Bagikan:

Terlalu Banyak Tekanan, Film Dokumenter Hillary Clinton Batal Diproduksi

KBR68H- Film dokumenter bekas Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Clinton Hillary batal diproduksi. Sang sutradara, Charles Ferguson mengaku alasan pembatalan tersebut karena banyaknya campur tangan politik.

BERITA

Selasa, 01 Okt 2013 08:55 WIB

Terlalu Banyak Tekanan, Film Dokumenter Hillary Clinton Batal Diproduksi

Film Dokumenter, Hillary Clinton, CNN, Charles Ferguson

KBR68H- Film dokumenter bekas Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Clinton Hillary batal diproduksi. Sang sutradara,  Charles Ferguson mengaku alasan pembatalan tersebut karena banyaknya campur tangan politik. Dalam blognya di situs Huffington Post, Charles Ferguson mengatakan, tekanan dari pendukung Hillary di Partai Demokrat membuat sejumlah narasumber lain menolak bicara.

Agustus lalu, Partai Republik mengancam memboikot debat di CNN jika program tersebut terus jalan. Republik juga akan memboikot NBC yang berencana membuat miniseri tentang Clinton yang dibintangi Diane Lane.

"Ketika saya mendekati orang untuk wawancara, saya menemukan bahwa tak seorang pun  tertarik membantu saya membuat film ini.  Setelah merenung dengan menyakitkan, saya memutuskan tidak bisa membuat film yang saya akan banggakan. Saya batalkan ( Bukan karena tekanan dari CNN - justru sebaliknya ),"jelasnya.

"Ini adalah kemenangan bagi Clinton, dan untuk mesin uang kedua partai politik. Tapi saya tidak berpikir bahwa itu adalah kemenangan bagi media atau bagi rakyat Amerika."

Sebelumnya, Komite Nasional Republik ( RNC ) menuding film Clinton tersebut  tak lebih dari iklan yang mempromosikan Clinton dan iklan politik yang bertopengkan hiburan. Clinton yang sebelumnya bersaing dengan Obama untuk menjadi Calon Presiden Demokrat, digadang-gadang akan kembali melaju pada 2016 mendatang.

Sejauh ini, CNN belum berkomentar tentang pembatalan proyek tersebut. (BBC)

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Berliku Warga Ibu Kota Dapatkan Udara Bersih