Mendikbud: Penyusup Menyamar Jadi Pelajar Berunjukrasa

"Berdasarkan laporan yang sudah saya terima, ternyata mereka bukan siswa. Hanya memakai celana abu-abu dan setelah ditangkap ternyata mereka bukan para siswa," ujar Mendikbud.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 01 Okt 2019 13:28 WIB

Author

Dian Kurniati

Mendikbud: Penyusup Menyamar Jadi Pelajar Berunjukrasa

Ribuan mahasiswa dan pelajar di Pontianak, Kalimantan Barat, mengepung Gedung DPRD Kalbar saat pelantikan, 30/9/2019. (Foto: KBR/Kontri Kalbar/Edho Sinaga)

KBR, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menduga sedikitnya ada 50 penyusup yang menyamar jadi pelajar dalam aksi demonstrasi di depan Gedung DPR, Senin (30/9/2019) kemarin. 

Muhadjir menuduh, penyusup itulah yang menjadi provokator dan perusuh selama demonstrasi hingga berakhir ricuh.

Meski demikian, ia memperkirakan masih ada pelajar yang nekat berdemonstrasi walaupun telah dilarang oleh pihak sekolah masing-masing.

"Berdasarkan laporan yang sudah saya terima, ternyata mereka bukan siswa. Hanya memakai celana abu-abu dan setelah ditangkap ternyata mereka bukan para siswa. Mereka memakai celana abu-abu, pakai baju putih, tapi sebetulnya mereka bukan para siswa," kata Muhadjir di Jakarta, Selasa (1/10/2019).

"Masih ada pelajar yang demo?" tanya wartawan.

"Mungkin masih ada. Tapi sampai sekarang saya belum dapat laporan dari lapangan."

Muhadjir mengatakan, laporan terkait adanya penyusup tersebut berasal dari kepolisian. Ia berkata, pihak kepolisian yang nantinya berwenang mengusut dan memproses hukum para penyusup dalam aksi demonstrasi tersebut.

Selain itu, polisi juga akan mengusut dugaan adanya kelompok atau individu, yang ingin memanfaatkan pelajar dalam berdemonstrasi.

Adapun soal pelajar yang ikut berdemonstrasi, kata Muhadjir, tak akan ada ancaman hukuman sanksi dari sekolah. Ia hanya memerintahkan Dinas Pendidikan memberi pengertian pada siswa agar tidak kembali ikut berdemonstrasi. 

Muhadjir berkata, sekolah juga akan menjalankan mekanisme klarifikasi siswa yang absen pada orang tuanya.

Menurutnya, sekolah tetap memiliki kewajiban untuk memastikan para siswanya tidak berada pada lingkungan membahayakan. 

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun