Walhi Kaltim: Kota Balikpapan Berhasil Kelola Sampah Bukan Emisi Gas Rumah Kaca

KBR68H, Jakarta - Kota Balikpapan dan Bogor masuk dalam 1.200 kota rendah emisi dan ramah lingkungan di dunia. Juru bicara Pemerintah Kota Balikpapan Sudirman Djayaleksana mengatakan, penilaian diberikan lembaga Internasional Council for Local Environment

BERITA

Senin, 21 Okt 2013 10:36 WIB

Author

Doddy Rosadi

Walhi Kaltim: Kota Balikpapan Berhasil Kelola Sampah Bukan Emisi Gas Rumah Kaca

walhi kaltim, kota balikpapan, ramah lingkungan

KBR68H, Jakarta - Kota Balikpapan dan Bogor masuk dalam 1.200 kota rendah emisi dan ramah lingkungan di dunia. Juru bicara Pemerintah Kota Balikpapan Sudirman Djayaleksana mengatakan, penilaian diberikan lembaga Internasional Council for Local Environmental Initiatives (ICLEI) bekerjasama dengan Uni Eropa.

Balikpapan dan Bogor akan dibantu dalam perencanaan dan pengembangan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan dan rendah emisi menuju Kota Lestari. Rencananya November mendatang 1.200 kota tersebut akan bertemu di Afrika Selatan.

Layakkah kota Balikpapan dinobatkan sebagai kota rendah emisi dan ramah lingkungan? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Rumondang Nainggolan dengan Direktur Walhi Kalimantan Timur, Isal Wardhana dalam program Sarapan Pagi.

Anda melihat apakah Balikpapan layak masuk kategori kota rendah emisi?

Sebenarnya yang harus dilihat ini adalah penilaian dari mana dia mendapatkan indikator-indikator bahwa Balikpapan itu rendah emisi. Salah satunya pengelolaan sampah , Balikpapan memang lebih bagus dengan beberapa kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Timur dan ini memang agak sedikit panjang perjuangan masyarakat Balikpapan untuk bagaimana bisa membuat kota ini nyaman dan bersih untuk ditinggali. Tapi yang harus diingat kalau bicara emisi tidak hanya sampah sebenarnya, ada hal-hal lain yang memang itu berhubungan dengan tingkat emisi GRK (Gas Rumah Kaca). Kalau dilihat dari pertumbuhan kendaraan Balikpapan itu masuk nomor dua setelah Samarinda yang paling banyak kendaraan. Katakanlah tahun 2009 Balikpapan itu ada sekitar 324.000 unit kendaraan, kemudian dengan pertumbuhan kendaraan baru sekitar 35.000 unit per tahun itu tahun 2013 sudah ada sekitar 464.000 unit. Itu kalau dilihat dari pertumbuhan baru belum lagi bicara mengenai kendaraan-kendaraan mutasi dari luar daerah, sementara untuk panjang jalan kita hanya punya sekitar 418 kilometer.
 
Artinya apa?

Artinya tingkat kemacetan termasuk tinggi ya nomor dua setelah Samarinda. Kalau misalkan tingkat pertumbuhan kendaraan sudah banyak per tahun itu menandakan emisi yang dikeluarkan kota Balikpapan itu lebih tinggi karena sudah buang emisi kendaraan. 


Anda mengatakan bahwa penilaian dari ICLEI ini tidak komprehensif?


Itu yang harus dilihat dari mana mereka menilai indikator-indikator bahwa Balikpapan itu rendah emisi. Kalau hanya dilihat dari sisi misalkan sampah mungkin iya tapi harus dilihat dari sisi lain, katakanlah bicara mengenai lahan kota dalam konteks penggunaan secara status itu memang untuk daerah kawasan lindung termasuk hutan kota itu banyak yang belum secara status lahan persentasenya sekitar 70 persen bahwa itu adalah kawasan lindung. Kemudian hanya sekitar 5.500 hektar saja yang kemudian kawasan itu terbangun. Artinya kalau dilihat dari status kawasan iya persentase besaran status kawasan, tapi kalau dilihat dari tingkat kerusakan itu lumayan juga.

Anda menyinggung pengelolaan kawasan, Balikpapan ini pemerintah daerahnya mengklaim bahwa mereka sudah bisa menerapkan 52 – 48, artinya 52 persen untuk ruang hijau dan 48 untuk pembangunan. Tanggapan anda?

Iya betul. Tapi kalau bicara mengenai tingkat kerusakan lumayan juga, artinya kawasan-kawasan yang ditetapkan oleh pemkot bahwa itu adalah Ruang Terbuka Hijau itu sekarang sebenarnya terancam juga. Misalnya di Kariangau, kawasan Kariangau itu adalah hutan bakau, kemudian dengan kebijakan pemerintah pusat dengan MP3EI itu dikorbankan menjadi kawasan industri. Kemudian bicara mengenai kawasan hutan yang ada di Balikpapan, kalau bicara mengenai 20 lokasi hutan kota itu sekitar 200 hektar sudah dirambah berbagai macam pihak.

Jadi kita jangan terbius dengan penilaian bahwa Balikpapan ini termasuk kota rendah emisi di dunia?

Itu yang mau saya ingatkan sama pemkot, bahwa penghargaan itu jangan membuat pemkot ini terlalu bangga. Karena tantangan kota ini lebih besar, Balikpapan ini dia kota yang memang diciptakan untuk sektor jasa dan juga dilihat dari pertumbuhan penduduknya kita lebih dahsyat. Artinya Balikpapan sekarang penduduknya sekitar 665.000 jiwa itu perhitungan tahun ini, kalau dilihat dari pertumbuhan pendatan itu lebih tinggi dari Singapura. 


Balikpapan dinilai mampu menerapkan pola 52 – 48 tapi anda mengatakan realisasinya di lapangan tidak seperti itu. Kalau di lapangan sebenarnya berapa persen untuk Ruang Terbuka Hijau dan berapa persen untuk pembangunan yang diamati oleh Walhi? 


Maksud saya secara status hitungannya iya 52 – 48. Tapi di 52 persen RTH itu ada spot-spot yang memang rusak, misalkan kawasan industri Kariangau itu dipakai untuk proyek MP3EI. Kualitas kawasan itu yang kemudian berkurang, kalau hitung-hitungan angka itu kuantitas tapi kualitas kawasannya yang berkurang. Kemudian karena akan dibangun jalan tol 8 kilometer membelah itu juga mengurangi kualitasnya hutan lindung sungai Manggar, dalam hal ini hutan kota. Itu maksud saya dengan pengurangan kualitas, bukan kuantitas secara angkanya. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17