Adaptasi Petani Kendal Atasi Kekeringan

Kekeringan menjadi langganan petani selama puluhan tahun. Krisis air makin parah akibat perubahan iklim. Strategi adaptasi mulai dirintis kelompok pemuda.

Petani Bojonggede, Kendal, Jawa Tengah panen di musim kemarau. Krisis air akibat perubahan iklim menyebabkan hasil panen anjlok. FOTO: KBR/Aninda Putri

Selasa, 20 Oktober 2020

Kekeringan menjadi momok bagi petani di Kecamatan Ngampel, Kendal, Jawa Tengah saban tahun. Krisis air semakin parah dari tahun ke tahun akibat perubahan iklim. Sumber irigasi hanya mengandalkan air bendungan yang terus menyusut karena penggundulan lahan dan aktivitas penambangan. Akibatnya, petani selalu merugi karena hasil panen anjlok. Namun, petani Bojonggede menolak pasrah dan merintis terobosan untuk mengatasi paceklik air. Jurnalis KBR Aninda Putri mencari tahu dan menyusun kisahnya.

- Adaptasi Petani Kendal Atasi Kekeringan
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Teriknya matahari menambah gersang suasana areal persawahan desa Bojonggede, Kendal, Jawa Tengah.

Tampak puluhan petani tengah sibuk memanen padi, sambil berbincang.

Namun, bukan soal laba yang bakal dinikmati, melainkan anjloknya hasil panen.

Penyebabnya sama sejak puluhan tahun lalu, yakni krisis air di musim kemarau.

Kekeringan terlihat jelas dari rekahan tanah yang menganga di hamparan sawah seluas 50 hektare.

Pada kemarau kali ini, total panen yang dihasilkan hanya 40 ton, anjlok lebih dari separuh dari produksi kala musim hujan.

Petani Bojong Gede, Kendal, Panen di tengah paceklik air

Petani Bojonggede, Slamet Riyadi mengeluh cuma bisa menjual padi senilai 5 juta rupiah. Padahal, saat air melimpah, ia mampu menghasilkan 9 juta rupiah.

"Kalau musim kemarau panjang sumber airnya di bawah normal, kalau dibagi itu tidak mencukupi. Akhirnya petani di Bojonggede ini kekurangan air dan gagal panen," ungkap Slamet.

Bendungan Juwero merupakan satu-satunya sumber air irigasi petani Bojonggede dan desa lain se-kecamatan Ngampel.

Namun, saat kemarau tiba, sawah Slamet tak pernah kebagian pasokan air. Ini lantaran Bojonggede letaknya 15 kilometer dari bendungan atau paling jauh dibanding 11 desa lain.

Air sudah habis diperebutkan petani di desa-desa terdekat. Tak jarang ada pula yang berbuat curang dengan memblokir saluran air.

"Kalau buangan air dari sana disedot rebutan, cekcok, dikuasai desa setempat. Kalau desa Banyuurip tercukupi, Bojonggede baru boleh nyedot," tuturnya.

Berbagai upaya dilakukan petani Bojonggede agar tetap bisa bertanam padi saat kemarau.

Seratusan petani di sana rela mengeluarkan duit ekstra, 600 ribu rupiah saban pekan untuk sewa pompa air. Mereka juga membuat sumur bor.

Namun, hasilnya petani tetap merugi, karena pasokan air tak mencukupi.

Bendungan Juwero kering di musim kemarau

Tanjung Alim, petani muda Bojonggede, mengajak KBR melihat Bendungan Juwero.

Air di bendungan tampak surut. Tanjung menuturkan, debit air memang terus menyusut karena penggundulan hutan dan aktivitas penambangan. Paceklik air menjadi langganan sejak tahun 2000an silam.

"Sering di saat kemarau seperti saat ini itu, sawah kami tidak teraliri, karena debit airnya sudah mulai menipis. Karena sudah tidak ada hutan dan gundul semua, diganti dengan galian-galian. Ini baru awal musim kemarau, jadi kalau memasuki musim tanam kita harus berebut air," jelasnya.

Kondisi ini menggugah kelompok pemuda desa Bojonggede bergerak mencari solusi. Sejak awal 2020, mereka merintis penanaman pohon penyimpan air seperti kenikir, gayam dan jambu air di pematang sawah.

Pemuda desa Bojong Gede memasang penyangga untuk tanaman penyimpan air

Hari itu, pemuda Karang Taruna Bojonggede berkumpul di sawah untuk membuat bilah bambu penyangga pohon penyimpan air.

Ada 200an pohon yang sudah ditanam dan mulai tumbuh. Sebagian dananya diambil dari hasil iuran Karang Taruna, kata pemuda Bojonggede, Andy Saputra.

Kita dapat dana iuran dari Karang taruna dan Bumdes total dapat Rp 300 ribu. Karena tahu etikad baik kita kemudian desa ikut berpartisipasi menambahkan uang untuk membeli bibit" Jelas Andy.

Tanaman penyimpan air bakal tumbuh besar dalam satu hingga dua tahun. Andy yakin pohon-pohon itu akan mengurangi kelangkaan air irigasi saat musim kering.

"Satu sampai dua tahun lagi petani akan merasakan dari dampak penanaman pohon ini, karena kita ketahui bersama pohon gayam bisa menyimpan air saat musim kemarau. Mungkin 40-50 persen kita akan terhindar dari kekeringan pada musim kemarau berikutnya," ujar Andy optimistis.

Dinas Pertanian Kabupaten Kendal mengklaim sudah berupaya membantu petani Bojonggede mengatasi krisis air. Misalnya, lewat pengadaan pompa air dan pembuatan sumur bor. Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Herawati mengajak petani beradaptasi melalui diversifikasi tanaman.

"Kalau memang harus padi berarti padi yang tahan kekeringan. Kalau tidak komoditas pangan lain seperti jagung dan kedelai. Di daerah selatan khususnya Surakarta, Sragen dan Klaten, kalau kondisi seperti ini menanam kacang hijau, Demak juga," kata dia.