covid-19

Hexa dan Alena, Mister dan Miss Gaya Dewata 2018

Hexa dan Alena, Mister dan Miss Gaya Dewata 2018 ngobrol perkara apakah Bali lebih ramah terhadap LGBTIQ+?

BERITA | RAGAM

Selasa, 12 Okt 2021 12:29 WIB

Hexa dan Alena, Mister dan Miss Gaya Dewata 2018

Hexa dan Alexa. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta - Bali dibilangnya sebagai suatu tempat di Indonesia yang ramah terhadap LGBTIQ+. Se-enggaknya itu yang sempat dibilang seorang influencer dari Amerika Serikat yang viral beberapa waktu lalu. Sebagai Warga Negara Asing, dia pastinya punya privilese. Tapi, beneran, Bali itu ramah terhadap temen-temen LGBTIQ+ atau nggak sih? Nah, ini kali saya bakal ngobrol bareng Hexa dan Alena, Mister dan Miss Gaya Dewata 2018. Dua pemenang kontes yang diadakan Yayasan Gaya Dewata atau YGD.

Selain menjawab pertanyaan saya di awal tadi apakah Bali itu lebih ramah terhadap LGBTIQ+ bareng mereka berdua, Hexa dan Alena, Saya ngobrol perkara tugas-tugas mereka sebagai Mister dan Miss Gaya Dewata, aktifitas selama pandemi, memilih Bali menjadi tempat tinggal, dan cinta tentunya.

Anda mendengarkan Love Buzz bersama Saya Asrul Dwi.


QnA

Asrul :Kalian berdua kan sekarang di Bali sebagai base nya. Aktifitas yang kalian lakukan selama pandemi apa, ada perubahan nggak sih?”

Alena : “Perubahannya ya bener-bener signifikan sih. Yang biasanya bisa kerja hampir seminggu lima kali, sekarang udah nol. Cuman diem aja di kos,”

Asrul :Biasanya kerja dimana?”

Alena : “Di dunia malem sih, di bar. (Dunia) Entertain soalnya,”

Asrul :Berarti bar di sana pada tutup ya?”

Alena : “Untuk klub gay nya saat ini tutup ya, ada beach club yang buka cuma sampai jam 9 (malam) gitu,”

Asrul :Berarti aktifitas lu jadi terbatas banget gitu ya, atau sama sekali nggak ada?”

Alena : “Sama sekali nggak ada, cuma diem aja,”

Asrul :Kalau lu gimana Xa, dari pandemi sampai sekarang?”

Hexa : “Kegiatan sehari-harinya kan emang kerja. Imbasnya (pandemi) kena ke semuanya termasuk gue. Waktu awal pandemi itu kita sempat dirumahkan, nggak kerja selama enam bulan. Nah selama itu, bener-bener diem di rumah. Nyari kerjaan juga nggak bisa, karena semua tutup, semua kena imbasnya. Paling gue kemarin itu, cari duit dari social media. Tapi selama empat bulan terakhir ini sudah balik lagi kerja karena gue kerja di salah satu hotel di Bali, hotel ini beroperasi lagi terus sampai sekarang sih masih bekerja walaupun kerjanya cuma 15 hari atau setengah bulan gitu,”

Asrul :Tapi kalian coping sama pandemi ini, segala aktifitas kan dibatasi. Diam di rumah juga, di kamar kan sebenernya nggak sehat juga bagi kesehatan jiwa atau mental kita. Kalian cara ngatasinya kayak gimana?”

Hexa : “Kalo waktu awal-awal tuh kayak orang parno ya. Nggak mau keluar, atau ketemu orang bahkan ketemu temen. Tapi berjalannya waktu ya, karena bosen ya kita keluar aja cuma dari dalam diri kita supaya mawas diri untuk prokes, masker, hand sanitizer, tetep pergi ke pantai. Akhirnya ketemu temen juga, hang out juga untuk mengusir kebosanan,”

Asrul :Social distancing hang out gitu ya. Kalau Alena gimana?”

Alena : “Aku sih emang nggak suka jalan-jalan, nggak suka nongkrong. Bosan sih, soalnya dulu kan keseharian ku tuh ketemu temen ya di tempat kerja aja. Selebihnya sih cuman diem di kos. Kalau satu tahun ini udah nggak kerja boring ya paling main HP, nonton tivi, bersih-bersih,”

Asrul :Kalo kegiatan ini kan kalian sebagai Mister and Miss Gaya Dewata, udah dua tahun kan ya? 2018. Yang paling lama menjabat. Sama sekali nggak ada kegiatan atau gimana?”

Hexa : “Kalau awal-awal terpilih kita ada kegiatan, sumbangan, penyuluhan HIV/AIDS ada. Cuma kesininya nggak ada sama sekali, kalau bukan kita atau finalis yang yuk yuk kita kumpul bikin kegiatan apa yang bermanfaat. Cuma sih kalau dari yayasannya kita di awal aja,”

Alena : “Iya, satu tahun awal aja sih kita,”

Hexa : “Memang mungkin udah habis masa jabatan jadi nggak ada lagi,”

Asrul :Tapi biasanya apa ini satu tahun, karena ini situasi yang spesial, berbeda dengan sebelumnya makanya diperpanjang sampai dua tahun ini belum ada event yang baru atau memang nggak ada karena kemarin sempet rame-rame itu?”

Alena : “Kalau yang aku tahu sih karena pandemi. Dan lagi ada masalah intern, pergantian manajemen jadinya lagi di-stop dulu. Yang aku denger sih gitu,“

Asrul :Tapi kalian dulu kenapa sih tertarik untuk ikutan ajang ini?”

Alena : “Kalau aku sih iseng aja ya, pengen tau aja gimana. Dan mengasah ilmu yang aku punya. tentang HIV dan LGBT. Nggak ada niat jadi pemenang,”

Hexa : “Kalau gue tuh dari tahun sebelumnya 2017 kebetulan yang menang temen gue dan di 2016 itu yang menang juga temen gue. Harus ikutan nih, sebenarnya mau dari 2017 tapi ada kerjaan, akhirnya nggak bisa join. Akhirnya 2018 join karena temen-temen gue dah bisa nih, oke giliran gue. Eh ternyata menang juga hehe.. Dan hadiahnya pun menarik, dan lumayan,”

Asrul :Tapi ada tugas-tugas, misi khusus gitu yang dibebankan ke kalian?”

Hexa : “Kalau misinya dulu dari yayasan sih ada seperti biasa memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar tentang HIV/AIDS utamanya. Bagaimana yang benarnya, do’s and don’t nya yang sebisa mungkin kita upayakan sekitar kita dulu deh,”

Alena : “Istilahnya kita kayak brand ambassador nya, yayasan untuk penyuluhan,”

Asrul :Fokusnya berarti ke penyuluhan HIV/AIDS disana ya?”

Hexa : “Dan ini kan tentang LGBTQ ya, kadang walaupun di Bali orang bilang di Bali itu bebas, sama waria bebas. Ternyata di kehidupan nyata tuh masih banyak diskriminasi. Ya kan, Alena?”

Alena : Ada sih diskriminasi tapi nggak mencolok,”

Hexa : “Masih ada, karena pikiran orang luar tuh, di Bali bebas gini gitu. Nggak lah, kita disini tetap harus memegang adat istiadat, peraturan segala macem. Kayak waktu awal terpilih ada media dari luar (negeri) pengen tau kita disini, ya edukasi lah segala macem. Kurang lebih kayak gitu,”

Asrul :Berarti kan nggak cuman edukasi temen-temen komunitas LGBTIQ+ tapi juga generally masyarakat Bali pada umumnya. Kalo penerimaan, tadi Hexa bilang kan orang luar Bali keliatan jauh lebih bisa menerima LGBT. Lena bisa kerja di gay bar disana ada. Penerimaan yang mungkin orang luar Bali nggak liat seperti apa?”

Hexa : “Sebenernya misalkan kayak ke gender umumnya jarang, cuma disini tuh seperti ke gender yang trans, drag queen, yang sering terjadi kejadian disini. Ada beberapa kasus kan, tokonya dibakar,”

Alena : Ada temenku yang pernah dibotakin,”

Hexa : “Dibotakin, diolok-olok,”

Alena : Kalau dibotakin itu, kalau di Bali itu ada pecalang, kayak polisi adat. Nggak tau ceritanya gimana dia intinya pulang kerja dari bar, belum hapus make-up, naik motor nggak pake helm. Pas ada pecalang lewat atau patroli, langsung ditangkap, dikirain keliling ‘jualan’, ‘ngebong’ kalau istilah disini. Makanya langsung dibawa ke banjar, diinterogasi dan alhasil dibotakin. Kayak criminal gitu, diperlakukan nggak wajar,”

Asrul : “Kalo pengalaman lu sendiri gimana?”

Alena : Kalau pengalamanku sih nggak se-parah itu paling cuma dinyinyirin, nggak pernah sampe ke fisik sih untungnya,”

Asrul :Tapi seberapa ramah sih, orang—orang Bali bisa menerima temen-temen komunitas (LGBTIQ+), kan kemarin sempet rame influencer Amerika di Twitter dan Instagram. Kalo kalian ngelihatnya gimana. Ada beberapa temen yang bilang Bali lebih toleran daripada Jakarta, misalnya,”

Alena : “50-50 sih. Ada yang toleran, ada yang cuek, ada yang nggak. Ada yang biasa aja. Istilahnya tuh mereka tidak menolak, jangan mengganggu, gitu aja,”

Hexa : “Selama mereka mengikuti peraturan, adat istiadat setempat, dan nggak neko-neko sih ya aman-aman aja. Sekarang pun kesininya, nggak tau ya yang di pedalaman gitu, mereka sih lebih nerima. Lebih cuek kalo orang Bali nya sendiri ya. Baik banget. Selagi kita ndak neko-neko. Mau putih, mau hitam, kribo, lurus, mereka cuek,”

Asrul :Tapi kemarin, selain menjalankan kegiatan sebagai Miss dan Mister Gaya Dewata, sempet nemui masalah atau protes, acara yang diundur. Ada kayak hal-hal gitu atau normal-normal aja?”

Hexa : “Normal aja. Cuma kemarin tuh kecewa aja kenapa sih sampe harus didemo, terlalu dibesar-besarkan. Toh acara selesai kan nggak aneh-aneh. Yang tadinya di 2018 itu, yang akan dibuat besar dan heboh tiba-tiba kita harus ngalah dan legowo diadakan di tempat yang biasa aja dan kecil tapi Thank God semua berjalan lancar dan mahkota itu ada di kepala kita ya, Alena,”

Asrul :2 tahun nggak ganti-ganti ya, berat lo itu…hehe”

Hexa : “Sampe sempet kita dulu terakhir kumpul sama anak yayasan, udah 2019 waktunya lengser nih. Kan kita pengen juga ngerasain kayak yang tahun-tahun sebelumnya. Yang seru itu kan karantinanya, meneruskan mahkota dari kita ke penerus selanjutnya. Kalo sampe di kita aja kan sayang aja,”

Asrul :Itu mahkotanya dibalikin? Nggak disimpan?”

Alena : “Oh..diganti baru…”

Hexa : “Kebetulan ini pialanya pun masih ada he he makanya gue siapin, takut ditanya langsung gue pasang (tertawa),”

Asrul :Anyway, kalian berdua ini kan dari luar Bali. Boleh cerita, ini jadi pilihan kalian kah ke Bali, I don’t know, terdampar mungkin?”

Alena : “Kalau aku sih spontan aja ya, pengen jauh dari orangtua, Jauh dari kehidupan ku yang sebelumnya. Istilahnya ngerasa tertekan dengan kehidupanku yang sebelumnya. Akhirnya gak tau kenapa waktu milih-milih universitas eh keterima di Bali, untungnya pas aku masih labil pengen jadi chef dan keterima di salah satu universitas di Bali ya udah, langsung terjun ke Bali,”

Asrul :Itu sebelum atau sesudah transisi?”

Alena : “Belum,”

Asrul :Bali jadi tempat yang lebih kurang jadi ruang aman buat lu transisi sebagai transpuan?”

Alena : “He eh, betul, ngerasa lebih bebas. Ngerasa hidup sendiri lebih bebas milih apa yang aku mau. Bisa mencari jati diri lah,”

Asrul :Orang tua bisa mengerti apa gimana?”

Alena : “Belum..belum bisa,”

Asrul :Tapi selama ini udah sempet bolak balik ke Sidoarjo?”

Alena : “Udah sih, tapi dengan bentuk yang memaksakan untuk menjadi seseorang yang.. ya..sama kayak dulu lah,”

Asrul :Kalau lu gimana, Xa? Kenapa Bali, apa menemukan cinta di Bali?”

Hexa : “Justru gue 2013 itu putus cinta di Jakarta dan terus ke Bali untuk holiday, karena punya kakak sepupu disini. 2013 itu ke Bali, holiday satu bulan kerjaannya ke pantai, club, pulang subuh, main, repeat tuh selama sebulan. Karena patah hati, you know lah ya gimana. Gue mikir kok gini-gini mulu malah ngerusak diri. Iseng ngelamar kerja disini, keterima, diterusin sampe sekarang,”

Asrul :Tadi Lena bilang Bali jadi ruang aman untuk berekspresi. Kalau lu menemukan hal itu nggak di Bali? Atau sebelumnya sudah melela di Jakarta atau Bandung malah?”

Hexa : “Nggak sih, sama aja. Biasa aja,”

Asrul :Berarti sebelum pindah ke Bali sudah coming out?”

Hexa : “Nggak juga, gw diem-diem aja kayak sekarang aja gini,”

Asrul :Menurut lu melela atau coming out itu perlu nggak?”

Hexa : “Mungkin perlu. Kayak ada yang terpendam tapi nggak bisa diomongin. Mungkin untuk orang yang udah siap lahir batin, semuanya. Ada sebagian orang yang belum siap, makanya milih nggak tinggal sama orang tua, keluarga mending jadi bisa lebih bebas. Cuman kalo gue, mau coming out mau nggak ya gue orangnya begini-begini aja. Orang mau menyangka seperti itu ya monggo, mau nggak juga nggak. Tapi gue nggak pernah mengklarifikasikan diri, biarkan orang ngomong apa,”

Asrul :Tapi di sosmed present lu cukup kenceng, lu juga nggak pernah ngomong itu di sosmed?”

Hexa : “Nggak pernah. Tapi gue ikuti lomba ini (Gaya Dewata), gue share di sosmed gue. Waktu menang kan kita holiday ke Bangkok, gue share nih gue lakukan kegiatan, ketemu dengan berbagai komunitas disana, terus ngapain aja disana ya gue share di sosmed. Tetapi, di sosmed gue nggak pernah gue begini begitu (coming out),”

Asrul :Tapi kalo transpuan kan visible banget ya, Alena? Ngikutin ajang ini juga jadi semacam ajang aktualisasi diri lu, apalagi representasi yang positif. Kita lihat di media, transpuan kayaknya bahkan media mendiskriminasi. Kalau lu muncul sebagai Miss Gaya Dewata, mau nggak mau kan elu jadi representasi temen-temen transpuan. Untuk menyatakan diri kemudian present ke luar jadi transpuan di Bali, atau tempat lain, lu jadi bisa jadi lebih bebas atau secara nggak langsung harus self-edit?”

Alena : “Bebas bebas aja, yang penting sesuai norma. Nggak ada tuh harus behave, ini itu, yang sesuai aja dengan siapa kita bertemu,”

Hexa : “Paling naik pamor (tertawa)”

Alena : “Nggak sih, biasa aja (tertawa),”

Hexa : “Wiihhh Miss Dewata, disebut sebut di kalangan transpuan,”

Alena : “Itu sih yang suka, kalau yang nggak suka ya biasa aja, nggak ada respon apa-apa,”

Asrul :Buat lu, apa makna jadi Miss Gaya Dewata?”

Alena : “Nggak terbayang sih, beban besar sebenernya pas awal menjabat tuh. Mahkota di kepalaku di awal tuh berat banget. Pasti tugasnya nanti, duh aku bisa nggak ya. Tapi selama dijalani, enjoy enjoy aja ternyata. Nggak seberat yang aku kira kayak pageant yang kudu keliling Indonesia. Ternyata kita sebatas lingkup Bali, pelatihan, pertemuan. Jadi, nggak begitu berat,”

Asrul :Lu punya misi personal nggak setelah menjabat jadi Miss Gaya Dewata?”

Alena : “Kalau misi personal sih lebih pengen edukasi utamanya temen-temen transpuan, gimana lebih aware dengan diri sendiri, gimana cara bersosial gitu. Aware dengan kesehatan dan bersosial,”

Asrul :Kalau lu gimana, Xa? Apa artinya menjadi Mister Gaya Dewata?”

Hexa : “Artinya, gue jadi lebih mengenal orang-orang dibalik komunitas ini. Gue jadi kenal komunitas ini se-Bali. Gue kan terkenal cerewet, jadi di yayasan pun gue yang selalu ‘ayo dong kita begini, kita begitu’ dan jadinya gayung bersambut. Gue pun happy jadinya. Ternyata banyak ya orang luar, sebelum pandemi tuh kan datang orang dari Australia, Thailand, gue jadinya tau,”

Asrul :Kalau tadi personal mission, punya nggak?”

Hexa : “Di Bali kan banyak perlombaan seperti ini, cuma kayak di bar, restoran, ruang lingkup kecil. Kalo Miss dan Mister Gaya Dewata ini di ruang lingkup lebih besar, komunitas se-Bali. Kalau gue bisa menangin ini istilahnya cucok, ambisi dulu itu pengen dapet tapi dengan usaha. Boleh tanya Alena, gue bener-bener. Karantina datang lebih awal, room mate gue tau ngapain aja di kamar, nyiapin besok pake sepatu ini, celana ini. Satu hari bisa ganti baju 2-3 kali. Yang lain kan nggak. Well-prepared juga. Jadi ketika keluar juara 1 pun oh ya udah Hexa nggak aneh, katanya gitu (tertawa),”

Asrul :Tapi lu kan ada title lain, Mister Indonesia. Bedanya apa?”

Hexa : “Setelah Mister Gaya Dewata 2018, di 2019 gue pengen cakupan yang lebih besar lagi, akhirnya ikutan di nasionalnya, Mister Indonesia. Kebetulan lolos, masuk ke 7 besar di nasional. Itu pun dari bekal pageant sebelumnya. Gimana caranya bisa stand out, ternyata ilmunya kebawa sampai ke Mister Indonesia,”

Asrul :Kalau Lena, sempat ikutan pageant lainnya?”

Alena : “Nggak, stop disitu. Karena uda nggak ada lagi apa ya pageant untuk transpuan. Internasional terlalu berat. Kalau Miss Queen itu terlalu besar. Harus cantik, body bagus, nggak otak aja. Fisik harus mendukung. Aku sih nggak pede,”

Hexa : “Padahal Alena kalau memoles diri mesti waahhh,,”

Alena : “Nggak pede dengan tinggi, dan bentuk badan (tertawa),”

Asrul :Kan tadi sempat bilang, ketika sudah menang Miss dan Mister Gaya Dewata kan jadi lebih populer. Hexa mulai dari patah hati dan menetap. Popularitas ngaruh nggak, hati nya udah sembuh? Ada yang menyembuhkan nggak?”

Hexa : “Believe it or not gue sampe sekarang tuh nggak percaya hubungan cinta-cintaan, karena pernah patah hati dan gak mau ngalamin lagi. Paling tebar pesona doang (tertawa),”

Asrul :Kalo Alena gimana?”

Alena : “Aku sih nggak bisa hidup tanpa pasangan. Harus pacarana, kalo nggak pacaran tuh rasanya hidup hampa,”

Hexa : “Seminggu bisa berapa kali ganti?”(tertawa)

Alena : “Untungnya bertahan lama, dah jalan dua tahun,”

Asrul :Boleh cerita nggak sih ketemunya gimana?”

Alena : 2019, setelah insiden ada lah yang bikin aku trauma dengan pacar ku sebelumnya. Hexa juga tahu. Itu terjadi 2016, Juni. KDRT. Dia kabur, akhirnya aku bisa lepas. Aku pindah tempat tinggal, gak contact. Akhirnya 2019 ketemu dengan yang sekarang dari sosmed. Dia yang chat duluan aku respon biasa. Karena dia orang Bali, aku harus ati-ati bawa diri. Eh, sampai sekarang,”

Asrul :Awet ya 2 tahun?”

Alena : “Keliatannya sih…”

Asrul :Kok gitu, gimana maksudnya?”

Alena : Masalah intern-nya kan gak keliatan..keliatannya awet status pacarana, diluaritu kan nggak tau,”

Asrul :Tapi soal hubungan yang toxic, resiko kekerasan, pressure-nya kalo temen-temen trans jadi lebih double kalo lapor ke polisi misalnya, gimana perlakuannya?”

Alena : “Kalo lapor sih masih diterima biasa aja tapi kita dianggap cowok karena KTP masih cowok walau wujud perempuan gitu. Kalo personal masalah yang aku pernah terjadi itu ya karena kebodohanku sendiri kenapa bisa dapet kekerasan, akunya yang terlalu bucin makanya nurut aja,”

Asrul :Harusnya bukan salah lu sih sebenernya,”

Alena : “Itu kan pribadi masing-masing ya, sifatnya dia keras gak bisa control emosi, nah aku tuh penakut nggak berani ngelawan,”

Asrul :Kualitas yang kayak gimana yang lu cari dalam diri seseorang?”

Alena : “Intinya dia bisa nerima apa adanya. Gak kasar, gak protektif, pengertian, sayang. Itu aja,”

Asrul :Kalo lu Xa, meskipun nggak nyari nih sekarang. Proyeksi pasti ada kan ke depan?”

Hexa : “Orang tuh mau deketin gue katanya takut, kenapa juga gue nggak ngerti. Padahal kalo ada yang deketin gue tuh, gue sebenernya mudah luluh. Tapi sayangnya sebelum memulai itu, orang dah takut duluan untuk kenal sama gue. Gue bukan pemilih lho, tapi belum dapet. Seneng sih kalo ada yang ngasi perhatian lebih, tapi dari awal gue emang cuek. Misal nih, komunikasi intens, karena gue cuek kok gak deket lagi, gue bertanya-tanya tapi nggak bisa nanya langsung ke orangnya. Itu kali yak yang bikin gue sendiri mulu,”

Asrul :Ego nya terlalu tinggi kali ya untuk nanya? Eh gengsi ya,”

Hexa : “Padahal dalam hati nyari haha…kalo ini ada yang dengerin (podcast) ini, ketahuan deh gue eh gak papa sapa tau dia denger ini sapa tau ngubungin gue lagi (tertawa),”

Asrul : “Namanya siapa boleh disebut?”

Hexa : “Nggak boleh donk…(tertawa)”

Alena : “Inisial aja..”

Asrul : “Tapi lu nggak menutup diri kan sebenernya?”

Hexa : “Nggak sih, gue gitu aja ngalir seperti air,”

Asrul : “Pake dating apps gitu?”

Hexa : “Dulu iya, tapi sekarang gue nggak pake tapi foto gue banyak dipake orang. Sebelnya disitu, orang-orang chat seolah-olah pernah komunikasi dengan orang itu. Akhirnya kesininya nggak pernah pake lagi, mending ketemu di bar,”

Asrul : “Mak comblangnya Alena ya?”

Alena : “Terlalu tinggi kriteria yang Hexa mau,”

Hexa : “Mana ada (tertawa)”

Asrul : “Berarti tadi nggak bener kalo dia bilang dia nggak milih-milih ya?”

Hexa : “Beneran gue gak milih-milih. Selagi dia baik, klop sama gue, gue mah fine aja. Gue tuh sebeneranya kesepian, sering menyendiri,”

Asrul : “Tapi ini dah berapa lama jomblo?”

Hexa : “Bertahun-tahun (tertawa)”

Asrul : “Karena kebiasaan sendiri jadi nyaman ya?”

Hexa : “Bisa jadi,”

Asrul : “Karena dianggapnya Bali lebih terbuka untuk temen-temen LGBTIQ+ , untuk nemuin pasangan lebih gampang apa gimana?”

Hexa : “Sama aja sih, balik ke kitanya. Cuma tipikal kalo orang kulit putih lebih gampang. Mungkin,”

Asrul : “Karena dianggap wisatawan, ada privilege?”

Hexa : “Orang pengen tinggal di Bali bisa jadi karena pengen nyari jodoh orang bule kan?”

