Pemprov Maluku: Campak dan Busung Lapar Bukan Hanya Masalah Kesehatan

Untuk jangka menengah, pemerintah daerah akan meluncurkan program pemberdayaan masyakarat untuk meningkatkan sosial ekonomi masyarakat.

BERITA

Senin, 13 Okt 2014 13:08 WIB

Author

KBR

Pemprov Maluku: Campak dan Busung Lapar Bukan Hanya Masalah Kesehatan

Aru, busung lapar, campak, ekonomi, gizi buruk

KBR, Jakarta - Kondisi anak-anak di Desa Tunguwatu, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku sangat memprihatinkan. Dalam enam hari 12 anak meninggal akibat campak  dan sebagian anak juga dalam kondisi gizi buruk atau busung lapar.

Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Pemprov Maluku John Hursepunny mengatakan sebagai langkah awal mengatasi masalah ini Kabupaten Kepulauan memberikan bantuan makanan sampai 6 bulan ke depan. Untuk jangka menengah, pemerintah daerah akan meluncurkan program pemberdayaan masyakarat untuk meningkatkan sosial ekonomi masyarakat.

Berikut perbincangannya dalam Program Sarapan pagi KBR (9/10).

Mengapa busung lapar terjadi di sana?

“Saya juga baru koordinasi dengan camat setempat. Jadi terkait di desa Tunguwatu ini kecamatannya di Pulau-Pulau Aru, di Maluku memang karakteristiknya daerah pulau-pulau kecil ya itu memang salah satu kendalanya transportasi. Jadi mengenai kejadian di sana apalagi kemarin ada kejadian campak yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa karena ada delapan yang meninggal dan beberapa yang dirawat.”

“Kondisi terakhir (8/10) dilaporkan menurut laporan camat, bahwa dari puskesmas menyampaikan laporan ada sekitar 20 persen itu anak-anak di sana terkena kurang gizi, busung lapar. Karena kondisi desanya di situ sendiri sosial ekonominya sangat lemah dan lingkungannya sangat jelek sehingga berdampak kejadian baik itu campak maupun yang terakhir ini ada beberapa kejadian busung lapar.”

Ada 12 korban meninggal. Kalau menurut pemda sendiri saat ini berapa korban dan dari 20 persen yang mengalami busung lapar itu berapa total warga di Pulau-Pulau Aru?

“Kalau untuk campak laporan yang disampaikan dari camat itu delapan orang. Memang tadi malam (8/10) katanya ada satu yang meninggal tetapi bukan di desa Tunguwatu, tapi di desa sebelahnya. Kalau untuk yang busung lapar saya belum tanya 20 persen dari berapa jiwa, belum bisa saya sampaikan.”

Ini ada kaitannya dengan kondisi kemarau di sana?

“Iya ini salah satu penyebab karena kekeringan. Karena kemarau sehingga berpengaruh terhadap kondisi lingkungan yang buruk. Saya kira ini yang sudah dilakukan langkah-langkah oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, artinya untuk kejadian busung lapar dan juga kejadian campak sudah ditangani lebih awal.”

“Tim bersama juga akan turun ke sana untuk menyelesaikan atau melaksanakan tanggap darurat atau langkah-langkah awal ada dinas sosial dan dinas kesehatan. Ini bukan hanya masalah kesehatan, soal busung lapar atau campak tapi ini bagian dari seluruh tanggung jawab dinas terkait untuk menyediakan sarana dan prasarananya.”

Langkah pemprov seperti apa?


“Pemprov tetap akan mem-backup itu. Tetapi sementara ini Kabupaten Kepulauan Aru untuk kejadian busung lapar ini telah dilakukan bantuan makanan yang diperuntukkan sampai 6 bulan ke depan. Tetapi bukan hanya itu, dalam jangka menengah akan dilakukan program pemberdayaan karena ini yang sangat penting.”

“Bukan hanya kita memberikan bantuan makanan tapi kita harus membuat program pemberdayaan sehingga betul-betul masyarakat diberdayakan untuk bisa meningkatkan sosial ekonominya.”

Apakah ini juga terkait banyaknya peralihan lahan perkebunan dari sagu menjadi tebu dan sawit?

“Saya kira belum sampai disitu. Tetapi pola makan di sini sudah sangat beragam, kalau sekarang bukan bilang makanan pokoknya sagu tapi sekarang beras. Mungkin yang sagu, umbi-umbian itu juga keanekaragaman yang mereka konsumsi tapi bukan makanan pokok.”        

(Baca juga: Kemenkes Terjunkan Tim Pantau Busung Lapar di Kepulauan Aru)



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Modus Baru, JAD Gunakan Racun untuk Aksi Teror

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Waspada Beragam Modus Perdagangan Orang

Kabar Baru Jam 13