya nggak jelas, fotonya nggak ada, terus following followersnya nggak ada, tapi tuh dia kayak nge-DM in kayak.. wah beragam macem. Dia bilangnya gue yang salah, terus gue bakal dibilang masuk neraka, apa segala, kayak gitu-gitu deh. Jadi ya.. cuman karena balik lagi tadi, gue udah merasa gue di mental yang stabil nih, udah aman buat gue dapat bercerita, akhirnya tentu pendapat-pendapat itu tuh kayak mempengaruhi gue, cuman nggak yang parah banget. Mungkin misalnya gue setelah kejadian itu langsung cerita gitu ke umum, mungkin gue nerima komen-komen gitu bakal dampaknya makin lebih buruk kali ya ke gue,”

Asrul: Tapi lo jadi ini nggak sih, akhirnya juga mungkin menemukan.. Kan tadi di awal kita sempet ngobrol gitu kan soal laki-laki susah cerita karena konsep maskulinitas itu, dan konsep patriarki itu. Akhirnya lo juga menemukan atau lo ketemu orang-orang atau laki-laki lain juga yang jadi korban kekerasan atau pelecehan seksual gitu?

Matthew: Ehm.. gue menemukan setelah gue speak up kemarin. Kalo sebelumnya gue gak tau, mungkin maksudnya kayak, gue tau karena temen-temen, kayak ada temen koalisi ruang publik aman mereka juga melakukan survei toh terhadap kekerasan terhadap masyarakat, yang memang laki-laki menjadi korban walaupun angkanya tidak sebanyak kepada temen-temen perempuan.

Nah cuman gue bener-bener baru tau memang ada laki-laki lain yang juga mengalami kekerasan yang setelah speak up itu. Karena dari salah satu respon yang gue terima di media sosial, di Instagram gue gitu-gitu, itu tuh ada yang cerita akhirnya mereka. Kayak, ‘Kak, aku juga mengalami kekerasan seksual walaupun aku laki-laki, gini gini gini. Bahkan ada yang mereka mengalaminya itu pas masih kecil, cuman nggak cerita sama sekali, terus akhirnya mereka cerita secara personal, nge-DM gue. Dan gue baru kayak, oh ternyata emang bener nih ada, laki-laki juga jadi korban dari kekerasan seksual sebenernya, gitu. Walaupun mungkin secara angka tidak sebesar kekerasan seksual yang dialami temen-temen perempuan,”

Asrul : Kan lo juga cerita sebelum kemudian lo speak up publicly tahun 2020, lo sudah sempet cerita juga ke orang tua lo. Nah itu jarak ketika lo memberikan diri cerita ke orang tua lo setelah peristiwa itu, berapa lama gitu?

Matthew: Mungkin sekitar 7 bulanan deh kalo gue nggak salah. Toh itu sebenernya gue bukan karena emang pengen cerita, nggak. Karena orang tua gue sadar ada perubahan terhadap diri gue, nah itu. Gue kan deket banget sama orang tua gue, dan bersyukurnya gue, orang tua gue tuh yang open minded dan suportif. Jadi segala perubahan yang ada pada gue tuh orang gue tuh paham, kayak gitu. Kayak, biasanya tuh Matthew kayak gini, kok tiba-tiba nggak kayak biasanya lagi gitu. Dan mungkin juga karena gue anak satu-satunya kali ya, jadi perhatian mereka ya emang cuma buat gue, kayak gitu. Jadi mereka langsung sadar kalo ada yang berubah dari gue.

Akhirnya waktu itu orang tua gue, pertama nyokap, yang ngajak gue buat ngobrol empat mata, (nanya) ada apa, kayak gitu-gitu. Awalnya gue juga jawabnya kayak nggak ada apa apa kok, biasa aja, gitu-gitu. Cuman nyokap gue tuh yang kayak tapi kamu tuh berubah, gitu-gitu. Kenapa? kalo ada masalah cerita sama orang tua, mana tau kamu nggak menemukan jalan keluar dan orang tua bisa bantu, kata nyokap gue.

Dan akhirnya karena gue juga merasa oiya orang tua gue peduli sama gue, dan selama ini memang orang tua gue peduli. Bahkan mereka aja menerima gue dengan.. misalnya orientasi seksual gue, itu mereka udah nerima, dari lama itu mereka udah tau, gitu. Jadi gue kayak, ya udah gue cerita aja ke orang tua gue. Karena di titik itu gue juga ngerasa gue udah nggak bisa nyimpen lagi gitu loh. Kayak, gue perlu bantuan orang sebenernya, cuman gue belum tau siapa yang tepat untuk gue minta tolong waktu itu. Akhirnya gue memutuskan untuk.. ya udah cerita ke orang tua gue,”

Asrul: Respon dari orang tua lo itu kayak gimana?

Matthew: Nangis nangis. Nyokap gue nangis. Kayak, ya.. balik lagi, dia nggak menyalahkan gue, cuman dia menyayangkan hal itu terjadi. Sebenernya menurut gue wajar lah ya, orang tua kayak gitu ke anak. Kenapa sih, hal ini bisa kejadian sama anak gue?, gitu kan. Jadi respon orang tua gue pertama waktu itu adalah nangis.

Terus orang gue tuh sempet.. karena waktu itu kejadiannya di Malang kan, dan gue udah di Jakarta waktu itu pas gue cerita. Gue dulu kuliah di Malang, terus itu kejadian di Malang, dan gue pas cerita itu gue udah di Jakarta posisinya. Jadi nyokap gue waktu itu sempet ngajakin gue balik lagi ke Malang, buat nyari orangnya, siapa sih. Cuman emang karena gue juga nggak kenal deket banget nih sama si pelaku yang ngajakin gue itu, apalagi temen-temennya yang lain, gue nggak tau. Itu kita akhirnya nggak ketemu siapa, dan akhirnya gue balik lagi kayak.. ke tempat gue biasa nongkrong, ternyata dia udah lama nggak di situ kata orang-orang. Jadi kita juga nggak ketemu nih, siapa pelakunya.

Gue nggak tau sih, mungkin kalo ketemu mungkin nyokap gue.. namanya orang tua kali ya, kayak, ngebawa ke jalur hukum dan apa segala. Cuman karena emang nggak tau, gue sama nyokap gue balik lagi ke Jakarta, terus nyokap gue memutuskan untuk kayak yaudah kamu yang penting sekarang bisa pulih dulu, dari fisik, mental, apa segala. Masalah pelakunya entah pelakunya ntar nggak dapet, itu masalah yang lain, yang penting kamunya dulu’,”

Asrul : Kalo bokap lo?

Matthew: Bokap gue.. gue nggak tau sih waktu itu. Jadi itu tuh kayak mau marah, cuman nahan gitu loh. Cuman kan ketauan ya, kayak gitu. Dan akhirnya dia kayak lebih memutuskan diem saja. Mungkin menurut gue diemnya dia itu adalah karena dia kaget gitu ke gue, anak laki-lakinya dia, kayak gitu. Walaupun bokap gue juga nggak nyalahin gue sih, jadi bisa gue bilang ya.. sama lah bokap nyokap gue tuh suportif. Cuman peran paling besar dalam pemulihan gue itu adalah di nyokap gue. Istilahnya nyokap gue menjadi pendamping gue selama ini,”

Asrul : Tapi lo ada ke.. ini juga ya? Ke psikolog?

Matthew: Iya, ada. Nah itu adalah salah satunya saran atau usulan dari nyokap gue. Kamu perlu bantuan profesional, katanya. Karena dari perilaku gue saja menurut nyokap gue itu udah nggak kayak gue yang biasanya gitu loh. Terus gue juga dulu sempet menyakiti diri gue sendiri, karena setelah kejadian itu gue tuh sempet kayak ngerasa jijik gitu sama diri gue sendiri. Gue merasa jijik, terus gue merasa gue menyalahkan diri gue sendiri atas kejadian itu. Mungkin karena.. ya balik lagi, konstruksi sosial yang selama ini dibangun adalah laki-laki harus kuat, gitu.

Jadi waktu itu gue merasa kalau gue juga ternyata tidak berhasil untuk melindungi diri gue sendiri sampe akhirnya kejadian itu terjadi sama gue. Dan ternyata hal itu mempengaruhi mental gue, mempengaruhi cara gue buat berinteraksi ke orang lain. Gue jadi gampang marah, gue jadi gampang ngamuk, gue takut ketemu orang banyak, gue jadi susah tidur, gue bahkan waktu itu sampe muntah-muntah, terus gue juga sampe menyakiti diri sendiri, yang mana waktu itu nyokap gue bilang kita harus ke profesional nih, untuk membantu kamu lewat dari masa ini, kayak gitu. Karena nyokap gue juga nggak mampu toh, ngebantu gue.

Secara pribadi gue juga perlu bantuan, akhirnya itu tuh nyokap gue ngajak gue ke psikolog. Nah setelah dari psikolog itu, ternyata gue perlu terapi obat, kayak gitu. Jadi nggak bisa hanya konseling aja, gue juga butuh bantuan obat untuk menenangkan gue waktu itu. Misalnya gue lagi nge-down banget, itu tuh gue perlu terapi obat, akhirnya gue ke psikiater,”

Asrul : Depresi, atau…?

Matthew: Iya, semacam depresi gitu. Jadi dulu temen-temen gue suka bilang gue bipolar kali ya, tapi bukan. Jadi mood gue tuh entah ya.. rata, atau gue nge-down banget. Tapi emang bakal sering nge-down banget. Waktu itu psikolog gue nyaranin kalo gue perlu terapi obat, kayak gitu, nggak bisa yang gue cuma sharing cerita, gitu-gitu. Akhirnya gue ke psikiater waktu itu,”

Asrul : How are you now?

Matthew: Sekarang.. gue sudah pulih. Gue udah bisa ketawa sekarang. Cuma dampaknya apa ya.. gue masih susah tidur sih. Jadi bahkan temen-temen kantor gue juga tuh kayak lo perlu istirahat Mat, tapi gue tuh masih ngalamin yang masih susah tidur gitu loh. Jadi ketika gue coba tidur gue kayak ketakutan, dan gue ngerasa masih kayak.. aduh, ntar gue bakal kena lagi nggak ya hal kayak gini? kayak gitu. Dan ketakutan-ketakutan kayak gitu masih ada, jadi sampe sekarang gue masih susah tidur. Terus hal lainnya yang banyak nggak ketahui adalah.. jadi gue tuh dulu nggak sebesar ini badan gue. Gue dulu ya.. kalo secara physically itu sesuai dengan tuntutan lingkungan sosial. Orang yang fit itu yang kayak gimana, kayak gitu,”

Asrul : (tertawa) okay,”

Matthew: Tapi semenjak kejadian itu, semenjak gue udah ke psikiater, salah satu dari diri gue sendiri untuk gue merasa aman adalah gue harus memperbesar badan gue, membuat gue se-tidak menarik mungkin supaya orang nggak ada lagi yang mau gangguin gue. Itu sih yang gue masih belum pulih. Maksud gue kayak.. sebenernya kan kejadian kekerasan seksual salahnya ada di si pelaku toh, bukan ada di korban, gitu.

Jadi seharusnya korban nggak perlu untuk sampe merubah dirinya sendiri supaya untuk dirinya merasa aman, karena yang salah itu si pelakunya. Cuman dalam hal itu gue masih kayak yang oiya gue harus membuat diri gue setidak menarik mungkin, supaya nggak ada lagi orang yang mau ngedeket ke gue atau tertarik, atau menjamah gue, gitu,”

Asrul : Artinya meskipun sekarang lo sudah lebih stabil, dan itu bikin lo lebih bebas, gitu kan untuk mau cerita. Tapi di sisi lainnya, proses pemulihan itu masih terus berjalan, gitu ya?

Matthew: Masih, masih. Karena kalo menurut gue sih, setiap orang itu misalnya dia amit-amit ya, mengalami kekerasan seksual. Dampak yang dirasakan setiap orang kan berbeda-beda gitu loh. Sehingga proses pemulihannya juga bakal berbeda-beda, jadi kadang-kadang tuh ada orang yang kayak alah kan lo cuman dilecehkan secara verbal, gitu aja lo udah gimana gimana, gitu, padahal orang tuh nggak tau dampaknya ke orang tuh beda-beda gitu loh. Bahkan mungkin kayak pelecehan verbal atau cat calling gitu misalnya ya, yang terjadi ke orang tuh bahkan mungkin bisa berdampak yang besar banget terhadap si korbannya. Cuman orang nggak sadar, gitu loh. Jadi kalo gue dibilang masih dalam proses pemulihan.. karena ya itu, setiap orang tuh dampaknya ke mereka tuh beda-beda gitu loh, sehingga prosesnya juga beda-beda.

Jadi kita nggak bisa menuntut seseorang, yang misalnya mengalami kekerasan seksual ya, untuk pulih cepat gitu. Atau kayak aduh ini kok udah lama banget lo belum pulih-pulih ya? gitu, itu tuh nggak bisa kayak gitu. Tapi sayangnya masih ada orang yang kayak oh harusnya sih lo udah pulih ya, kan ini udah lama, kayak gitu. Ya.. nggak bisa digituin sebenernya,”

Asrul : Tapi apa yang waktu itu bikin lo mungkin yang.. kemudian lo temuin ya selama proses pemulihan dan ngobrol sama psikiater atau psikolog itu, yang bikin lo kemudian akhirnya berani buat ngomong, gitu? ada nggak sih, hal spesifik atau turning point mungkin?

Matthew: Turning point gue.. hm.. yang gue dapet dari bantuan profesional itu ya.. Jadi waktu itu kan gue dikasih terapi obat itu toh, dan gue terapi obat itu sampai 2018 bulan Juni, itu terakhir gue ngambil obat. Karena menurut psikiater gue waktu itu adalah kamu nggak usah pake obat lagi juga udah stabil kok ini, ya nanti kalo misalnya ada apa-apa yang terjadi ya kamu balik lagi, datang lagi ke sini. Cuman kalo dari progress udah bagus banget, dari kestabilan emosi juga udah bagus banget, kata psikiater gue waktu itu.

Jadi akhirnya gue berenti ngambil obat, dan gue merasa kayak oh ternyata gue emang udah pulih nih, didukung juga dengan temen-temen gue yang juga mendukung gue, terus gue ada di lingkungan yang tepat, keluarga gue juga suportif banget dari awal, sehingga itu jadi turning point buat gue sih. Kayak, gue harus cerita nih, ke orang lain, kayak gitu, supaya orang lain tuh tau kalo memang ada juga nih laki-laki yang mengalami kekerasan. Mungkin itu bisa nanti di luar sana jadi memancing laki-laki lain yang mengalami kekerasan untuk mereka juga dapat bercerita, gitu loh.

Karena kalo seseorang mengalami kekerasan terus mereka nggak bisa cerita, itu dampaknya ke mereka sendiri sebenernya bahaya banget, kayak gitu. Jadi akhirnya itu lah hal-hal yang jadi turning point gue kenapa akhirnya gue bisa untuk bercerita dan memutuskan untuk bercerita secara umum, gitu loh,”

Asrul : Dan secara nggak langsung juga lebih nguatin lo, gitu nggak sih?

Matthew: Iya. Secara nggak langsung lebih nguatin, terus yang gue setelah cerita itu.. itu gue kayak ada beban yang keangkat gitu loh. Jadi kayak, mungkin selama ini kayak ada yang gue tutup-tutupin, tapi akhirnya tuh terangkat, jadi gue lebih lega aja sih, lega banget,”

Asrul : Liberating, gitu ya?

Matthew: Betul, bisa lebih jadi otentik,”

Asrul : Masih dalam proses pemulihan ya. Tapi cara pandang lo sendiri melihat lo yang waktu itu dan yang sekarang, gitu. Sesudah peristiwa kekerasan yang lo alami dan sekarang, kalo lo ngeliat diri lo sendiri kayak gimana?

Matthew: Gue ngeliat diri gue sendiri.. kalo ngeliat dari sebelum kekerasan ya. Sebelum terjadinya kekerasan seksual itu kepada gue, gue itu tipe orang yang berani buat bilang apa yang ada di pikiran gue. Terserah ntar orang lain nggak terima, atau misalnya orang lain sakit hati karena itu, itu dulu gue kayak masa bodo amat, yang penting gue adalah gue, gue berani mengutarakan apa saja yang ada di pikiran gue yang menurut gue benar, gue bakal lakukan, walaupun itu misalkan menurut orang lain nggak bener, gitu.

Terus setelah kejadian itu, gue sempet menarik diri kan dari umum. Gue juga nggak ketemu sama temen-temen gue, gue cuma di kamar doang waktu itu. Itu fasenya juga lumayan lama banget waktu itu, gue sampe berbulan-bulan waktu itu, gue takut ketemu sama orang. Nah perubahan yang gue rasakan sekarang adalah gue jadi lebih tertutup kali ya, sebenernya. Gue jadi kalo di lingkungan sosial itu gue jadi awkward gitu. Karena gue takut nih, ketemu temen baru. Kayak, gue udah pulih, cuman gue masih takut buat ketemu orang baru sebenernya, buat kenalan sama orang baru tuh gue masih takut. Jadi kalo gue belum tau detail orangnya banget, itu gue nggak mau ketemu cuman gue berdua doang, itu gue nggak mau. Karena masih ada perasaan-perasaan takut jangan-jangan ntar gue kejadian lagi nih, kayak gitu.

Terus gue menjadi lebih.. sebenernya bukannya nggak bebas sih, cuman kayaknya masih.. mungkin efek ya, dampak dari kekerasan itu kepada gue memengaruhi gue jadi kayak gue masih sebenernya belum bisa menjadi diri gue sendiri lagi, kayak gitu loh. Cuman ya itu gue bilang kan, gue masih pemulihan loh, walaupun sebenernya udah banyak banget pemulihan yang terjadi ke gue, cuman kalo dibilang apakah gue bakal bisa balik lagi seperti Matthew yang sebelum kejadian itu terjadi.. gue juga nggak tau sih bisa apa nggak.

Kadang-kadang tuh gue juga mikir, bahkan temen-temen gue ikut mikir, kayaknya gue dulu lebih oke deh Mat daripada yang sekarang, kok sekarang lo kayak gini, gini, lo lebih tertutup, lo jadi canggung, lo jadi awkward. Sama satu lagi tuh gue sering banget sekarang minta maaf, gue nggak tau kenapa. Kayak apa aja yang gue lakukan tuh salah gitu loh, jadi gue kayak takut, dan akhirnya bilang maaf yaa ini kalo kayak gini, gini, itu sering banget gue kayak gitu. Yang which is sebenernya itu dulu nggak pernah gue lakukan sama sekali, kayak gitu. Karena ya gue ya percaya diri banget nih sama diri gue. Cuman akhirnya ya itu, karena kejadian itu gue merasa pun akhirnya diri gue diambil gitu loh, kayak yaudah semuanya tuh diambil. Ya kepercayaan diri gue apa, semua gue tuh diambil, jadi sekarang ya gue sebenernya bukan Matthew yang dulu lagi, cuman maksudnya kayak ya setiap orang pasti berubah kan.

Kalo ada temen gue yang bijak, dia tuh suka bilang kayak ya mungkin sebenernya Matthew yang sekarang ini lo yang sebenernya Mat, kayak gitu. Dinamika orang kan ada proses perubahan dalam hidupnya, jadi kayak selama lo nyaman, lo masih ngerasa aman dan tidak merugikan diri lo dan orang lain, yaudah jalanin aja,”

Asrul : Kalo gue secara pribadi, gitu ya. Emang kadang suka berpikir gue dulu kayak ini, sekarang kayak gini, gitu kan. Tapi lo ngerasa ini nggak sih.. do you miss your old self?

Matthew: Kalo dibilang gue kangen nggak sama diri gue yang lama.. kangen cuy. Karena kayak.. ngerasa takut, ngerasa lo awkward, ngerasa ada ketakutan hal yang sama bakal terjadi sama diri lo lagi tuh nggak enak, gitu loh. Kayak ada bayang-bayang yang ngikutin lo gitu, ngebayang-bayangin lo sehingga lo nggak bisa lebih leluasa. Sementara diri gue yang lama itu kayak lebih bebas dalam artian ini adalah gue, gue bisa ngelakuin apapun yang gue mau, tanpa ada batasan-batasan gu harus takut, gue harus merasa canggung, gue tidak percaya diri, gitu-gitu,”

Asrul : Dulu lo mencintai diri lo sendiri nggak sih? Self love itu lo udah punya belum dalam diri lo?

Matthew: Dulu?

Asrul : Heem,”

Matthew: Oh, banget (tertawa). Sampe gue kadang-kadang dibilang selfish, egois, karena tingkat self lovenya terlalu tinggi,” (tertawa)

Asrul : (tertawa) “Kalo sekarang?

Matthew: Kalo sekarang… ngg.. nggak? Maksudnya nggak itu karena susah. Bukannya susah untuk mencintai diri sendiri ya, tapi susah untuk melakukannya karena ya tadi, ada hambatan-hambatan yang gue masih ngerasa takut, gue ngerasa apa saja yang gue lakukan itu salah, percaya diri gue juga jadi kurang, gitu-gitu. Kalo self love sih setiap orang pasti menerapkan self love, karena tiap orang pasti pengen yang terbaik buat dirinya sendiri. Cuman dalam implementasinya, itu yang susah sekarang,”

Asrul : Kayak ini saja sih sebenernya kan ya.. cinta ke orang lain kan itu bisa kadang sangat fluktuatif gitu. Kadang bisa hilang sama sekali, ada momen-momen atau hal-hal yang mungkin akan bikin lo jatuh cinta. Tapi lo ini nggak sih, berusaha cinta..? This is so cheesy to say this (tertawa). Ada yang bilang cinta kudu diusahain, gitu ya. Tapi ada yang bilang bahwa cinta itu apa yang lo alami, dan nggak perlu dipaksain gitu kan. Kalo lo, kira-kira yang mana? Maksud gue ini cinta kepada diri lo sendiri ya,”

Matthew: Oke, kalo gue sih lebih ke yaitu nggak usah dipaksain saja sekarang deh, gitu. Bakal ada waktunya gitu loh, gue yakin. Selama gue proses pemulihan itu gue selalu diajarin kayak, lo bakalan pulih, tapi memang waktunya kita nggak tau sampe kapan. Jadi akhirnya dalam hal mencintai diri gue sendiri pun gue gitu, kayak gue cinta nih sama diri gue sendiri, ukurannya segimana kan gue yang tau. Dan prosesnya butuh berapa lama atau kayak gimana gue yang tau, gitu. Jadi gue nggak mau memaksakan juga. Dan menurut gue itu jadi lebih gampang ke guenya, akhirnya. Daripada gue harus memaksakan atau mengejar, gitu,”

Asrul : Karena prosesnya akan lewat penerimaan itu, gitu ya,”

Matthew: Iyap, betul,”

Asrul : Peristiwa itu atau kekerasan seksual yang lo alami kan berpengaruh terhadap cara pandang lo, terhadap diri lo sendiri, gitu ya. Kalo ke orang lain.. yang gue maksud di sini romantically, gitu. Ada yang berubah nggak sih dengan cara lo ngeliat love interest lo, katakanlah?

Matthew: Perubahannya tuh lebih ke gue susah percaya sama orang aja sih. Maksudnya kan ketika lo tertarik nih sama seseorang, terus lo ingin menjalani hubungan. Itu kan ada proses kayak, lo harus kenal dia dulu, habis itu baru ntar mungkin perasaan-perasaan itu tumbuh, gitu-gitu lah pokoknya. Nah gue dari tahap yang gue harus kenal orang itu aja udah berenti, gitu loh. Kayak udah aduh ntar ni orang jangan-jangan punya niatan gimana-gimana lagi sama gue, gitu sih. Jadi akhirnya gue kayak, ya udah nggak.. nggak apa ya. Gue tertarik sama orang, misalnya. Tapi akhirnya nggak ada lanjutannya lagi, karena dari guenya sendiri saja udah takut duluan gitu loh. Dari guenya sendiri saja yang udah menghentikan langkah duluan dan menutup diri.

Kalo menurut gue sih sebenernya kadang-kadang ada beberapa orang yang protes gitu loh ke gue. Kayak kok lo kayak gitu sih? gimana lo mau bisa pulih kalo lo nggak bisa membuka diri lo terhadap orang lain?, cuman yang tau diri gue kan gue sendiri ya. Ketika misalnya gue merasa kalo gue harus terbuka kepada orang lain, misalnya si orang yang gue tertarik itu, dan gue harus mengenal dia lebih jauh membuat gue merasa tidak aman ya.. mending nggak usah gitu. Jadi baliknya akhirnya ya itu.. self love gue adalah gimana gue merasa aman dulu nih sekarang. Ketika ada hal yang membuat gue merasa nggak aman ya, gue berenti langsung,”

Asrul : Ruang aman itu berarti di satu sisi lingkungan yang menyediakan, gitu. Di sisi lain lo juga ya yang menciptakan,”

Matthew: Diri gue sendiri yang menciptakannya, betul,”

Asrul : Heem. Kalo prosesnya dari mulai dari diri lo sendiri, kayak, menciptakan ruang aman buat lo, kayak gimana?