Asrul : “Elu kepikiran gitu juga?”

Hexa : “Ya kepikiran, tapi belum ada bule yang mau sama gue gini. Sempet tanning, tetep aja gue nggak cocok. Pernah sih ada bule yang ngedeketin satu, cuman sayangnya dia bukan tipikal orang yang pengen serius. Dia orang Italia tinggal di Timor Leste, nah tiap bulan datang ke Bali nyari party, club. Nah gue nya kepedean mungkin mau diajak serius ternyata nggak,”

Asrul : “Kalau Alena? Nggak harus bule kan?”

Alena : “Nggak suka bule. Nyari produk lokal aja, UMKM. Nggak ada feel, biasa aja,”

Asrul : “Tinggal bareng sama pacar yang sekarang?”

Alena : “No, sendiri-sendiri. Dulu iya yang waktu KDRT itu hampir 3,5 tahun,”

Asrul : “Tinggal bareng gitu, orang sekitar gimana?”

Alena : “Selama ini sih orang nya cuek-cuek aja, gak pernah ada yang ngusik,”

Asrul : “Kalian berarti nggak tau kapan nyerahin mahkota Miss and Mister Gaya Dewata berikutnya?”

Hexa : “Udah extend dua tahun ini,”

Asrul : “Dengan misi yang kalian punya secara pribadi, dengan situasi sekarang yang jauh lebih mendingan dari tahun lalu, ada niatan bikin kegiatan yang belum terwujud?”

Hexa : “Ada. kita pengen bikin di car free day, galang dana di Renon untuk komunitas lansia, miskin di Singaraja. Sampai sekarang belum sempat terlaksana,”

Alena : “Dari sebelum pandemi itu,”

Asrul : “Di Bali termasuk cukup tinggi kah tingkat HIV/AIDS dan kesadaran temen-temen komunitas dan juga yang hetero. Kesadarannya dan penyebarannya gimana?”

Alena : “Sekarang sih tertinggi di Singaraja, untungnya orang-orangnya lebih aware dan dapat edukasi soal HIV. Sebelum pandemi dari yayasan dah masuk ke sekolah, banjar. Balik ke pribadi lagi, apa mau terima edukasi itu atau tidak,”

Hexa : “Kurang lebih sama, walaupun orang tu tau akibatnya. Meski pandemi, yayasan tetap penyuluhan pentingnya edukasi HIV/AIDS. Mudah-mudahan angka ODHA bisa ditekan dan orang semakin sadar akibatnya,”

Asrul : “Ada tes gratis disana, dan bisa nggak ngasi nama?”

Hexa : “Bisa datang ke Yayasan Gaya Dewata, Puskesmas, ada juga pihak swasta,”

Asrul : “Apa makna cinta buat kalian?”

Hexa : “Cinta dari keluarga, teman, orang-orang terdekat, yang care dan peduli sama kita maknanya sangat berarti terutama dari keluarga, karena aku mengenal true love-nya dari keluarga. Dari yang lain, belum tau deh (tertawa),”

Alena : “Kalo aku sering bermain dengan cinta dan sering tersakiti jadi gak percaya cinta. Untuk cinta skip ya, tapi untuk cinta keluarga itu emang cinta yang sesungguhnya. Untuk temen ya biasa aja, kadang ada embel-embelnya,”

Baca juga : Hendrika Mayora: Perkara Menjadi Pejabat Publik dan LGBITQ+ Dalam Katolik

Kalau kamu punya saran, komentar, atau ingin berbagi cerita boleh banget email ke podcast@kbrprime.id dan tulis ‘Love Buzz’ untuk subject email-nya.

Hexa dan Alena memilih Bali jadi ruang buat mengekspresikan diri sekaligus ruang aman. Entah kenapa saya jadi ingat satu kalimat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dulu waktu SD saya baca tiap Senin.

“Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan”

Nah, kalau jadi susah buat mengekspresikan diri, bentuk eskpresi diri kita dijajah, ditentukan, dibatasi. Lalu, kemerdekaan itu apa artinya ya?

Kunjungi kbrprime.id untuk menyimak beragam podcast lainnya dari KBR.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Semai Toleransi ala Anak Muda Bandung