Warga Kulonprogo Tolak Pembangunan Bandara Internasional

Warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) Yogyakarta menolak pembangunan bandara internasional di lahan mereka. Pasalnya, lokasi pembangunan bandara baru merupakan tanah produktif, bukan lahan tidur.

BERITA

Rabu, 08 Okt 2014 14:37 WIB

Author

Antonius Eko

Warga Kulonprogo Tolak Pembangunan Bandara Internasional

Kulonprogo, Bandara Internasional

Warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) Yogyakarta menolak pembangunan bandara internasional di lahan mereka. Pasalnya, lokasi pembangunan bandara baru merupakan tanah produktif, bukan lahan tidur.


Juru bicara warga penolak bandara baru di Kulonprogo Yogyakarta, Martono mengatakan, segala macam sayuran bisa ditanam di sini. Bahkan ada yang jamu tradisional. 


Dia memastikan, para petani memiliki sertifikat atas lahan itu. Dia meminta rencana pembangunan ini dibatalkan. Berikut keterangan Martono dalam program Sarapan Pagi KBR. 


Seproduktif apa lahan pertanian yang akan dijadikan Bandara Yogyakarta di sana?


Lahan kami di pesisir selatan ini sangat produktif baik musim kemarau atau musim penghujan. Di sini ditanam apa saja bisa, apalagi sekarang ditemukan teknologi baru yaitu dengan cara teknologi infus. Kita tidak perlu mengairi pakai tenaga manusia cukup pakai infus itu sudah bisa mengairi lahan berhektar-hektar. 


Anda tadi katakan subur, berapa kali panen dalam setahun? musim kemarau masih bisa bercocok tanam ya?


Iya subur. Musim kemarau itu tidak berhenti karena kalau hujan tidak banjir kemarau juga tidak kering. Kalau semangka di sini setahunnya bisa tiga kali, kalau cabai satu kali panen. 


Selain semangka dan cabai apa lagi yang bisa ditanam di sana?


Segala macam sayuran bisa ditanam di sini. Bahkan ada yang jamu tradisional, daun dewa dikembangkan di sini. 


Daun dewa ini andalan di Kulonprogo? 


Iya andalan baru. 


Itu lahan yang rencananya dibangun bandara ini berapa persen lahan untuk daun dewa?


Ini tumpang sari saja jadi di pinggiran cabai ditanami itu. 


Berapa luas lahan pertanian yang akan terancam atau tergantikan fungsinya jika ini terbangun? 


Dari 600an hektar itu yang milik warga, 20 persennya milik Paku Alam Ground. Tapi yang menolak rencana pembangunan bandara ini adalah warga yang terdampak langsung, artinya warga yang kena tanah pertaniannya dan rumah huni juga sawahnya. 


Jadi dipastikan lahan ini milik petani ya? 


Iya karena lahan kami bersertifikat dan itu pun kalau pemerintah mengacu pada produksi pangan mestinya lahan yang bukan lahan produktif. Kami kan hidupnya dari situ.   


Berapa warga yang terancam akibat rencana ini? seumpama ini jadi dilakukan berapa warga yang terancam penghidupannya akibat proyek ini?


Sebetulnya yang terancam sekali itu asli petani walaupun satu dua orang terdampak langsung tapi kalau bukan petani condong tidak mempermasalahkan. Yang masuk WTT (Wahana Tri Tunggal) itu sudah 600 KK. 


Sudah coba dialog dengan gubernur?


Kemarin dari perwakilan gubernur hanya bisa menampung karena gubernur belum bisa ketemu warga. 


Tuntutannya apa?


Kita minta dibatalkan. Tolong cari lahan yang tidak subur, ibarat kita punya emas lima batang jangan mau menambah enam tapi sebetulnya menimbun emas yang lainnya kan sama saja tidak meningkat bahkan menurun. Karena sudah ada lahan bagus malah ditutup itu merugikan semuanya. 


Anda sendiri dan warga sekitar apakah membutuhkan bandara?


Warga kita tidak butuh bandara. Ini bandara internasional, itu investor asing yang punya hajat. 


Upaya selanjutnya apa dalam waktu dekat? 


Harus kita ketemu gubernur untuk menyampaikan aspirasi penolakan ini. Supaya bapak gubernur tahu sendiri keluhan warga, jadi tidak hanya informasi dari media atau anak buahnya. 


Kapan itu akan dilakukan?


Menunggu jadwal dari sana. Karena kemarin waktu kita audiensi kemarin kita sepakat menunggu kapan gubernur bisa menemui kita, tentu secepatnya. 


Ada langkah-langkah hukum yang akan ditempuh?


Ini sudah mempersiapkan pakai LBH dan dalam waktu dekat ini kita akan menyurati investor dari India itu lewat email atau apa. Minggu-minggu ini kita akan layangkan surat keberatan warga dibangunnya bandara oleh investor India itu. 



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme