Ditunjuk Jadi Menteri, Wishnutama Siap Mundur dari Net TV

"Walaupun saya tidak bercita-cita jadi menteri, tapi untuk sebuah kebaikan bangsa kita, saya bersedia,"

BERITA | NASIONAL

Senin, 21 Okt 2019 13:34 WIB

Author

Dian Kurniati

Ditunjuk Jadi Menteri, Wishnutama Siap Mundur dari Net TV

Pendiri NET TV Wishnutama memberi hormat saat meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta-    Komisaris Utama NET Mediatama Televisi Wishnutama menyatakan bersedia menjadi menteri pada kabinet periode kedua Presiden Joko Widodo. Meski tak merinci kementerian atau lembaga yang akan ia tempati, Wishnutama memberi petunjuk pekerjaannya akan seputar kreativitas dan membuat acara berskala internasional, untuk mengerek devisa negara.

Menurut Wishunutama, jabatan menterinya akan diumumkan langsung oleh Jokowi.

"Kira-kira di bidang yang kemampuan saya lah. Teman-teman pasti tahu. Kira-kira untuk meningkatkan kemampuan kreativitas di Indonesia.  Lalu juga meningkatkan devisa. Bingung kan? Ya walaupun saya tidak bercita-cita jadi menteri, tapi untuk sebuah kebaikan bangsa kita, saya bersedia," kata Wishnutama di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (21/10/2019).

Wishnutama tak membenarkan atau membantah tebakan media soal jabatan Menteri Pariwisata dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif. Demikian pula saat disinggung wacana pembentukan lembaga baru untuk bidang kreatif tersebut.

Dalam pertemuan itu, kata Wishnutama, ia diminta Jokowi meningkatkan daya saing kreativitas Indonesia di mata dunia. Jokowi juga memintanya menciptakan acara-acara yang menarik, sehingga punya daya saing internasional. Ia optimistis bisa memimpin kementerian, meski tak punya pengalaman dalam birokrasi.

"Yang utama kan adalah niat baiknya dulu, semangatnya dulu," kata Wishnutama.

Permbicaraan antara Wishnutama dan Jokowi berlangsung sekitar satu jam. Meski sering bertemu Jokowi, kata Wishnutama, isu jabatan menteri baru dibicarakan hari ini. Ia juga bersedia melepas jabatannya sebagai Komisaris Utama di Netmediatama dan Kumparan, sebelum dilantik menteri oleh Jokowi. 

Selain Wishnutama, pagi ini Jokowi memanggil  sejumlah tokoh, di antaranya Bupati Minahasa Selatan Tetty Paruntu, Bekas Ketua MK Mahfud MD, praktisi televisi Wishnutama, Bos Gojek Nabiel Makarim,   eks-ketua Tim Kampanye Nasional Erick Thohir, dan Kapolri Tito Karnavian.

Profesionalitas

Dekan Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Erwan Agus Purwanto menyarankan Jokowi menekankan aspek profesionalitas pada menteri-menterinya di kabinet kerja periode 2019-2024. Ia mengungkapkan selain profesionalisme, Presiden Jokowi harus melibatkan generasi muda untuk menjadi di kabinetnnya.

"Menteri yang tidak hanya berwacana, membuat gaduh di media, narasi-narasi yang tidak jelas, tapi ini yang akan dicari presiden adalah menteri yang bisa bekerja. Saya kira kan salah satu yang nanti membedakan dengan menteri sebelumnya itu. Tadi di dalam pidato beliau kan juga mengatakan itu. Menteri tidak hanya sending, mengirim kebijakan, tetapi men-deliver, menyampaikan hasil-hasilnya itu kepada masyarakat," kata Erwan (20/10/2019).

Dekan Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Erwan Agus Purwanto mendukung rencana Jokowi untuk mempertahankan beberapa menteri dari periode sebelumnya. Misalnya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Karena selama ini mereka cukup profesional dan mampu menerapkan kebijakan dengan baik.

Ia melihat Jokowi lebih percaya diri pada periode pemerintahannya yang terbaru. Pengalaman pada periode sebelumnya membuat dirinya memiliki kebebasan yang lebih dalam menentukan kabinet yang akan mendukung kerjanya.

"Yang paling pokok tentu saja dari dukungan politik. Kalau di periode pertama dulu kan minoritas. Tapi ini beliau koalisi itu mayoritas. Sehingga dari sisi itu beliau punya keyakinan," ujarnya.

Terkait dengan rencana pemangkasan birokrasi tetapi ada pula niat untuk menambahkan beberapa wakil menteri, Erwan memperkirakan hal ini akan berdampak positif, salah satunya pada percepatan investasi.

"Untuk level pelaksana tentu dibutuhkan yang efektif dan efisien, tidak seperti sekarang birokrasi terlalu gemuk dan membuat tidak lincah dalam mendeliver kebijakan. Sementara kalau policy maker kan berbeda itu. Saya kira kalau ada menteri, wakil menteri itu bisa mempercepat proses policy making. Tetapi kemudian mesin birokrasinya diperbaiki," tuturnya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik

Hari Pneumonia Sedunia, Mari Cegah Pneumonia pada Anak

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14