covid-19

Maria Ressa, Peraih Nobel Perdamaian 2021: “Saya Bukan Tanpa Rasa Takut…”

Maria bercerita tentang masa kecilnya sebagai imigran di Amerika Serikat.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 14 Okt 2021 17:46 WIB

Maria Ressa Peraih Nobel Perdamaian 2021

Maria Ressa saat diskusi daring berjudul “A Conversation with 2021 Nobel Peace Prize Laureate Maria Ressa”. Kamis (14/10/2021). Foto: Tangkapan layar zoom

KBR, Jakarta– Jurnalis Filipina sekaligus pendiri media Rappler, Maria Ressa mengaku sering disebut sebagai orang yang tak punya rasa takut.

Padahal, peraih Nobel Perdamaian 2021 ini menegaskan, "Saya bukan tanpa rasa takut."

Maria Ressa adalah satu dari dua jurnalis yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian 2021. Penyelenggara Nobel menyebut kontribusi besar kedua jurnalis dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi dan pers di negaranya masing-masing. Jurnalis lain yang berbagi penghargaan ini ialah Dmitry Muratov asal Rusia.

Maria bercerita tentang masa kecilnya sebagai imigran di Amerika Serikat.

"Saya berusia 10 tahun, bertubuh paling kecil dan memiliki kulit dengan warna paling cokelat. Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar. Guru saya bilang, saya hampir tidak pernah bicara selama setahun," kata Maria mengenang. "Tapi saya mau belajar. Dan pelajaran terpenting saat itu adalah cara untuk menghadapi ketakutan dengan merengkuhnya."

Maria pernah menghabiskan waktu sekitar 10 tahun meliput di Indonesia, sebagai Kepala Biro CNN di Jakarta. Menurut dia, pengalaman liputan di Indonesia mengajarinya banyak hal untuk menghadapi rasa takut.

"Di Rappler, kami sesama co-founder punya semacam kesepakatan. Kita tidak boleh semuanya takut bersamaan, tapi harus saling bergantian. Tapi kita boleh merasa takut," kata Maria.

Baca juga: 

Kolaborasi Antarmedia

Nobel Perdamaian yang terakhir diberikan untuk jurnalis diberikan kepada Carl von Ossietzky pada 1935. Carl menerima Nobel, karena mengungkap persiapan rahasia pemimpin angkatan perang Jerman dalam membangun kembali persenjataannya. Baru 86 tahun kemudian, Nobel Perdamaian kembali dianugerahkan kepada jurnalis.

Ketika Nobel Perdamaian diumumkan untuk Maria Ressa dan Dmitry Muratov, penyelenggara Nobel menyebut kalau masa-masa sekarang sangat penting bagi keberlangsungan jurnalisme.

"Penghargaan ini adalah sinyal bagi kami: situasi bisa bertambah baik atau buruk," jelas Maria.

Ia lantas membandingkan situasi media di Indonesia dan Filipina. "Media di Filipina itu sangat kompetitif," kata Maria, "dan belum bisa berkolaborasi untuk mempertahankan public sphere."

Menurut Maria, situasi ini sangat berbeda dengan di Indonesia yang kerap berkolaborasi untuk kepentingan publik yang lebih besar. Ia menekankan pentingnya media untuk saling berkolaborasi karena media tidak digerakkan oleh artificial intelligence atau bot, tapi ada jurnalis-jurnalis yang menjadi gatekeeper, bekerja berdasarkan etika dan standar serta prinsip kerja jurnalistik.

"Mudah-mudahan penghargaan Nobel ini bisa mengubah arah angin kolaborasi media di Filipina."

Maria juga menggambarkan soal polarisasi tajam yang kerap terjadi di media sosial. "Ini terjadi karena fakta diperdebatkan akibat pengaruh dari platform teknologi seperti Facebook dan Google. Kita harus bersepakat dulu soal fakta, untuk bisa bergerak ke arah kebenaran dan membangun kepercayaan. Dalam demokrasi kita harus berani berbicara, juga siap mendengarkan; tapi kita harus bersepakat soal fakta."

Saat Terbaik untuk Jadi Jurnalis

Dalam acara daring berjudul “A Conversation with 2021 Nobel Peace Prize Laureate Maria Ressa”, Maria berkali-kali menekankan soal dunia yang sudah sangat berubah.

Maria mengurai bagaimana kita sekarang hidup di tengah bias yang disebabkan oleh algoritma dari platform teknologi seperti Facebook dan Google. Bias algoritma tersebut menyebabkan terjadinya polarisasi di tengah masyarakat karena setiap orang hidup di dalam lingkaran berfilter (filtered bubble) masing-masing.

"Kita hanya berbicara dengan orang yang kenal atau yang menyukai Anda, dan ketika ada kemarahan, maka kemarahan itu sekaligus diamplifikasi," kata Maria.

Dengan situasi seperti itu, Maria menjelaskan, saat ini produk jurnalisme harus berpacu dengan kebohongan-kebohongan yang menyeruak lewat platform teknologi seperti media sosial.

Situasi lain yang terjadi saat ini adalah menurunnya tingkat demokrasi dan kebebasan pers di Asia Tenggara.

Meski begitu, Maria menganggap ini justru saat yang terbaik untuk jadi jurnalis.

"Saya kerap ditanya bagaimana mengajak lebih banyak anak muda jadi jurnalis. Dan saya selalu katakan kalau ini adalah saat terbaik untuk menjadi jurnalis karena ada begitu banyak tantangan dan inspirasi bagi anak muda."

Ia lantas merefleksikan pada pengalamannya mendirikan Rappler pada 2012. "Hanya ada beberapa orang yang berusia 40-an tahun, dan kami merekrut anak-anak muda paling cerdas yang berusia 20-an tahun untuk menjalankan Rappler."

Maria menekankan, jurnalis bekerja untuk memastikan pemerintah tetap akuntabel, dan kini termasuk untuk memastikan platform teknologi juga akuntabel.

"Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga demokrasi di negara kita tetap ada."

Editor: Sindu

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Toilet Sehat untuk Semua, Sudahkah Terpenuhi?