Ini Sebab Kebakaran Hutan di Gunung Ciremai Sulit Dipadamkan

Api berkobar melalap hutan di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat sepanjang tiga hari ini sejak Minggu (30/9/2018).

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 02 Okt 2018 22:24 WIB

Author

Frans Mokalu

Ini Sebab Kebakaran Hutan di Gunung Ciremai Sulit Dipadamkan

Petugas BPBD Kabupaten Kuningan memadamkan api saat kebakaran melanda kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai, di Kuningan, Jawa Barat, Selasa (2/10). (Foto: ANTARA/ M Taufik)

KBR, Kuningan - Api berkobar melalap hutan di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat sepanjang tiga hari ini sejak Minggu (30/9/2018). Kebakaran yang melanda Desa Cibuntu dan Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan diperkirakan seluas lebih dari 100 hektare. Agar tak meluas ke wilayah Majalengka, petugas terus berupaya memadamkan api.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kuningan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, San Andre Jatmiko menerangkan, pada Senin (1/10/2018) kebakaran terjadi di ketinggian 500 Mdpl dengan medan bebatuan terjal. Kondisi tersebut menurutnya menyulitkan petugas dalam proses pemadaman.

"Angin cukup kencang sehingga api dengan cepat menjalar. Berpotensi mengarah ke perbatasan hutan di Majalengka," kata San Andre Jatmiko di Kuningan, Selasa (2/10/2018).

Penyebab kebakaran hutan di Gunung Ciremai itu belum diketahui. Hanya saja dugaannya ada beberapa faktor yang memengaruhi di antaranya angin kencang dan musim kemarau panjang serta kesalahan manusia.

"Yang terbakar alang-alang dan semak-semak kering. Kami belum bisa memastikan penyebabnya, tapi kemungkinan faktor manusia."

Hingga Selasa (2/10/2018) malam, api masih berkobar mengarah ke bawah dan ke atas hingga ketinggian lebih dari 1.000 meter. Tambahan pasukan bahkan dikirimkan ke lokasi kejadian.

"Api terbagi dua, ke atas sekitar 1.000 meter. Tadi barusan kita kirim petugas tambahan sebanyak 15 orang," tuturnya.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun