Bekasi Berkembang Tanpa Arah

tingkat kenyamanan di Bekasi makin berkurang. Ruang terbuka hijau juga makin kritis. Bekasi telah berkembang tanpa arah.

BERITA

Rabu, 15 Okt 2014 18:13 WIB

Author

Antonius Eko

Bekasi Berkembang Tanpa Arah

bekasi

Hampir sepekan terakhir, Kota Bekasi menjadi trending topic di media sosial. Warga Bekasi menuntut Walikota Rahmat Effendi memperbaiki tata kota.  Pembangunan di Bekasi berkembang sangat pesat saat ini, namun tidak terkontrol hingga terasa sesak.


Menurut pengamat tata kota Yayat Supriyatna, tingkat kenyamanan di Bekasi makin berkurang. Ruang terbuka hijau juga makin kritis. Bekasi telah berkembang tanpa arah. Berikut pernyataan Yayat kepada KBR


Kalau melihat kondisi Kota Bekasi apakah bisa dikatakan layak huni untuk warganya?


Sebetulnya adanya protes-protes warga melalui media sosial menunjukkan bahwa tingkat kenyamanan Bekasi jauh berkurang. Karena sebuah kota yang nyaman itu ketika kota mampu membuat warga merasa eksis di kotanya. 


Ini seakan-akan mereka malu untuk mengaku sebagai orang Bekasi karena kesan kota semakin membuat mereka tidak terlayani maksimal. Bisa dikatakan Bekasi itu kota metropolitan dari aspek kependudukan, dia dengan 2,6 juta penduduk dengan luas wilayah hampir 21 ribu hektar. 


Sementara kepadatan tertinggi ada di satu kecamatan di Bekasi Utara itu per kilometer perseginya sampai 17 ribu ini menunjukkan sudah begitu padatnya Bekasi. Jadi wajarlah kalau kota semakin panas karena hampir sebagian besar wilayah Bekasi sudah menjadi ruang terbangun, 


sementara RTH (Ruang Terbuka Hijau) makin krisis ujung-ujungnya ya wajar kalau udara panas membuat mereka berteriak merasa kota tidak nyaman untuk mereka tempati. 


Bekasi sebagai kota penyangga dan banyak zona industri. Apa yang perlu diperbaiki jika banyak pembangunan di sana sementara mengorbankan RTH? 


Kemarin saya bicara dengan walikota Bekasi. Pertama jelas Bekasi ini sepertinya berkembang tanpa arah, dalam konteks ruang kota itu lebih banyak didikte oleh pengusaha atau pengembang. 


Jadi ada kecenderungan pemerintah kota sepertinya tidak mampu mengendalikan tingka hedonisme kebutuhan dari para investor untuk menguasai, bahkan mengokupasi ruang-ruang yang sudah demikian padat. 


Misalnya di pintu keluar Tol Barat Bekasi itu menunjukkan betapa kawasan itu sudah demikian padat dengan berbagai mal, hotel, pusat-pusat kegiatan, dan terkonsentrasi di kawasan tersebut. Sementara bisa dikatakan itu adalah pintu masuk dan keluarnya Bekasi. 


Jadi benturan antara pergerakan transportasi di dalam wilayah dengan kegiatan dari luar wilayah Bekasi yang membuat kondisi kawasannya semakin semrawut. Menjadi lebih parah lagi saat ini di Bekasi ada 1,2 juta kendaraan bermotor, sementara penduduknya ada 2,6 juta. 


Mungkin 40 persen rata-rata orang Bekasi menggunakan mobilitas sehari-hari dengan kendaraan pribadi. Ini menunjukkan jumlah kendaraan yang demikian banyak di Bekasi tidak sebanding dengan rasio jalannya, jalan tidak banyak bertambah jadi otomatis kepadatan semakin bertambah parah. Kondisi ini diperparah lagi hampir 60 persen orang Bekasi bekerja di Jakarta, bisa dikatakan separuh hati orang Bekasi ada di Jakarta.        


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Cegah Penyebaran Covid-19, WHO Dukung Kebijakan Penggunaan Masker untuk Semua Orang

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Wabah Corona

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18