Matthew: Kalo prosesnya dari diri gue sendiri.. segala hal yang gue rasa aman buat gue, gue akan ada di situ, gue akan melakukan hal itu. Tapi ketika hal tersebut gue udah merasa kayak aduh kayaknya ntar dampaknya bakal kayak gini deh ke gue, atau gue nggak merasa aman untuk ada di situ ya gue langsung menarik diri dari hal tersebut, kayak gitu. Atau gue nggak melakukan hal itu, gitu. Kayak misal gue harus berkenalan dengan orang baru nih, kalo gue ngerasa aduh ntar nggak aman nih karena orangnya juga nggak jelas, ya gue nggak ngelakuin itu, gue stop. Jadi itu salah satu cara gue untuk menciptakan ruang aman buat diri gue sendiri,”

Asrul : Yang tadi lo sebut ada yang nanya kalo lo kayak gitu terus, kapan lo bisa pulih? gitu, jawaban yang biasanya lo sampein ke mereka, kayak gimana?

Matthew: Tergantung nih. Kalo misalnya mood gue lagi baik, gue jelasin biasanya. Ya gue merasa dia kayaknya kurang deh, gini gini gini, atau gue merasa nggak aman sih kayaknya, kalo harus kenalan sama dia, terus ketemuan di mana, gitu gitu gitu. Kalo mood gue lagi jelek ya gue diemin aja biasanya, kayak.. udahlah. Capek juga kan ngejelasin ke setiap orang, lagi lagi lagi. Kayak, akhirnya gue memvalidasi diri gue sendiri gitu loh, kayak, aduh..

Asrul : Nggak perlu validasi orang lain, gitu ya?

Matthew: Nggak perlu,”

Asrul : Diri kita sendiri dulu ya,”

Matthew: Iya, jadinya nggak perlu,”

Asrul : Oke, arti atau makna cinta buat lo apa?

Matthew: Aduh.. susah nih. Arti dan makna cinta buat gue.. kalo dalam hal gue ya, topik yang kita obrolin dari tadi.. ketika lo bisa untuk tidak melakukan kekerasan yaitu namanya cinta sih. Bener kan? Jadi kan kalo menurut gue kan sebenernya kalo orang melakukan kekerasan itu kan itu mereka punya pilihan untuk tidak melakukan kekerasan.

Jadi kalo lo bisa milih untuk tidak melakukan kekerasan, kenapa lo harus memilih untuk melakukan hal tersebut gitu loh? Karena dampaknya itu gede banget cuy, ke korban. Nggak tau, mungkin ke lo.. gue nggak tau sih dampak ke pelaku gimana, cuman ke korban tuh wah.. parah banget dampaknya. Ya jadi ketika lo bisa untuk tidak melakukan kekerasan, kenapa lo harus memilih untuk melakukan hal tersebut? kayak gitu. Jadi cinta itu adalah ketika lo bisa untuk tidak melakukan kekerasan… itu adalah cinta cuy,”

Baca juga : Awi Chin Tentang Novel 'Yang Tak Kunjung Usai'

Kalau kamu punya saran, komentar, atau ingin berbagi cerita, boleh banget email ke podcast@kbrprime.id dan tulis Love Buzz untuk subject emailnya.

Our Watch, sebuah organisasi yang basisnya di Australia pernah bikin laporan. Salah satu faktor penyebab pelaku kekerasan yang dilakukan laki-laki adalah ide-ide tentang maskulinitas yang mencakup pemikiran bahwa laki-laki harus kuat, tegas, dan dominan. Kekerasan yang dilakukan laki-laki rasa-rasanya memang perkara dominasi, dan korbannya nggak melulu perempuan atau laki-laki yang dianggap nggak maskulin, atau bagian dari minoritas seksual. Laki-laki yang dianggap maskulin bisa juga jadi korban pelecehan seksual atau kekerasan seksual.

Love Buzz. Membicarakan perkara yang tidak dibicarakan ketika berbicara perkara cinta. Kunjungi kbrprime.id untuk menyimak berbagai podcast lainnya dari KBR.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Toilet Sehat untuk Semua, Sudahkah Terpenuhi?