Asian Para Games 2018, Melongok Aksesibilitas Bagi Disabilitas

Pokja Disabilitas menilai, perhelatan Asian Para Games 2018 membuktikan upaya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas masih sangat jauh dari harapan.

BERITA

Jumat, 12 Okt 2018 18:05 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Asian Para Games 2018, Melongok Aksesibilitas Bagi Disabilitas

Butuh bantuan banyak orang agar pemakai kursi roda bisa melewati tangga curam Gelora Utama Bung Karno saat pembukaan Asian Para Games 2018, Sabtu (05/10/18). (Foto: KBR/Rony Sitanggang)

KBR, Jakarta- Usai menonton pertandingan cabang olahraga atletik Asian Para Games 2018, segerombol siswa sekolah luar biasa beserta para guru dan orang tua murid berfoto bersama di depan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Jam berkunjung telah selesai. Tepat di tengah hari, mereka lantas meninggalkan venue itu dan bersiap untuk pulang.

Di tengah perjalanan, terlihat ada salah satu siswa kesulitan berjalan. Anak yang memiliki keterbatasan fisik di bagian kaki itu tertinggal di barisan paling belakang sambil didampingi beberapa orang.

“Jalannya agak jauh,  gurunya   harus mendampingi. Kan dia tidak bisa jalan sampai jauh-jauh. Jadi harus istirahat sebentar,” ujar Sunarno salah satu guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Bina Bakti.

Tidak terlihat fasilitas dari Gelora Bung Karno (GBK)  atau relawan  yang memudahkan mobilitas penyandang disabilitas. Sunarno seperti berusaha menghibur diri. Kata dia,   tidak adanya fasilitas atau bantuan   karena  sekolah tidak mengomunikasikan keadaan anak ke panitia.

“Kebetulan untuk anak yang begitu, agak gitu ya. Tapi saya kira dari kami, kesalahan kami ya, karena kami tidak melaporkan tentang hal ini, kita tidak berpikir ke arah situ. Mungkin kalau kita melaporkan, ada fasilitas untuk (anak) itu,” jelasnya.

Memang tersedia jalur khusus untuk para pengunjung penyandang disabilitas menuju tribun di SUGBK. Namun, saat menyusuri jalur itu,  petunjuk arah menuju tribun khusus   sangat minim. Hanya terdapat satu petunjuk arah yang berada di dalam ruangan khusus untuk media yang juga merangkap dengan jalur bagi disabiltas.

Saat tiba di tribun penonton, tersedia tiga baris di paling depan yang dikhususkan untuk para penonton disabilitas. Untuk mencapai tribun penonton tersebut, pengunjung difabel bisa menggunakan fasilitas ramp, bidang miring pengganti tangga. Namun, ramp tersebut terbilang sangat curam untuk dapat diakses pemakai  kursi roda.

Siang itu, seorang pemakai kursi roda   ingin menuju ke tribun penonton. Ketika melewati ramp tersebut, ia tidak bisa menjalankan kursi rodanya sendiri. dibutuhkan tiga relawan  untuk mendorong kursi rodanya.

Masalah ramp ini pun dikeluhkan oleh Nova, seorang ibu yang memiliki anak yang menggunakan kursi roda.

“Tapi jangan yang curam-curam gitu. Tadi kan ada yang curam. Ya dibikin agak rendahan aja. Jadi akhirnya harus ada banyak orang yang bantu,” katanya.

Ia mengatakan, volunteer di area SUGBK ini berinisiatif menolong anaknya saat mereka tiba di venue itu. Namun, saat ia hendak pulang, ia mengatakan, volunteer tidak langsung menolong,  tetapi harus dimintai pertolongan terlebih dahulu.

“Tadi dibantu tapi terakhir pulangnya tadi kita yang teriak minta tolong. Mereka ga langsung gesit ya. Ga seperti yang baru datang, baru datang langsung mereka ambil. Tapi kalau pulangnya kami yang teriak minta tolong,” jelas Nova.

Sambil mendorong kursi roda anaknya menuju bus kunjungan, Nova mengatakan, aksesibilitas bagi para penyandang disabilitas sudah baik. Namun, ia berharap agar di setiap sudut pintu masuk dapat mudah dijangkau oleh anak berkebutuhan khusus yang menggunakan kursi roda. 

Koordinator venue SUGBK, Yanuar mengatakan, terdapat banyak volunteer  yang bertugas mengarahkan pengunjung menempati tribun. Sehingga, menurutnya, para penyandang disabilitas   juga akan diarahkan. Menurutnya, para volunteer di sini sudah tanggap dan membantu jika ada yang membutuhkan bantuan.

Salah satu pengunjung penyandang disabilitas dari Grobogan Jawa Tengah, Sunan, mengatakan bahwa volunteer di sini sangat membantu keberadaanya sebagai disabilitas. Ia juga memuji fasilitas-fasilitas khusus untuk para penyandang disabilitas. Salah satunya adalah ramp yang sudah tersedia pegangan di sisi kanan dan kirinya.

Namun, ia juga menilai terdapat ramp yang terlalu curam. Sehingga akan kesulitan ketika ia naik ataupun turun tanpa bantuan dari volunteer.

"Untuk yang plengsengan (ramp) tadi keliatannya itu terlalu curam dalam arti kalau turun ataupun naik kalaupun tidak ada volunteer atau teman yang membantu itu kurang begitu langsung gitu," ujar Sunan, yang menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.  

Salah satu volunteer Rafika Lutsianasari mengatakan, para volunteer tidak hanya fokus menangani atlet, tetapi juga pengunjung yang disabilitas.“Kita akan memberikan perhatian khusus untuk mereka, menolong mereka. Tapi sebelumnya kita pasti akan menawarkan dulu, apakah dia perlu bantuan, karena mereka sebenernya mampu untuk mandiri seperti itu kan,” katanya saat ditemui di venue Basket.

Saat menyusuri venue basket, jalan di sana tidak begitu rata dibandingkan dengan di venue lainnya, seperti di SUGBK, Istora, dan Akuatik. Di venue basket ini juga masih minim petunjuk jalan bagi para penyandang disabilitas. Sehingga, membutuhkan volunteer untuk mengarahkan mereka.

Aksesibilitas bagi penyandang disabilitas merupakan hal mendasar untuk penyediaan akomodasi yang layak agar para atlit, penonton, dan relawan disabilitas dapat menjalankan perannya masing-masing secara maksimal.

Pokja Implementasi UU Penyandang Disabilitas dalam siaran pers Jumat (12/10/2018) menyatakan, penyediaan aksesibilitas seharusnya sudah diupayakan sebelum pelaksanaan kegiatan bahkan sebelum tempat bertanding dibangun. Pokja menilai, Perhelatan Asian Paragames 2018  membuktikan  upaya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas masih sangat jauh dari harapan. 

Padahal aksesibilitas adalah kebutuhan mendasar sekaligus elemen paling utama yang menunjukan apakah penyelenggara berkomitmen kuat dalam melaksanakan event bagi penyandang disabilitas, atau sekadar menjadikan para penyandang disabilitas sebagai obyek.

Menurutnya, warga negara negara dengan disabilitas masih tidak setara di Indonesia. Pelaksanaan event internasional sekelas olahraga se-Asia masih menampilkan wajah stigma negatif dan aksesibilitas yang tidak terpenuhi, sehingga berujung kepada praktik diskriminasi terhadap penyandang disabilitas, termasuk para atlit, penonton, dan relawan.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Samoa Menetapkan Status Darurat Campak

Laporan Prakiraan Cuaca Sepekan Ke Depan Dari BMKG

Bakal Eksklusif, Masuk Pulau Komodo Mesti Pakai Membership?

Kabar Baru Jam 8